Posted by: Admin | June 27, 2013

Memanggilnya Pulang


Memanggilnya Pulang

Malam itu aku dan kedua anakku duduk di meja makan untuk menyantap makan malam bersama. Semuanya tampak tenang, masih terdengar juga senda gurau anak-anakku, Ami yang tertua usia 16 tahun dan Riri si bungsu berusia 14 tahun.
     “Ma..” Tiba-tiba si sulung menyapaku.
     “Maukah mama, mulai malam ini berdoa bersama kami?” Tanyanya ragu-ragu. Cukup heran juga mendengar permintaannya. Memang kami tidak pernah khusus menyediakan waktu untuk berdoa bersama, namun sesekali kami masih beribadah bersama.
     “Kita berdoa bersama agar papa kumpul kembali bersama kita.” Lanjut Ami. Hah? Aku terkejut mendengar permintaan anakku. Dan tampaknya, ini adalah sesuatu yang sudah mereka berdua bicarakan dan sepakati.
Sudah dua tahun suamiku meninggalkan aku dan anak-anak. Saat itu kami memang selalu bertengkar hebat akibat ulah suamiku yang selalu mementingkan orang lain. Setiap ada uang, ia selalu mendahulukan untuk berkumpul dengan teman-temannya ataupun membagi-bagi uang pada kenalannya juga pada saudara-saudaranya. Saat anak-anakku butuh membayar uang sekolah,  suamiku malah membelikan TV untuk seorang kenalannya. Bahkan untuk membantu seorang temannya yang sakit, suamiku bersikeras meminta uang tabunganku, padahal uang itu adalah uang yang kusimpan untuk membayar uang pangkal Ami masuk SMU. Saat benar-benar tidak punya uang, ia juga tak sungkan meminta uang jajan anak-anakku. Terakhir, aku mengusirnya dengan perasaan yang hancur tak terkira saat kudapati suamiku mencuri uangku untuk membelikan temannya sebuah handphone. Ia pergi keluar rumah dan sejak itu tidak pernah kembali lagi.
     “Hidup kita sekarang jauh lebih baik dan lebih tenang. Mengapa kalian mau papa kembali?” Tanyaku bingung.
     “Supaya keluarga kita bisa kembali utuh.” Jawab Ami.
     “Katanya kita harus berdoa untuk perdamaian dunia. Kenapa tidak berdoa untuk perdamaian keluarga kita sendiri?” Tiba-tiba Riri berseloroh. Oh! Berat sekali topik makan malam hari ini. Mengapa menjadi membahas perdamaian dunia?
     “Dulu kita sudah tahu bagaimana rasanya tinggal dengan papa. Kalian sendiri sering menangis karena ulah papa. Kalian masih mau menerimanya?” Tanyaku masih merasa heran.
     “Itulah mengapa kita harus memanggil papa pulang dengan doa.” Jawab Ami.
     “Dengan doa?” Nadaku mulai meninggi.
     “Sebab jika Tuhan menjawab doa kita.. Tuhan akan mengembalikan papa lengkap dengan hati yang baru.” Jawab Riri polos dan penuh keyakinan.
     “Kalian akan kecewa jika Tuhan tidak menjawab doa kita.” Ujarku sedih.
     “Tidak! Kami tidak akan kecewa, Tuhan akan berikan yang terbaik. Tapi, kita tidak boleh putus berharap.” Sahut Riri. Akhirnya, aku sepakat untuk berdoa bersama mereka. Itu kulakukan karena permintaan anak-anakku yang amat kusayangi. Entahlah, apakah Tuhan akan mengabulkan doa kami yang satu ini? Namun aku bersyukur, Tuhan menganugerahi anak-anak yang baik hati padaku.
Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM

Principal of Yemayo Advance Education Center – Kursus Kecerdasan Pribadi Pertama di Indonesia untuk usia 2 s.d 19 tahun


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: