Posted by: Admin | October 19, 2012

KABUR DARI RUMAH SAKIT


KABUR DARI RUMAH SAKIT

Persembahan dari MAKING LIFE BETTER
Pak Lurah kabur dari ruah sakit setelah mendengar hasil diagnosa para ahli medis. Dokter sudah memberikan fonis kepadanya sebagai penderita gagal ginjal. Oleh karenanya ia harus menjalani cuci darah dua kali seminggu. wajahnya pucat, badannya sedikit bengkak, matanya kabur dan jalannya agak goyah. Jujur saja sebagai seoang lurah yang gajinya tidak sebanyak bupati. ia meras

a tidak sanggup membayar ongkos rumah sakit. Untuk beaya hidup keluarganya saja pas pasan, bagaimana ia bisa membiayai ongksos cuci darah dan lain lainnya. Maka ia membuat keputusan nekad. Ia kabur dari rumah sakit, dalam keadaan yang masih belum sehat. Ia mengaku kadar gula darahnya 850, makanya ia tidak bisa membaca lagi. Ia kabur dari rumah sakit karena ingin mencari keajaiban ilahi diluar medis.

Tentu bukanlah sebuah kebetulan kalau kemarin malam saya bertemu dengan aparat desa ini di rumah makan Khayangan, Citra Land-Surabaya. Sambil mendengarkan sebuah lagu “Tanjung Perak”, para pengamen specialis lagu keroncong itu memberi salam kepada pak lurah secara khusus, rupanya ia sangat dikenal oleh warganya. Tanpa basa basi saya langsung menawarkan doa untuk kesehatan pak lurah. Meskipun ia bukan pengikut Kristus, ia sangat senang mendapatkan tumpangan tangan dan doa secara khusus. Tidak lupa saya memberikan dua buah buku untuk dibaca. Salah satunya adalah “Salon Kecantikan Jiwa”. Namun sayang matanya sudah kabur, ia harus membawa kaca pembesar untuk membaca. Nampaknya doa kesembuhan itu telah menjamah hatinya secara khusus. Airmata itu menetes mebasahi pipinya.

Apakah sebuah kebetulan malam itu kami dipertemukan? Tidak ada istilah kebetulan dalam kamusnya Tuhan. Yang ada adalah ‘divine appointment’, semua sudah diatur dari surga. Meja makan itu berubah menjadi ‘life group’ atau kelompok sel. Sambil menikmati nasi putih dan sambel pete, diskusi kehidupan pun dimulai. Kehidupan ini terkadang seperti sambal, kelihatannya pedas tetapi bisa dinikmati, yang penting akhir hidup ini kalau bisa meninggalkan jejak yang harum untuk anak cucu.” Jangan seperti sambel pete, enak di mulut tetapi tidak enak di hidung. Kalau bisa marilah kita mati terhormat. Tiba tiba pembicaraan berfokus pada masalah hidup dan mati. Orang baru menyadari betapa berharganya hidup setelah punya pengalaman sekarat mau mati. Hidup yang singkat ini menjadi begitu berharga untuk dihidupi. Diumur yang ke 51, pak lurah mulai menyadari betapa pentingnya melakukan sesuatu yang memiliki nilai kekal.

Sambil menyelesaikan hidangan ala Jawa Timur, saya teringat pertanyaan Yakobus “sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Arti hidup hanya bisa ditemukan saat kita bisa menggunakan hidup untuk memberi arti pada orang lain. Benarlah kata orang bijak yang berbunyi “We make a living by what we get, but we make a life by what we give”
Mungkin respon yang paling baik untuk mengahadapi kenyataan bahwa hidup ini singkat adalah Mamur 90:12 “Ajarlah kami menghitung hari- hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” Pak lurah bisa kabur dari rumah sakit, tetapi ia tidak bisa kabur dari kenyataan bahwa hidup ini singkat seperti orang yang singgah minum.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: