Posted by: Admin | November 10, 2011

Renungan Keluarga


Renungan Keluarga

Filed under: Renungan – Administrator @ 3:23 am

 

Jika Bapak Tak Sanggup Mencintaiku

Walau tidak terlalu dekat mengenalnya, sebenarnya sudah cukup lama saya mengenal teman saya yang satu ini, seorang pria baik yang berhasil di dalam usahanya dan memiliki keluarga yang harmonis. Sampai suatu hari di suatu pertemuan dari pembicaraan biasa akhirnya ia berbicara mengenai ayahnya.

     “Menurutmu, apakah ada orangtua yang tidak mencintai anaknya?” Tanyanya.
     “Kalau pertanyaan itu ditanyakan padaku 20 tahun yang lalu sebelum aku berkecimpung di dunia keluarga, aku akan menjawab ‘tidak ada’. Tapi sekarang, aku harus menjawab ‘ya’ memang ada saja segelintir orangtua yang tidak mencintai anaknya.” Jawab saya.
     “Dan segelintir orangtua itu, termasuk bapakku di dalamnya.” Katanya.
     “Maksudnya?” Tanya saya agak kaget.
     “Ibuku hamil di luar nikah saat mengandung aku. Saat itu bapakku masih sekolah dan terpaksa berhenti sekolah untuk menikahi ibuku. Ia mau bertanggungjawab, tapi ia selalu melihat diriku sebagai kebodohan terbesarnya… Dan sampai mati pun, ia tidak bisa melepaskan pandangan kebodohan dirinya dari diriku.” Terang teman saya.
     “Perlakuan bapak terhadap aku dan dua adikku sangat berbeda. Setiap kali aku bicara, bapak akan menjauh atau bapak akan mengalihkan pembicaraan atau bapak akan membuang muka. Dari kecil aku mengalami hal itu… Syukurnya, aku bukan pribadi yang penyerah, aku tidak pernah iri dengan saudara-saudariku. Dan aku juga beruntung memiliki ibu yang sangat sayang padaku. Ia tahu benar perlakuan bapak terhadapku, jadi ibuku selalu menghiburku. Ibuku tidak pernah menjelekkan bapak, ia tetap meminta aku menghormati bapak.” Lanjutnya lagi.
     “Mungkin itu hanya asumsimu saja. Pernahkah kau bertanya pada bapakmu untuk menjernihkan asumsimu?” Tanya saya. Pertanyaan saya disambut dengan senyum singkat oleh temanku itu.
     “Sebelum bapak meninggal, ia memanggilku, minta bicara empat mata… Bapakku berkata, bapak minta maaf atas perlakuan bapak padamu. Tapi bapak harus jujur padamu dan pada diri bapak sendiri, bahwa sekalipun bapak diijinkan sembuh, bapak tidak yakin bisa benar-benar mencintaimu. Bapak adalah harapan orangtua untuk menyelesaikan sekolah saat itu, ketika mereka melihat bahwa bapak lebih memilih menikahi ibumu daripada pindah ke kota lain untuk meneruskan sekolah, mereka sakit hati sekali. Lima bulan setelah itu, nenekmu meninggal dunia. Kakekmu terus menyalahkan bapak yang telah membuat nenek sakit hati hingga meninggal dunia. Dan sejak dari kelahiranmu… bapak hanya melihat setumpuk kesalahan bapak setiap saat melihatmu.” Kata temanku lagi.
     “Selama mengenalmu, aku tidak pernah melihat sisi pribadi pemarah atau sakit hati. Padahal, aku prihatin sekali dengan kisahmu.” Saya berkomentar.
     “Oh tidak! Tidak sama sekali! Sungguh, aku memaafkan bapakku sepenuhnya. Aku malah bersyukur diberikan kejadian ini… Dari kecil, untuk memperoleh perhatian ayahku, aku selalu berusaha memberi yang terbaik. Aku belajar dan menjadi juara kelas, aku cukup berhasil di dalam pekerjaan dan hidupku, keluargaku pun baik-baik saja. Sampai saat ayah berkali-kali masuk rumah sakit, aku mampu membiayainya sampai berobat ke luar negri dan dirawat di kamar VIP… Aku sangat bersyukur dengan kejadian ini karena akhirnya, sepanjang hidupku, aku bisa jadi orang yang memberi. Dan… masih banyak yang dapat aku berikan selama aku hidup. Aku merasa hidupku sangat berarti.. Dunia ini ajaib! Saat kita memberi, ia pun tak pelit memberi lebih.” Katanya seraya tersenyum tulus.
Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
FB fanpage: Yacinta Senduk
Blogs:
Follow twitter: @YacintaSenduk
Add Yemayo-AEC BB Pin: 2736346A untuk twitter keluarga harian
Bunda BELANJA atau PASANG IKLAN GRATIS:
http://www.bundabijakpandai.blogspot.com


Apa salahku? Untuk apa minta maaf?

”Papanya baru pulang kerja. Baru buka sepatu. Rani langsung merengek-rengek minta dibelikan buku cerita.” Jelas seorang ibu tentang putrinya yang berusia 9 tahun. ”Ayo belikan, pa! Ayo belikan, pa!” Rengek Rani. ”Papanya kesal dan langsung masuk kamar saja. Melihat suami saya masuk ke kamar dengan kesal, saya jadi marah dengan Rani, saya bilang, tuh! Papa jadi marah kan sama kamu, ayo sana! Minta maaf pada papa. Tapi Rani tidak mau. Setelah itu, Rani dan papanya jadi tidak bertegur-sapa, sampai 2 hari lamanya. Saya sudah membujuk sampai membentak Rani supaya minta maaf pada papanya tapi Rani lebih rela saya pukul daripada meminta maaf pada papanya. Dia bilang, dia nggak salah kok, lagian papa juga nggak jawab apa-apa.” Lanjut ibu itu. ”Rani kan anak, dia harus minta maaf pada orangtua kalau berbuat salah.” Nada ibu itu kesal.Komunikasi-komunikasi yang mandek akan membuat seorang pribadi bingung. Ayah Rani perlu mengkomunikasikan sesuatu kepada putrinya saat putrinya merengek. Ia bisa berkata, ”papa lagi capek, nanti kita bicarakan lagi.” Jika langsung ditinggalkan tanpa penjelasan, anak menjadi bingung. Ada yang terputus di sana! Permintaanku kah yang salah? Atau caraku kah yang salah? Alasan untuk minta maaf tidak ia temukan. Janganlah membiasakan anak untuk minta maaf hanya karena alasannya ’anak harus minta maaf pada orangtua’ karena hal ini akan mematikan nalar sehat anak.

Justru, jika ada porsi kesalahan atau ketidakjelasan yang berasal dari orangtua, orangtua pun harus menjelaskan dan mungkin perlu minta maaf, seperti: ”maaf, kemarin papa lagi capek, jadi papa belum ingin membicarakan tentang buku ceritamu. Sekarang, apa kamu masih menginginkan buku ceritamu? Bukankah buku ceritamu yang lain masih banyak yang belum dibaca?”

Anak-anak yang tidak terbiasa menjelaskan sesuatu hal dengan sebab-akibat yang jelas biasanya akan menjadi pribadi pemarah. Jika ada masalah, ia hanya bisa marah saja, juga ia akan menjadi pribadi yang tidak mau tahu, seperti berkata, ”Pokoknya, semuanya harus beres, tidak tau gimana caranya.” Pribadi-pribadi seperti ini akan kesulitan di dalam dunia kerja nantinya karena banyak orang akan sulit mengerti apa maunya.

Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
FB fanpage: Yacinta Senduk
Blogs:
Follow twitter: @YacintaSenduk
Add Yemayo-AEC BB Pin: 2736346A untuk twitter keluarga harian
Bunda BELANJA atau PASANG IKLAN GRATIS:
http://www.bundabijakpandai.blogspot.com

Sebenarnya Mau Ibu Apa?

Seorang ibu, kenalan baik saya minta agar saya menolongnya menangani kasus anak gadis kecilnya yang berusia 10 tahun. ”Tolonglah, anakku ini sudah kubawa ke psikolog, dia anak yang pandai, IQ-nya 140. Tapi tingkah lakunya benar-benar memprihatinkan. Tempo hari, anakku itu berada di kamar terus, kerjanya hanya baca komik saja… Setelah dimarahi, eh! Dia sudah tidak baca komik, tapi nonton TV melulu berjam-jam kayak tidak ada kerjaan lain.. Nanti kalau sudah dimarahi, baru dia belajar di meja makan. Aku nggak tahu apa saja yang dikerjakannya di meja makan tersebut, kerjanya hanya mencorat-coret meja, benar-benar bikin kepalaku pusing.. Belakangan setelah aku marahi lagi, sekarang dia jadi suka berteriak-teriak histeris, suka berbohong dan suka memukul adiknya. Aku lihat, anak ini memang aneh… masakan…”
”Jawab pertanyaan saya!” Potong saya. Tampaknya, jika saya tidak memotong pembicaraannya, ibu ini tidak akan berhenti berbicara. “Sebenarnya, apa yang harus dilakukan anakmu itu supaya bisa membuatmu senang?” Tanya saya. Pertanyaan saya membuat suasana menjadi sunyi, ibu itu berpikir keras untuk menjawab pertanyaan saya. Jika tadi tampaknya ia mau bersahabat mencurahkan isi hatinya pada saya, kini tampak raut wajahnya kesal karena saya bertanya demikian.
“Dirimu sendiri tidak tahu apa yang kau inginkan, itulah yang membuat anakmu juga menjadi bingung. Kebingunganmu sudah sedemikian parahnya, sehingga anakmu menjadi frustrasi, itulah mengapa ia mulai melakukan hal yang tidak baik. Tidakkah engkau mampu melihat anakmu menuruti setiap perkataanmu, tapi akhirnya selalu kaumarahi juga? Semua yang ia lakukan, selalu salah di matamu!” Jelas saya.
“Aku benci kehamilanku yang pertama…” Sahut ibu itu sambil tertunduk. Oh! Ternyata, ada masa lalu yang harus didamaikan, kata hati kecil saya. Kisah ibu ini hanya salah satu dari sebegitu banyak kisah menyedihkan dimana anak-anak yang tidak mengerti apa-apa telah menjadi korban kelabilan orangtua. Banyak anak-anak pandai tidak dapat mencapai hasil yang maksimal justru karena ketidakmampuan diri orangtuanya berdamai dengan masa lalunya, anak-anak itu dipaksa untuk merasakan kesedihan dan kelabilan orangtuanya dan menjalani rutinitas hidup yang ’sakit’ di dalam raga yang seharusnya sehat.
Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
FB fanpage: Yacinta Senduk
Blogs:
Follow twitter: @YacintaSenduk
Add Yemayo-AEC BB Pin: 2736346A untuk twitter keluarga harian
Bunda BELANJA atau PASANG IKLAN GRATIS:
http://www.bundabijakpandai.blogspot.com


Arti Piala Bagi Mama

Suatu hari, Santi, murid kami yang berusia 9 tahun terlambat datang ke kelas.
“Maaf coach, saya terlambat.” Katanya. Ia belum mengganti seragamnya, tangan kirinya memegang sebuah piala dan tangan kanannya memegang tas sekolahnya.
“Mengapa terlambat, Santi?” Tanya pelatih.
“Habis ikut kejuaraan, coach.” Jawabnya datar. Berhubung suasana kelas sangat serius, Santi segera mencari tempat duduk dan meletakkan pialanya di lantai. Ukuran piala itu cukup besar, pelatih mengamati tulisan di piala itu, tertulis “Juara I”. Tiba-tiba piala itu secara tak sengaja tertendang Santi saat ia akan mengambil buku dari tasnya. “Wah! Pialamu jatuh, Santi.” Kata Pelatih. “Iya, biar saja, coach.” Jawabnya. Agak janggal juga melihat sebuah piala hanya ditaruh di lantai, bahkan ketika tertendang, si empunya tampak tidak peduli sama sekali.
Saat Santi dijemput, pelatih segera menemui mamanya, “Wah! Bu, selamat ya, Santi juara I!” Mama Santi hanya diam saja. “Tapi tadi pialanya sempat tertendang bu, jadi bagian atasnya patah.” Lanjut pelatih lagi.
“Ok.” Jawab ibu itu singkat.
“Tunggu ya bu, saya ambilkan lem untuk me-lem piala Santi.” Kata pelatih.
“Nggak usah! Ini sudah mau pulang.” Jawabnya.
“Cuma sebentar aja kok bu, tidak lama.” Kata pelatih masih antusias.
“Nggak usahlah, nggak perlu repot-repot.” Kata ibu itu tidak terlalu ramah.
“Sayang bu, itu piala juara satu loh bu.” Ujar pelatih.
“Itu cuma piala!!” Kali ini ia sangat ketus. Kebetulan Santi sudah keluar, mereka pun pulang. Pelatih tertegun melihat kejadian itu. Banyak orang senang mendapat juara dan senang mendapat piala, mengapa Santi dan mamanya tidak menunjukkan perasaan gembira sama sekali.
“Saya minta maaf akan kata-kata saya kemarin.” Kata mama Santi pada pelatih keesokan harinya.
“Saya juga minta maaf telah membuat ibu kesal.” Sahut pelatih.
“Coach tahu, waktu saya kecil dulu, saya beberapa kali dapat piala. Sebenarnya perasaan saya sangat senang… Tapi kalau saya menunjukkan piala saya kepada papa saya…” Ibu itu lalu terdiam. “Papa saya bilang… itu hanya benda, bukan uang! Tidak usah terlalu gembira!!” Suara ibu itu marah.
            “Sudah 5 kali anak saya membawa pulang piala. Papanya bangga sekali… Dan saya? Saya iri pada anak saya karena papanya bangga melihat keberhasilannya. Sedangkan papa saya? Hanya uang yang bisa menyenangkannya.” Kata ibu itu getir.
            “Ibu… hanya karena papa ibu lebih mementingkan uang, hal itu tidak menghapuskan kenyataan bahwa ibu pernah menjadi juara.” Ibu itu terkejut mendengar jawaban pelatih.
“Orang-orang yang kita kasihi berpengaruh besar akan hidup kita, mereka bisa membantu kita melihat atau tidak melihat akan suatu kenyataan… Bagaimana dengan Santi sekarang, bu? Akankah ketawaran hati ibu terhadap masa lalu, membutakan Santi akan kehebatannya untuk berprestasi?” Ibu itu terdiam seraya mengetuk-ngetukkan jarinya di meja.
Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
FB fanpage: Yacinta Senduk
Blogs:
Follow twitter: @YacintaSenduk
Add Yemayo-AEC BB Pin: 2736346A untuk twitter keluarga harian
Bunda BELANJA atau PASANG IKLAN GRATIS:
http://www.bundabijakpandai.blogspot.com

Tidak usah Memuji Masakan Mama

Ketika di kelas, kami memberi tugas kecil kepada murid untuk ’memuji’ orangtua mereka, memuji hasil pekerjaan ayah dan ibu di rumah, yang menurut mereka bagus, tugas ini dirasakan ganjil oleh kebanyakan murid. Namun seorang murid kami, sebut saja Andri, laki-laki berusia 14 tahun, bersikap sangat marah terhadap tugas ini. Suaranya kencang berkata, ”Saya tidak mau memuji orangtua saya! Apalagi mama saya! Itu hal yang sangat tolol! Dan saya rasa tidak ada gunanya memuji siapapun juga!”
Belum sempat pelatih bertanya mengapa, Andri melanjutkan, ”Coach tahu, kalau saya memuji masakan mama saya, mama akan berkata, ’Nggak usah dibahas! makan aja!’… Tapi, kalau saya tidak berkomentar tentang masakannya, mama saya akan menanyakan bagaimana masakannya. Pernah, saya menjawab, ”keasinan”. Mama saya marah, mama bilang, ”Eh! Suka nggak suka, makan aja! Mama sudah capek-capek masak, kamu cuma tinggal makan, masih ngedumel!” Papar murid kami… ”Tuh kan, coach, kalau ngomong sama mama saya, semuanya salah! Ngomong baik, salah. Ngomong jujur, salah. Memang mama saya itu dan semua orangtua, tidak masuk akal! Saya nggak ngerti!” Kata Andri menyamaratakan semua orangtua. Akhirnya, kami meminta Andri untuk mencoba memuji ayahnya dan melaporkan reaksi sang ayah. Syukurlah, sang ayah bereaksi lebih positif terhadap pujiannya sehingga murid kami tersebut mengerti bahwa tidak semua orangtua akan menyepelekan pujian yang tulus.
            Suatu hari, kami berkesempatan berbicara dengan mama Andri. Di ujung pembicaraan ia berkata, ”Belakangan saya melihat anak saya itu akrab dengan papanya. Dulu tidak begitu, tetapi jika saya mendengarkan percakapan mereka, sebenarnya bagi saya sangat asing, mereka berbicara tentang hal-hal yang jujur, seperti ketika warna dasi papanya tidak bagus, Andri bilang bahwa dasi itu tidak bagus dan papanya segera mengganti dasinya tanpa ngedumel. Tapi ketika papanya mengajak makan ke sebuah restoran, Andri berkata, wah! Makanannya enak, Pa.. Memang papa hebat deh kalau memilih restoran, seru!” Jelas ibu itu sambil mengernyitkan dahinya.
            ”Lalu kenapa ibu bingung?” Tanya saya.
            ”Di dalam hidup saya, saya melihat bahwa pujian-pujian yang dilontarkan itu kebanyakan palsu. Ayah-ibu saya pedagang, mereka banyak berkata-kata manis hanya supaya dagangannya laku. Itulah sebabnya, saya tidak pernah percaya pada pujian. Semua pujian itu palsu.” Ujarnya.
            ”Semua pujian, bu?” Kembali saya bertanya.
            ”Melihat Andri dan papanya sekarang, saya jadi belajar bahwa tidak semua pujian adalah bohong dan tidak semua kritikan berasal dari hati yang jahat.” Katanya datar.
Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
FB fanpage: Yacinta Senduk
Blogs:
Follow twitter: @YacintaSenduk
Add Yemayo-AEC BB Pin: 2736346A untuk twitter keluarga harian
Bunda BELANJA atau PASANG IKLAN GRATIS:
http://www.bundabijakpandai.blogspot.com


Meja Makan Keluarga yang mulai ditinggalkan

Ketika di dalam kelas, kami meminta anak-anak membuat jadwal tentang kegiatan mereka sehari-hari, sungguh kami, pengajar, dibuat terkejut dengan fakta bahwa hampir semua murid tidak pernah makan (baik makan pagi, siang ataupun malam) bersama secara lengkap dengan keluarga. Kebanyakan dari mereka makan bersama keluarga secara lengkap hanyalah bila sedang pergi ke restoran di akhir minggu. “Papaku kan pulangnya nggak menentu, biasanya sampai malam sekali. Jadi aku makan duluan. Kalau pagi, papaku masih tidur, jadi aku sarapan duluan sama mbak sebelum pergi ke sekolah.” Inilah jawaban yang secara umum sering kami dapatkan dari anak-anak.Tentunya, dengan berusaha segenap hati mengerti kesibukan orangtua, saya sangat menyayangkan hal ini. Di dalam keluarga, makan bersama di meja makan adalah ritual yang sebenarnya wajib dijalankan keluarga bersama. Mengapa saya sebut sebagai ritual? Sama halnya bila anda berada di kantor, meeting adalah sesuatu yang sering tidak bisa dihindarkan, karena meeting adalah sarana mempertemukan semua orang baik atasan maupun bawahan dan di sana tim kerja mulai membicarakan tantangan dan rintangan yang sering diakhiri dengan diskusi dan solusi. Hal ini dilakukan agar visi suatu usaha dapat secara langsung dimengerti oleh tim kerja.

Kecerdasan emosi adalah sesuatu yang sangat penting untuk kita miliki pada jaman ini. Jaman yang segala sesuatunya serba cepat, yang membutuhkan keputusan serba cepat, yang karenanya emosi pribadi sering dibuat naik-turun hanya di dalam jangka waktu singkat. Namun tidak perduli betapa gilanya jaman ini, suatu kenyataan yang tidak bisa kita pungkiri adalah dasar Kecerdasan emosi justru terbentuk dari rumah atau keluarga. Pada murid-murid kami yang memiliki antusiasme dan emosi yang positif, dengan jelas kami melihat pola didik orangtua yang sangat baik dan kompak. Sebaliknya, murid-murid yang bermasalah dengan pengendalian diri atau emosi, kami melihat pola didik orangtua yang terlihat hanya terbatas pada penyediaan material saja dan jarang melakukan interaksi yang positif.

Fakta yang kami dapati tanpa harus melakukan riset ataupun penelitian adalah pada anak-anak yang jarang makan bersama keluarga di meja makan rumah, mereka bermasalah dengan emosi, baik emosi yang meledak-ledak maupun emosi yang tertekan.
Pada saat kami meminta anak-anak membuat karangan singkat mengenai keluarganya, di situlah kami melihat pandangan-pandangan jujur anak-anak tentang keluarga mereka. Bagi anak yang mempunyai tradisi makan bersama, walaupun terkadang mereka lebih menyukai salah satu orangtua (misalnya lebih dekat ke papa atau ke mama); tetapi secara keseluruhan kami melihat anak tersebut mempunyai pandangan yang positif mengenai keluarganya, sebagai contoh mereka menulis: “Keluargaku asyik loh, kami sering bepergian. Papaku orangnya suka bercanda, mamaku lebih serius, tapi aku sangat sayang dengan keluargaku.”

Dibanding dengan anak yang tidak makan bersama, mereka akan dengan sangat cepat memberikan penilaian kepada keluarganya secara keseluruhan, sebagai contoh: “… keluargaku biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa.” Atau “Aku merasa kurang akrab dengan keluargaku, biasanya aku lebih sering menghabiskan waktu di kamar.”

Mengapa Makan bersama penting?
Seburuk-buruknya suatu keluarga, walaupun orangtua sangat tidak kompak, namun bila orangtua dapat mengusahakan kebiasaan makan bersama, anak-anak (juga orangtua) akan mampu menilai keluarganya secara utuh. Walaupun ayah seorang pemarah dan ibu seorang pembela (ini contoh ketidakkompakan orangtua), tetapi anak-anak akan mempelajari interaksi keluarganya secara keseluruhan justru pada saat semua berkumpul dan berinteraksi. Di meja makan, semua anggota keluarga dapat mempelajari ekspresi-ekspresi karena semua dapat saling melihat muka, di sini dapat ditanamkan berbagai macam nilai, baik nilai pendidikan, nilai moralitas, nilai kebaikan dan kebijaksanaan, nilai religi. Seringnya bila kita bisa saling menatap dan memahami ekspresi-ekspresi wajah, kita dapat mempunyai solusi-solusi yang lebih baik bila suatu masalah terjadi pada salah satu anggota keluarga kita. Saya sangat menganjurkan para keluarga mengusahakan ataupun menghidupkan tradisi makan bersama keluarga inti (ayah, ibu, anak). Seringnya orangtua berkata bahwa mereka terlalu sibuk dan kesibukan itu sebenarnya untuk memberi makan anggota keluarganya. Namun hal yang sering dilupakan oleh orangtua yang sibuk, bila kesibukan itu sungguhlah ditujukan untuk keluarga mereka, mereka kurang menyadari bahwa perlahan-lahan mereka sedang kehilangan ‘keluarganya’. Secara fisik anggota keluarga itu memang ada, namun secara hati, sebenarnya sudah lama hilang. Jadi bila orangtua terlalu sibuk mencari uang demi keluarga, nyatanya keluarga mereka sedang menghilang; lalu, ketika nanti benarlah uang telah didapat tapi keluarga itu sudah tidak ada lagi, maka apa gunanya semua kesibukan-kesibukan yang dilakukan? Bagaimanapun, saya yakin bahwa belum terlambat bagi para keluarga untuk membangun tradisi makan bersama keluarga setiap hari! Putuskanlah dan mulailah hari ini!

Jika anda tidak menyukai sesuatu, ubahlah! Jika anda tidak bisa mengubahnya, ubahlah sikap anda mengenainya. Jangan mengeluh karenanya.
= Maya Angelou

Tweet @YacintaSenduk: 9 September 2011

Keluarga.. Usahakanlah makan malam bersama malam ini. Pada jaman ini, makan malam bersama sdh sering diabaikan.

Sadarkah keluarga, makan bersama dimana semuanya duduk bisa melihat satu sama lain; adl saat keluarga berkumpul dlm keadaan paling teratur.

Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
FB fanpage: Yacinta Senduk
Blogs:
Follow twitter: @YacintaSenduk
Add Yemayo-AEC BB Pin: 2736346A untuk twitter keluarga harian
Bunda BELANJA atau PASANG IKLAN GRATIS:
http://www.bundabijakpandai.blogspot.com


Orangtua, percayalah hal yang baik!

Seorang ayah mengeluhkan perilaku anaknya kepada saya, wajahnya nampak marah, “saya sudah tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi James (bukan nama sesungguhnya). Semua usaha sudah saya lakukan tetapi James tidak berubah! Saya sudah kehabisan akal. Masak iya saya harus marah-marah terus?” Ujar ayah itu. Hari itu saya tidak memberi saran apapun kepada sang ayah, saya ingin melihat langsung saja si anak yang dikeluhkannya.Memang benar, James yang berusia 7 tahun itu terlihat sulit diatur, bicaranya sinis cenderung kasar, bahkan sesekali ia memang terlihat sangat menganggu kelas. Beberapa kali pengajar harus memberikan peringatan dan mengharuskan ia menulis janji tulus tentang hal-hal apa yang perlu diperbaikinya.

Berangkat dari rasa percaya bahwa setiap masalah pastilah mempunyai jalan keluarnya, maka satu per satu masalah perilaku James kami pikirkan jalan keluarnya. Memang tidak ada proses instan, tetapi bagaimanapun, kami memilih percaya bahwa James adalah anak yang baik.

Setelah 2 bulan, kami melihat ada perubahan yang baik pada James, tapi sifatnya memang belum permanen, sesekali ia masih berperilaku kasar. Kembali kami bertemu dengan sang ayah. Kali ini tampak ia bukan saja frustrasi pada James, tapi ia sudah frustrasi juga dengan pengajar yang dianggapnya tidak berhasil merubah James. “Saya sudah tahu dari awal, James memang tidak bisa berubah. James memang nakal dan dibawa kemanapun dia tidak akan berubah.” Kami mengkomunikasikan hal-hal apa saja yang mulai berubah dari James walaupun sifatnya belum permanen, tetapi perubahan itu murni dari usaha James. Menurut kami itu adalah awal yang baik, yang harus lebih diperkuat lagi. Sang ayah berkata, “saya tidak yakin James bisa berubah.”

Belakangan kami mengerti bahwa sebenarnya yang membuat James tidak bisa berubah adalah keyakinan orangtuanya. Kami berupaya memberikan fakta bahwa James sudah mulai belajar sendiri setengah jam atas kemauannya sendiri, sudah mau mengurangi frekwensi bertengkarnya dengan teman di sekolah, sudah mulai mau menahan diri tidak marah-marah; tapi ayahnya terus saja mengulang-ngulang kenakalan-kenakalan James, seperti ketika James berteriak-teriak di mal, menjambak rambut adiknya, membantah perkataan orangtuanya. Lalu kami berkata, “James selalu mengerjakan PR-nya.” Sanggah ayah, “ya, itu kan karena disuruh.” Tapi James juga mau membereskan mainannya.” Sanggah ayah, “dia mana berani berantakan, nanti bisa saya hukum”. “James sudah lebih sabar menunggu gilirannya beraktivitas di kelas kami.” Lanjut kami. Sanggah ayah, “iya, cuma di sini saja dia pura-pura baik, di rumah sih enggak tuh.” Ujar sang ayah sinis seolah merasa terpojok.
“Baiklah, menurut bapak, anak yang baik itu seperti apa?” Tanya saya. Ayah itu tidak langsung menjawab, bahkan ia tampak kehilangan kata-kata sampai akhirnya ia berkata, “ya seperti anak-anak lainnya itulah, yang tidak menyusahkan orangtuanya, yang kerjanya tidak bikin sakit kepala saja. Kita kan juga sudah sibuk, ditambah musti mengurus dia, kok dia nggak bisa ngerti yang kayak beginian sih?”

Untuk James, saya merasa sedih, ia ternyata anak yang dipercaya sebagai anak yang menyusahkan dan hanya membuat pusing orangtua. Padahal kami melihat bahwa sebenarnya James pun mau dan mampu berjuang memperbaiki dirinya.
Setengah bulan setelah pembicaraan dengan sang ayah, James kembali ke pola lamanya sebagai anak pemberang, di dalam percakapannya dengan pengajar, James berkata, “papa bilang aku anak nakal kok, ya memang aku anak nakal, mau diapakan lagi!” Jawabnya ketus dengan sorot mata tajam yang marah.

Menuai apa yang anda percaya
Sebut saja Ika, anak perempuan mungil yang lucu, berusia 6 tahun. Ika adalah anak yang cerdas, namun bila beraktivitas, ia terlihat kaku. Pada aktivitas melompat, Ika menangis tidak mau melakukan lompatan, ia berkata, “aku kan nggak bisa melompat.” Ika terisak-isak. “Bisa kok!” Ujar pengajar. “Nggak bisa! Mama bilang pinggul aku terlalu besar! Aku nggak bakal bisa melompat!” Tangis Ika menjadi-jadi. Melihat bentuk pinggulnya, malah kami percaya, jika tumbuh menjadi seorang gadis nantinya, Ika akan memiliki bentuk tubuh yang indah. Namun tidak etis jika mengatakan bahwa kata-kata mama Ika tentang dirinya itu salah. Akhirnya setelah tangis Ika mereda, pengajar membimbing lembut tangannya untuk melompat. Ika pun berhasil melompat, ia sendiri terkejut melihat dirinya bisa melompat. Kemudian ia melompat-lompat sendiri tanpa disuruh.
Apa yang anda percaya bagi putra-putri anda akan anda tuai hasilnya. Ada ibu yang tidak menyerah dengan anaknya yang autis, akhirnya anaknya bisa bersosialisasi dengan orang-orang normal. Ada ibu yang percaya bahwa anaknya pasti jadi orang berhasil walaupun lingkungannya tidak mendukungnya, nyatanya, anaknya benar-benar jadi orang berhasil.
Janganlah anggap remeh tentang apa yang anda percayai bagi putra-putri anda. Percayalah hal yang baik! Maka hal baik pulalah yang akan anda tuai.

Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
FB fanpage: Yacinta Senduk
Blogs:
Follow twitter: @YacintaSenduk
Add Yemayo-AEC BB Pin: 2736346A untuk twitter keluarga harian
Bunda BELANJA atau PASANG IKLAN GRATIS:
http://www.bundabijakpandai.blogspot.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: