Posted by: Admin | July 18, 2012

Renungan: Merokok Menurut Alkitab?


Gak Boleh Merokok? Kenapa yach????
Adakah Larangan Merokok Dalam Alkitab? Jika memang ada, tunjukkan ayatnya kepada saya.

Sekarang mari kita perhatikan kalimat ini: “Sungguhpun kejahatan manis rasanya di dalam mulutnya, sekalipun ia menyembunyikannya di bawah lidahnya, menikmatinya serta tidak melepaskannya, dan menahannya pada langit-langitnya, namun berubah juga makanannya di dalam perutnya, menjadi bisa ular tedung di dalamnya. Harta benda ditelannya, tetapi dimuntahkannya lagi, Allah yang mengeluarkannya dari dalam perutnya. Bisa ular tedung akan diisapnya, ia akan dibunuh oleh lidah ular.” (Ayub 20:12-16).

Apakah yang sedang dibicarakan oleh ayat-ayat tersebut? Dengan menggunakan analogi ‘bisa ular tedung/kejahatan yang manis’ dan menceritakan proses dan akibat dari menikmatinya, Tuhan sebenarnya sedang berkata: “NO SMOKING!”

Pertanyaan dan pernyataan ini sering diajukan oleh para perokok untuk mendapatkan pembenaran atas tindakan mereka karena yakin bahwa sesungguhnya Alkitab tidak secara spesifik melarang orang percaya untuk merokok. Faktanya memang tidak ada kalimat “jangan merokok” di dalam Alkitab, tidak seperti larangan untuk membunuh, mencuri, berdusta, dll. yang secara ekspilit terdapat di beberapa bagian dalam Alkitab.

Biasanya para perokok menanggap bahwa para pendeta dan mereka yang anti rokok hanya memakai ‘ayat-ayat karet’ (seperti dalam bidang hukum, ada istilah ‘pasal karet’) yang menurut mereka penafsirannya dapat disesuaikan dengan kepentingan seseorang, misalnya 1 Kor. 3:16.

Tapi, benarkah tidak ada larangan merokok dalam Alkitab? Bisakah Tuhan yang Mahatahu itu ‘khilaf’ ketika mengilhami para penulis Alkitab sehingga larangan merokok tidak tercantum dalam Alkitab?

Satu hal yang kita harus sadari adalah bahwa sekalipun Alkitab itu relevan sampai kapan pun, tetapi Alkitab ditulis dalam konteks budaya, ekonomi, politik, bahasa dan segala sesuatu yang berhubungan dengan daerah atau zaman ketika suatu kitab dalam Alkitab ditulis. Hal lain yang juga harus kita pahami adalah bahwa dalam membahas sesuatu, Alkitab seringkali memakai bahasa nubuatan atau juga tipologi-tipologi yang harus dapat kita tafsirkan dan berusaha memahaminya menurut konteks zaman sekarang.

Perhatikan bagaimana Alkitab membahasakan peluru kendali dengan ‘panah api’ (Ams. 26:18; Yes. 50:11), penyakit AIDS, Ebola, SARS, flu burung, flu babi dan berbagai wabah penyakit lainnya dengan sebutan ‘penyakit sampar’ (Mzm. 91:6), atau tank/panser dan pesawat tempur dengan ‘belalang perang’ (Why. 9:7-10). Cobalah juga untuk memahami apa yang dimaksudkan Alkitab dengan “…sekalipun mereka naik ke langit…” (Am. 9:2), “…sekalipun sarangmu ditempatkan di antara bintang-bintang” (Ob. 4), atau “Dan orang-orang dari segala bangsa dan suku dan bahasa dan kaum, melihat mayat mereka tiga setengah hari lamanya” (Why. 11:9). Setujukah anda jika saya mengatakan bahwa sebenarnya Alkitab sedang membicarakan tentang penjelajahan luar angkasa dan kecanggihan satelit yang ‘baru’ dikenal dunia pada abad ke 20?

Itu hanyalah sedikit contoh bahwa Alkitab sebenarnya telah sejak lama menginformasikan kepada kita tentang banyak hal yang menurut kita ‘baru’ (band. Pkh. 1:9-10). Tentu saja Tuhan tidak mau membuat orang-orang di masa Alkitab ditulis menjadi bingung dengan istilah tank, pesawat, rudal, stasiun luar angkasa, satelit, AIDS dan lain sebagainya. Itulah sebabnya Tuhan memakai ‘istilah’ yang dapat dipahami oleh orang-orang pada masa itu.

Sekarang mari kita perhatikan kalimat ini: “Sungguhpun kejahatan manis rasanya di dalam mulutnya, sekalipun ia menyembunyikannya di bawah lidahnya, menikmatinya serta tidak melepaskannya, dan menahannya pada langit-langitnya, namun berubah juga makanannya di dalam perutnya, menjadi bisa ular tedung di dalamnya. Harta benda ditelannya, tetapi dimuntahkannya lagi, Allah yang mengeluarkannya dari dalam perutnya. Bisa ular tedung akan diisapnya, ia akan dibunuh oleh lidah ular.” (Ayub 20:12-16).

Apakah yang sedang dibicarakan oleh ayat-ayat tersebut? Dengan menggunakan analogi ‘bisa ular tedung/kejahatan yang manis’ dan menceritakan proses dan akibat dari menikmatinya, Tuhan sebenarnya sedang berkata: “NO SMOKING!”

Dikutip dari http://www.gpdiworld.us/content/no-smoking


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: