Posted by: Admin | January 5, 2009

Makna Natal yang kian berubah di Era Globalisasi


Sumber: http://siswarta.org/?p=350

“Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di atas palungun, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.” (Lukas 2:6-7).
Hari Natal yang dikenang di seluruh dunia di penghujung tahun sudah makin jauh dari Natal pertama yang syahdu dan sederhana seperti gambaran dalam ayat di atas. Hari Natal pertama diisi dengan kesederhanaan di mana di samping orang-orang Majus yang kaya hadir juga para gembala yang sederhana untuk menyambut kelahiran bayi Yesus, kelahiran-Nya yang tidak dirayakan di penginapan atau di istana, tetapi di sebuah palungan di kota Betlehem. Inilah makna Natal sebenarnya damai Allah menyertai semua manusia, damai di hati tanpa dekorasi
Natal adalah pemberian. Itu adalah hal yang tidak boleh dilupakan oleh siapapun yang merayakannya. Masa kini, memasuki bulan Desember, kita dapat menyaksikan di mana-mana, di restoran, mall, hotel, dan di siaran TV, banyak dikumandangkan persiapan menyambut hari Natal dengan berbelanja akhir tahun. Apakah masih ada yang tersisa dari Natal Betlehem di balik hiruk-pikuk perayaan Natal di masa kini?
Ketika kita ditanya apa yang kita pikirkan tentang Natal, maka peringkat pertama yang kita pikirkan adalah pohon Natal. Pohon Natal yang pada zaman dulu adalah gambaran yang indah Eropa di musim salju. Di sana kita dapat melihat pohon-pohon cemara yang tegap berdiri dengan kehijauan daunnya yang tetap memberikan harapan segar. Di malam hari, di balik pohon ini kita dapat melihat kerlap-kerlip lampu-lampu rumah di sela-sela daun-daunnya. Apalagi kesan indah ini diiringi lagu ´Malam Kudus´ memberi rasa syahdu dan damai bagi mereka yang melihat pohon itu dan mendengar lagu itu. Pohon Natal yang sederhana itu kemudian di abad-18 berkembang dengan adanya penambahan dekorasi hiasan-hiasan Natal, dan lama kelamaan dekorasi itu begitu lebatnya sehingga lambang pohon dan sinarnya yang menjadi simbol kekekalan dan kesyahduan menjadi terkubur oleh hiruk pikuk dan kemeriahan hiasannya. Pohon yang kemudian dijadikan lambang pohon terang itu sekarang sudah meluas menjadi hiasan di toko-toko serba ada di seluruh dunia. Suasana Natal untuk mengenang kesederhanaan kelahiran Tuhan Yesus yang menyelamatkan manusia kini banyak tertutup oleh pesta pora dengan segala hiasan yang mewah dan bukan lagi dirayakan oleh umat Kristiani saja tetapi meluas oleh umum. Perayaan Natal perlu kembali mengalami ´de-sekularisasi´. Bagi kebanyakan orang, Natal selalu identik dengan pohon cemara yang selalu dihiasi dengan lampu kerlap kerlip, atau berbagai aksesoris yang digantung pada ujung daunnya atau hiasan berbentuk efek salju dari kapas. Maka tidak heran, setiap menjelang natal, orang menghiasi rumahnya dengan pohon natal.
Peringkat kedua yang paling diingat orang mengenai Natal adalah liburan orang Kristen. Banyak orang menganggap bahwa natal adalah kesempatan berlibur dari kejenuhan pekerjaan dan rutinitas. Di dalam liburan itu, kita menjumpai orang-orang yang merantau “pulang kampung” dan bersilaturahmi dengan sanak saudara.
Dan yang menduduki peringkat ketiga mengenai hal yang paling diingat orang tentang natal adalah Sinterklas. Siapa yang tidak kenal tokoh ini. Sinterklas adalah “kakek” tua yang berjanggut dan berkumis panjang nan lebat dengan kereta rusa yang bisa terbang ke angkasa sambil membawa sebuah karung besar berisi hadiah bagi anak-anak yang berbuat baik selama satu tahun. Biasanya dalam perayaan dalam gereja sering kita temui replika-replika kandang domba dan patung-patung kecil. Yang pertama kali memperkenalkan replika kandang dengan patung-patung kecil ternak dengan Yusuf, Maria dan bayi dalam palungan dan para majus dan gembala disekitarnya, yang sering kita lihat sebagai hiasan Natal baik di gereja maupun di rumah adalah Franciscus dari Assisi. Replika inilah yang menjadi hiasan sejak abad-13 sebelum pohon Natal diperkenalkan, dan diiringi Christmas Carol yang dinyanyikan sekelompok orang dari rumah ke rumah.
Semua hal kita pikirkan menjelang Natal itu tidaklah salah dan sangat indah. Tetapi menariknya, tidak ada peringkat mengenai “pemberian” di dalam pandangan orang tentang natal. Banyak orang mungkin lupa makna natal yang sejati karena telah terjadi pergeseran-pergeseran makna akibat globalisasi dan konsumerisme. Coba dilihat, menjelang natal, orang-orang lebih mementingkan hiasan rumah, baju baru, penampilan yang berbeda dari biasanya.

Perayaan natal pada era globalisasi ini sangat memprihatinkan. Banyak sekelompok orang yang merayakan perayaan ini dengan cara menghamburkan berbagai sumber daya. Semua orang berlomba mengadakan berbagai acara yang menyedot dana cukup besar, dan tidak jarang acara-acara ini diadakan karena ada kaitannya dengan dunia politik yang selalu berkaitan dengan promosi dan segala hal yang bersifat entertainment. Tetapi apakah orang mengingat bahwa NATAL ADALAH PEMBERIAN? Coba kita bertanya pada orang-orang sepulang dari ibadah natal nan besar dan meriah itu, bagaimana kesan mereka? “Wah, acaranya bagus, keren, artisnya luar biasa” Apakah mereka mengalami perjumpaan dengan Tuhan? Mungkin tidak ada yang mengingatnya.
Menjelang Natal di akhir tahun ini kita sebagai Umat Kristen sudah seharusnya mengembalikan hakikat Natal kepada artinya semula dan tidak terkecoh oleh gemerlapannya kerlap-kerlip lampu listrik dan dekorasi yang wah. Umat Kristen perlu men de-sekularisasi-kan dan de-mitologisasi-kan perayaan-perayaan natal yang sudah melenceng jauh dari makna asalinya.
Di tengah kepedihan yang dialami ribuan keluarga di Indonesia yang mengalami bencana dan bahkan mungkin tak bisa merayakan natal, kita umat Kristiani dipanggil untuk menghadirkan Natal terutama bagi mereka yang tersingkir, yang terpinggirkan, dan yang dilupakan. Setidaknya dengan menjalankan upacara dengan sederhana, apalagi kalau disertai dengan kasih, setidaknya umat manusia benar-benar lebih bisa merasakan bahwa Natal itu memang mendatangkan damai sejahtera bagi manusia di bumi dan bukan sebaliknya.
Selamat mempersiapkan Natal mendatang dan semoga kita semua dapat menyatakan kasih dan damai sejahtera Allah bagi umat di sekeliling kita. Amin. God Bless You. (Nagari Dirga Krisma, XII-IPA)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: