Posted by: Admin | March 14, 2008

Renungan Paskah


Minggu, 16 Maret 2008

 

Bila kamu  menyimpang dari jalan, di belakangmu akan terdengar suaraNya  yang berkata: “Inilah jalannya; ikutlah jalan ini.” (Yesaya 30:21) BIS

 

“Dengarlah,” kataNya: “Kita sekarang sedang menuju Yerusalem. Di sana Anak Manusia akan diserahkan.” (Markus 10:33) BIS

 

“Jalan Menuju Yerusalem”

 

      Arah kemana kita akan berjalan, sangat menentukan langkah kita. Kalau arah perjalanan kita menuju Hongkong Restaurant, pasti semangat. Namun kalau perjalanan kita diarahkan ketempat yang penuh sampah untuk dipindahkan, mungkin sudah segera terpikir  untuk  menyimpang dari jalan yang dituju. Jadi kemungkinan untuk menyimpang itu sangat ditentukan oleh arah tujuan. Tempat yang baik dan menarik mempercepat langkah kita untuk mencapainya, sedangkan kalau tujuannya berat dan menyusahkan, tunggu dulu!!. Pokoknya ada saja alasan.

      Bagaimana berjalan dijalan Tuhan? Bukankah jalan hidup tak selalu tanpa kabut yang pekat. Sesungguhya tidak ada jalan hidup yang mulus. Hidup ini penuh dengan tantangan, suka dan duka. Kadang-kadang memang seperti menuju sebuah restaurant yang menyajikan makanan enak, walaupun harus  mengeluarkan alat bayar. Sebaliknya juga  kadang seperti menuju kabut yang pekat, tidak tergambar apapun di depan kita. Rupa-rupanya sih boleh-boleh saja, tapi sesungguhnya tidak..

      Firman Tuhan katakan: Bila kamu menyimpang..…, dibelakangmu akan terdengar suaraNya  yang berkata: “Inilah jalannya; ikutlah jalan ini.” Kalau kita sedang berpikir mau berjalan mengikuti jalan yang seenaknya, Tuhan sabar mengarahkan  kita kejalanNya. JalanNya tidak berat. Tidak membawa resiko apa-apa. Arahnya yaitu menuju Yerusalem.

      Dengarlah kataNya: “Kita sekarang sedang menuju Yerusalem. Disana Anak manusia akan diserahkan. Perjalanan menuju Yerusalem diliputi  kabut yang pekat, tapi untungnya pasti, arahnya  jelas. Di Yerusalem Anak Manusia akan diserahkan. Dia menuntaskan segala-galanya. Hari ini, kita memasukii suasana penghayatan pengorbananNya. Apakah yang kita korbankan bagi Dia. Pengorbanan  kita tidak akan sia-sia.

 

Pokok doa:

Ya Tuhan, Yerusalem adalah kotaMu, dan juga kotaKu. Engkau  berkorban kamipun mau berkorban.

 

 

 

 


Senin,  17 Maret 2008

 

Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu. (Kejadian 1:28)

 

Semuanya kamu punya. Tetapi kamu adalah milik Kristus dan Kristus adalah milik Allah. (I Korintus 3:22, 23)

 

“Allah Harus Dipercaya”

 

      Beranak cuculah dan bertambah banyak, rupanya sangat diperhitungkan oleh banyak kalangan. Dari kalangan kelas kehidupan yang lebih tinggi sampai kepada yang  kelas rendahan. Satu atau dua anak cukup. Kalau tiga dianggap kebobolan. Bagaimana yang terlanjur banyak? Bagus! Tidak apa-apa. Sebab persoalan yang mau ikut renungan disini adalah bukan banyak dan sedikitnya anak dan cucu, tetapi soal bahwa: “Allah memberkati mereka…. “. Baik anak cucu satu atau banyak, Allah memberkati mereka semua. Mereka semua diperintahkan untuk memenuhi bumi. Mereka akan diberkati dan diberi kuasa untuk  menundukkan/menaklukkan bumi.

      Pernyataan ini benar. Karya dan perintah Tuhan ini patut dipercaya. Allah memberkati mereka,  lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranak cuculah dan bertambah banyak, penuhilah bumi dan taklukkanlah itu.” Bagaimana dengan “semuanya kamu punya?”. Mendengarkan pengajaran tentang rasul Paulus ini, sebagai “milik Kristus” kita dimotivasi untuk berani percaya. Karena Kristus kita kaya, memiliki segala-galanya. Kesiapan dan kerelaanNya untuk menerima hujatan dan kesaksian palsu, yang membuat Dia menderita membuat kita kaya, memiliki semuanya, termasuk hidup kita. Dia menanggung segala-galanya, ketika kita kehilangan segala-galanya. Ketika kita  masih lemah, Kristus mati untuk  kita.

      Semua yang terungkap disini, bahkan kesaksian-kesaksian palsu. Semua ini merupakan  kebenaran yang ilahi. Allah memberkati anak cucu. Semuanya adalah milik Kristus, penuhilah bumi dengan kemuliaanNya dan taklukkanlah itu, dibawah kuasaNya.

 

Pokok doa:

Ya Tuhan, Engkaulah yang harus kami percaya. Engkau  memberkati kami dan menjadikan kami milikMu.

 


Selasa, 18 Maret 2008.

 

Biarlah  mereka yang mencintai keselamatan dari pada-Mu tetap berkata: “Tuhan itu besar!” (Mazmur 40:16)

 

Yesus berkata: Kamu telah mendengar, bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar dari pada Aku. (Yohanes 14:28)

 

 

 

“Mencintai Dan Mengasihi”

 

      Sepasang kekasih, tidak pernah absen mengungkapkan kata mencintai dan mengasihi. Aku mencintai kekasihku! Kanda sangat mengasihimu, Dinda!” Pokoknya putar balik kata-kata cinta dan kasih. Entah ucapan itu gombal atau sesungguhnya. Tapi, yang pasti,  kering rasanya kalau sepasang kekasih tidak mengucapkan kata-kata tersebut. Dan memang seharusnya begitu. Sebab dibalik ungkapan itu terkandung makna: pujian, pengagungan dan juga hati yang diliputi  oleh rasa bangga.

      Rupanya bagi orang yang percaya  kepada Kristus, ungkapan seperti itu bukan sesuatu yang baru. Sudah lumrah dan sudah seharusnya terjadi. Seperti  kata pemazmur: “Biarlah mereka yang mencintaii keselamatan dari  padaMu tetap berkata: “Tuhan  itu besar”.  Sama artinya dengan  Tuhan itu hebat! Setiap orang  yang mencintai dan mengasihi Tuhan, pasti menyanjung  kekasihnya. Tuhan  mengasihi kita. Tuhan itu adalah  kekasih kita. Karena  itu pasti kita memujiNya. Pasti kita mengatakan sesuatu yang baik. Tuhan itu besar. Dia  hebat, penuh kasih sayang dan sebagainya.

      Begitu juga  Yesus berpesan kepada murid-muridNya dan  kepada setiap orang. Tuhan Yesus  mencintai bapaNya. Dan Ia akan kembali kepada Bapa. Seperti Dia mengasihi Bapa dan Bapa mengasihi Dia,  begitulah juga sepatutnya murid-murid dan kita. Mencintai dan mengasihi tanpa batas, bukan mencintai agar selamat. Jangan mengasihi untuk dikasihi, tapi marilah kita mencintai dan mengasihi; walaupun kita tidak dicintai dan dikasihi. Apa mungkin? Waktu sepekan inilah, saatnya bagi kita untuk menghayatinya.

 

Pokok doa:

Tuhan mampukan kami hidup dari cinta dan kasihMu, agar kami berguna.

 

 

 

 

 

 

 

Rabu, 19 Maret 2008

 

Janganlah takut, hai si cacing Yakub, hai si ulat Israel! Akulah yang menolong engkau, demikianlah firman Tuhan, dan yang menebus engkau ialah Yang Mahakudus, Allah Israel.  (Yesaya 41:14)

 

Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti  dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!”  Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!”   (I Korintus 11:23-25)

 

 

“Si Cacing Ulat; Yang Rapuh”

 

      Pernahkah kita memperhatikan seekor cacing atau ulat. Baik cacing atau ulat yang menjijikkan atau  yang biasa. Binatang itu kecil dan lemah. Tidak berdaya. Rupanya binatang itu juga (yang membuat kepompong) seperti yang muncul dalam simbol Paskah 2008. Betapa lemahnya mereka.

      Tuhan lewat nabi Yesaya, menempatkan Yakub dan Israel seperti cacing dan ulat. Gambaran umat Tuhan yang lemah dan tidak berdaya. Tanpa ada yang menolong, si cacing akan mati dan kepanasan. Si ulat akan mati terinjak-injak. Syukurlah bahwa Tuhan hebat, Ia menolong umatNya yang  lemah  itu. Bagaimana wujud pertolongan Allah itu? Pertolongan Allah diwujudkan dalam diri Tuhan Yesus Kristus. Ketika  mengadakan perjamuan malam; Ia memecah roti dan  mengambil cawan yang dimeteraikan oleh darahNya. Yesus mengorbankan tubuh dan hidupNya sebagai jaminan untuk memberi kekuatan bagi umat yang lemah. Si cacing dan ulat yang rapuh dibuat menjadi kuat dan hidup.

      Hidup kita juga digambarkan  seperti ulat dan cacing. Mungkin menjijikkan hati Allah, juga sangat lemah. Namun melalui pertolongan Allah yang  kudus, melalui pergorbanan Yesus Kristus, kita menerima jaminan keselamatan dan memiliki hidup yang  kekal.

 

Pokok doa:

Ya Tuhan, kami adalah bagaikan cacing yang lemah dan ulat yang menjijikkan. Kuatkanlah  dan perbaharuilah, lewat pengorbananMu.

 

 

 

 


Kamis, 20 Maret 2008

 

Bertobatlah masing-masing kamu dari tingkah langkahmu (jalanmu) yang jahat dan dari perbuatan-perbuatanmu yang jahat.   (Yeremia 25:5)

 

Berkokoklah ayam untuk kedua kalinya. Maka teringatlah Petrus, bahwa Yesus telah berkata kepadanya: “Sebelum ayam berkokok dua kali, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” Lalu menangislah ia tersedu-sedu. (Markus 14:72)

 

 

“Bertobatlah, Berkokoklah”

 

      Bertobat artinya berbalik. Berbalik kearah/jalan hidup yang tidak baik menjadi baik. Dari berjalan ke timur, berbalik 100%, lalu berjalan kearah barat. Suka mencaci maki, menjadi suka menghibur. Mungkin biasa menghisap rokok 10 batang seminggu, berubah menjadi satu bungkus dalam sebulan. Betapa terlolongnya, anggaran dapur ibu rumah tangga. Pokoknya kata bertobat, diartikan berhenti melakukan perbuatan jahat. Bertobatlah masing-masing kamu dari tingkah lakumu yang  jahat dan dari perbuatan-perbuatanmu yang jahat.

      Apa itu perbuatan jahat? Kalau kita mengingat cerita Petrus, yang menangis setelah mendengar ayam berkokok, apakah yang terjadi? Petrus menyangkal. Dia mengatakan, tidak mengenal Yesus. Bayangkan! Kalau itu juga terjadi pada kita, kita juga dapat disebut  jahat.  Dan segera tiap-tiap kokok ayam jago, tidak membuat kita hanya terbangun dari tidur, tetapi akhirnya membuat kita malu. Malu karena dalam praktek hidup  kita sebagai orang yang mengenal Yesus, tidak nampak apa yang baik. Kita tidak malu untuk mengatakan: “Aku tidak kenal, aku tidak sayang,  aku tidak tertarik, aku tidak pusing; baik kepada suami, istri dan juga sesama kita”. Kita bangga  mengatakan: “Aku hanya kenal diriku” dan lain sebagainya.  Jahat sekali! Bertobatlah!. Biarlah kokok ayam jago, tidak membuat kita mengatakan: “Jagoan menangis! Bukankah Petrus adalah murid  yang selalu terdepan? Siapa yang sanggup mendahuluinya?

      Marilah kita merenungkan peristiwa yang telah terjadi pada diri Petrus! Khususnya pada malam persiapan diri/jemaat ini,  merayakan Jumat Agung dan Perjamuan Kudus. Bertobatlah. . .. ! Berkokoklah. . . !

 

Pokok doa:

Tuhan Yesus, jangan biarkan pengalaman Petrus terjadi pada diri kami.

 

 

 

 

 

 

 

Jumat, 21 Maret 2008

 

Mungkinkah tangan-Ku terlalu pendek untuk membebaskan? (Yesaya 50:2)

 

Lalu berserulah Yesus dengan suara nyaring dan menyerahkan nyawa-Nya.  Ketika itu tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah.  Waktu kepala pasukan yang berdiri berhadapan dengan Dia melihat mati-Nya demikian, berkatalah ia: “Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!”   (Markus 15:37-39)

 

 

“TanganMu Sampai Terpaku”

 

      Untuk apa tangan ini? Untuk mengambil apa saja bisa. Dari yang baik sampai yang menurut orang kurang baik. Pokoknya tangan ini, tangan yang kita punya sangat  terampil dan lihai. Kurangnya apa? Kekurangannya adalah belum pernah dipaku. Belum pernah mengalirkan  darah segar akibat tusukan dan paku salib.

      Hari ini kita mengingat ‘tangan yang terpaku”. Tangan Tuhan  Yesus terpaku dikayu salib. Karena apa? Bukan karena Ia bersalah atau melakukan kesalahan. Tidak, tangan Tuhan Yesus terpaku karena, tangan itu mau memegang, mau menyentuh dan membebaskan manusia  yang berdosa. Manusia yang berdosa dirangkulNya, supaya tidak  terjerumus kedalam jurang kegelapan. Dan tangan itu menjangkau setiap orang tanpa kecuali.  Itu artinya tangan Tuhan tidak terbatas di dalam hal memegang dan menyentuh orang. Buktinya?

      Roti dan anggur sudah menjadi makanan yang menguatkan  tubuh jasmani dan rohani kita. Roti menjadi tanda tubuh Tuhan.  Dan anggur menjadi darah Tuhan yang dicurahkan. TanganNya bekerja bagi keselamatan untuk  manusia. Karena itu panggilan bagi kita, marilah kita menggunakan hidup ini sebagai kepanjangan tangan dari Tuhan Yesus, untuk menyaksikan karya pengorbananNya di kayu salib. Marilah kita mengorbankan hidup  ini bagi Tuhan dan sesama. Jangan saling mengorbankan!!

 

Pokok doa:

Tuhan Yesus, tanganMu terpaku, agar tangan kami tidak kaku, yang suka mengorbankan orang lain.

 

 

 

 

 

 

Sabtu, 22 Maret 2008

 

Ia akan memberkati orang-orang takwa, baik kecil maupun besar. (Mazmur 115:13) BIS

 

Tetapi Yesus berkata: “Biarkanlah dia. Mengapa kamu menyusahkan dia? Ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik pada-Ku. Ia telah melakukan apa yang dapat dilakukannya. Tubuh-Ku telah diminyakinya sebagai persiapan untuk penguburan-Ku.  (Markus 14:6-8)

 

 

“Tidak Pandang Bulu”

 

      Ungkapan tidak  pandang bulu dapat dimengerti dengan pengertian  yang sama dengan pilih kasih. Tidak pilih-pilih, tetapi semuanya sama. Misalnya orang pandai-bodoh, kaya-miskin, besar-kecil, seluruhnya diajak bergaul. Mereka yang disebut sebagai orang tidak pandang bulu, sama artinya dengan mereka yang suka bergaul dan melayani siapa saja. Berteman dan bersahabat dengan siapa saja.

      Ungkapan pengakuan  pemazmur menunjuk kepada  perbuatan Tuhan yang sama. Pemazmur mengatakan bahwa Tuhan tidak pandang bulu, tidak pilih kasih. “Ia memberkati orang-orang yang takwa baik kecil maupun besar.” Dimata Tuhan tidak ada yang kecil maupun yang besar. Orang pandai maupun orang bodoh. Orang Bali maupun orang Yahudi. Tuhan Yesus sekarang kan ada di dalam kubur. Ia terkubur untuk semua orang.

      Rupanya perempuan yang meminyaki kaki Yesus, tidak sesuku bangsa dengan Yesus, yang keturunan suku bangsa Yahudi. Bahasa, kulitnya, posisinya pasti berbeda. Tetapi kok berani perempuan itu menuangkan minyak narwastu murni yang mahal ke atas kepala Yesus. Memang tidak: “pandang bulu, tidak pilih kasih, mungkin juga tidak mencari muka”. Sungguh-sungguh suatu perbuatan yang mengagumkan. Dan yang lebih mengagumkan lagi, Yesus mengatakan: “TubuhKu tidak diminyakinya sebagai persiapan untuk penguburanKu”.

      Tuhan Yesus sekarang ada di dalam kubur. Dia dikuburkan karena kita semua. Bagi kita yang lemah dan kuat, sakit dan sehat, kaya dan miskin. Untuk itu kita semua sekarang, apa yang dapat kita lakukan? Kitapun jangan pilih kasih. Kita patut mengasihi semua orang. Tuhan tidak mementingkan diriNya. Ia rela berkorban. Marilah  berbuat seperti Dia.

 

Pokok doa:

Tuhan, Engkau memberkati semua orang. KasihMu itu, biarlah melingkupi hidup kami.

 

 

 

 

 

 

Minggu, 23 Maret 2008

 

Dari terbitnya sampai kepada terbenamnya matahari nama-Ku besar di antara bangsa-bangsa,. …. . dan di firman Tuhan semesta alam. (Maleakhi 1:11)

 

Setelah Yesus bangkit pagi-pagi pada hari pertama minggu itu, Ia mula-mula menampakkan diri-Nya kepada Maria Magdalena. Lalu perempuan itu pergi memberitahukannya kepada mereka yang selalu mengiringi Yesus, dan yang pada waktu itu sedang berkabung dan menangis. (Markus 16:9, 10)

 

 

“Fajar Baru”

 

      Paskah, kebangkitan Yesus dari  kubur membawa sukacita yang tiada taranya. Melampaui kegirangan, ketika sang surya terbit di ufuk timur. Tidak hanya ayam yang berkokok, burung  yang berkicau, tetapi hati umat manusia yang percaya berbinar-binar. Pengaruhnya sangat kuat. Dampaknya sangat luas. Mengapa? Matahari boleh terbit dan juga terbenam pada waktunya, tetapi nama Dia yang bangkit ada di atas segala-galanya. Nama itu tidak akan pernah tenggelam. Dari terbitnya sampai kepada terbenamnya matahari, nama Tuhan  Yesus yang bangkit dari kubur tetap berkumandang. Dan nama itu tidak akan pernah pudar/hilang, walaupun yang lain  terbitnya dan berlalu. Fajar baru tiba. Cahaya kemenangan dikumandangkan “Yesus bangkit, Yesus hidup, hidup untuk selamanya”.

      Dia yang hidup, memberi hidupnya kepada yang lain. Setelah Yesus bangkit pagi-pagi Ia menampakkan diri kepada Maria Magdalena. Ia memberi kehangatan kepada manusia. Ia memberi kekuatan dan semangat baru kepada setiap orang. Berita itu diteruskan, baik oleh Maria Magdalena. Ia memberi kehangatan kepada manusia. Ia memberi kekuatan dan semangat baru kepada setiap orang. Berita itu diteruskan, baik oleh  Maria  maupun murid-murid Tuhan yang lain. Fajar baru merekah! Kegelapan dikalahkan. Yang lemah dikuatkan. Mereka yang ragu-ragu diberi kekuatan baru. Dan tangisan serta kesedihan, digantikan kegembiraan dan tertawa. Apa lagi!. Memang kalau fajar sudah menyingsing alam beserta segala isinya bersukacita. Hidup ini mulai nampak dan bermakna. Yang mati hidup kembali, Itulah berita Paskah yang kita peringati hari ini. “Karena Aku hidup, kalianpun akan hidup.” Hidup yang kita punyai sekarang, bukannya hidup kita, tapi Kristus. Mari kita syukuri dan fungsikan hidup ini bagi Tuhan Yesus dan sesama.

 

Pokok doa:

Tuhan, Engkau sang fajar kehidupan, yang menghangatkan dan menerangi kegelapan hidup ini.

 

 

 

 

Senin, 24 Maret 2008

 

Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh. (Mazmur 32:8)

 

Paulus menulis: Karena kebaikan hati Allah Ia memilih saya sebelum saya lahir dan memanggil  saya untuk melayani Dia. Allah  menyatakan anakNya kepada saya untu melayani Dia. Allah menyatakan anakNya kepada saya untuk menyatakan kabar baik tentang anakNya dapat saya beritakan  kepada orang-orang yang bukan Yahudi. (Galatia 1:15, 16 ) BIS

 

 

“Menunjuk Jalan”

 

      Kalau pernah mengalami sesat  baru tahu menghargai betapa pentingnya rambu-rambu jalan atau hadirnya seorang pemandu/penuntun arah. Kepala terasa sakit, berkeringat dingin dan kebingungan berada  dalam posisi  tersesat.  Tersesat tidak selalu terjadi di hutan, tapi bisa juga di kota yang ramai. Bayangkan kalau pernah mengalami tersesat. Kita pasti berupaya sekuat tenaga untuk melihat rambu-rambu atau menanyakan kepada orang lain, untuk menunjukkan arah yang benar, yaitu jalan yang  harus ditempuh.

      Pada Paskah kedua hari ini, rasanya perasaan kita semakin terang dan cemerlang. Betapa tidak karena baru saja kita melewati sehari perayaan Paskah. Yesus bangkit dari antara orang mati. Kehidupan kita pasti. Sepertinya  kita mendapat petunjuk jalan, kemana arah hidup kita selanjutnya. Hidup kita selanjutnya pasti, tidak mengambang dan tidak sia-sia. Jalan yang harus kita tempuh, bukan arah  yang  menuju kepada kesesatan, kebinasaan dan kehancuran, tetapi kepada kehidupan. Kemenangan  Yesus dari kematian, bagaikan mercu suar yang  menunjuk pada arah yang benar!! Kapal/bahtera kehidupan ini, tidak akan kandas, tetapi sampai kepada pelabuhan yang abadi.  Itulah yang kita renungkan dari ucapan sang pemazmur. Dia sendiri telah menjadi petunjuk jalan.

      Sekarang, karena kebaikan hati Allah. Ia memilih dan memanggil kita untuk melayani Dia. Berita Paskah, tidak stop sampai hari kedua ini. Daun-daun palma boleh  kering, tetapi kepompong yang lemah itu, tidak hanya tergantung saja. Melalui kehangantan kebangkitan   Yesus, ia harus meneteskan kupu-kupu yang  indah. Kabar baik tentang anakNya, yaitu Yesus Kristus yang bangkit dari orang mati, patut merasuk kehidupan para kepompong yang lemah ini, dan menjadi menarik agar orang yang belum percaya, bertobat (meninggalkan hidup ulatnya) dan juga menjadi indah. Kita juga dipanggil untuk menjadi penunjuk jalan, yang harus ditempuh orang  lain, agar hidup kekal.

 

Pokok doa:

Tuhan, jadikanlah kami sebagai papan  petunjuk arah/jalan yang benar.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: