Posted by: Admin | March 6, 2008

Tidak Mau Masuk


 “Apakah Maksudnya?”

Pengkhotbah 12:6-14

 

Hidup ini singkat. Jadi, hiduplah untuk Allah.

2 Tawarikh 15-16

Yohanes 12:27-50

 

Para ilmuwan pernah berpendapat bahwa hewan vertebrata (bertulang belakang) dengan masa hidup terpendek adalah ikan killfish berwarna biru kehijau-hijauan. Ikan kecil ini hidup di kubangan-kubangan air pada musim hujan di daerah khatulistiwa Afrika dan harus menyelesaikan siklus hidupnya dalam 12 minggu sebelum kubangan air tersebut kering.

          Namun, sekarang para peneliti dari James Cook University di Australia telah menemukan bahwa goby kecil (sejenis ikan tawar yang berwarna-warni) mempunyai masa hidup yang lebih pendek. Hidupnya singkat dan matinya muda. Ikan kecil ini hidup dibatu karang sekitar 56 hari lamanya. Siklus perkembangbiakan yang cepat itu membantu goby kecil dalam menghindari kepunahan.

          Apa maksud dari sebuah hidup yang berjalan dengan singkat dan berakhir dengan sangat cepat? Inilah pertanyaan yang diajukan oleh salah seorang yang paling bijaksana yang pernah hidup. Diakhir hidupnya, Salomo, raja ketiga dari Israel, menyimpang dari Allah. Dia tersesat secara rohani, kehilangan arah dalam memimpin, dan kehilangan tujuan. Dia melihat semua prestasi yang diraihnya dan mendapatinya tidak bernilai sampai dia  mengingat kembali Allahnya (Pkh. 12:13-14). Dia lupa bahwa kita tidak hanya hidup untuk diri kita sendiri tetapi untuk kemuliaan dari satu Pribadi yang menjadikan kita untuk menyembah dan menikmati Dia selamanya.

          Makna hidup tidak ditentukan oleh jumlah hari yang kita miliki, tetapi ditentukan oleh perkataan Allah tentang bagaimana kita telah menggunakan hari-hari yang kita miliki.-MRD II

 

Allah memberi kita anugerah waktu

Untuk kita gunakan sebaik mungkin

Untuk menjalani setiap saat dalam kehendak-Nya

Sesuai rencana-Nya. –Sper

 

 


“Tidak Mau Masuk”

Lukas 15:25-32

 

Kebencian datang ketika kita memandang sesama; kepuasan datang ketika kita memandang Allah.

2 Tawarikh 17-18

Yohanes 13:1-20

 

Beberapa teolog menggolongkan pelanggaran menjadi dua yaitu “dosa daging” dan “dosa roh”. Ini berarti bahwa ada dosa yang bermula dari keingginan jasmani kita; dan ada yang berasal dari “hati” atau watak. Di akhir cerita dari perumpamaan tentang anak yang hilang, sikap anak sulung menjadi contoh bagi kita akan dosa yang berasal dari hati.

          Kita cenderung menganggap anak yang memboroskan harta itu lebih jahat dari anak sulung. Namun, penting untuk diperhatikan bahwa diakhir cerita, anak pemboros itu dipulihkan, diampuni, dan dipenuhi dengan sukacita, sementara si anak sulung berdiri diluar dan menolak untuk masuk.

          Si sulung yang tinggal di rumah lebih dari sekadar tokoh pendukung cerita. Dia membuat kita merenungkan tentang keadaan hati kita, karena suasana hati yang muram menciptakan kepedihan yang tak terkatakan.

          Perasaan tidak puas, iri, kepahitan, kebencian, pembelaan diri, cepat tersinggung, dan rasa tidak berterima kasih adalah sifat-sifat yang menghancurkan pernikahan kita, mempermalukan anak-anak kita, mengucilkan sahabat-sahabat kita, dan menyakiti hati setiap orang termasuk diri kita sendiri.

          Sangatlah mudah untuk membela hati kita yang buruk dan terjerumus ke dalam penipuan dan kemunafikan. Namun, kita harus menjaga hati untuk melawan sikap yang merusak tersebut. Ketika perasaan itu muncul, kita perlu mengakuinya dan mau melepaskannya agar kita dapat mengalami pengampunan Allah.

          Jangan biarkan sikap buruk menyebabkan Anda terkucil sementara yang lain menikmati sukacita. –DHR

 

Ketika kemarahan berdiam dalam hati kita

Kemarahan itu meracuni semua yang kita pikirkan dan lakukan

Ketika iman mencari cara untuk menunjukkan kasih Allah

Iman itu menjaga roh kita tetap kuat dan benar. –Branon

 


“Tercengang Memandang”

1 Petrus 1:3-12

 

Salib Kristus adalah jembatan antara Allah dan manusia.

2 Tawarikh 19-20

Yohanes 13:21-38

 

Pernahkan Anda memperhatikan orang-orang disebuah tempat wisata ? Ditempat –tempat seperti Coliseum di Roma, Petronas Towers di Kuala Lumpur, atau Grand Canyon di Arizona, para pengunjung menjulurkan lehernya agar mendapatkan pemandangan yang lebih bagus. Mereka mengamati dengan rasa ingin tahu yang besar.

          Alkitab memberitahukan kita bahwa hal serupa juga terjadi di surga. Rasul Petrus membuka tirai surga agar kita melihat para malaikat yang memandang rencana penebusan Allah – “hal-hal yang ingin diketahui” mempunyai arti “merundukkan kepala dan memerhatikan dengan seksama dan penuh rasa ingin tahu”.

          Tetapi mengapa para malaikat begitu terpesona dengan keselamatan manusia? Penjelasan yang paling sesuai adalah bahwa mereka kagum pada cara Allah yang menakjubkan dalam mengatasi masalah dosa (Ef. 3:8-12). Salib adalah cara yang dipakai Allah dengan memberikan Putra-Nya sebagai pengganti yang benar untuk membayar hukuman atas dosa sementara tetap menegakkan standar kekudusan-Nya (Rm. 3:19-31). Sekarang Allah menyediakan penebusan kepada siapa saja yang mau bertobat, percaya dan menerimanya.

          Apakah Anda bersyukur atas keselamatan Anda ? Para malaikat pun bersyukur atas keselamatan Anda! Mereka bersuka cita setiap kali ada seorang berdosa yang bertobat dan beriman kepada Kristus (Luk. 15:10). – HDF

 

Aku menatap salib di bukit Kalvari

Sungguh suatu keajaiban ilahi!

Memikirkan kekayaan yang disimpannya untukku-

Harta surgawi adalah milikku. –Christiansen

 

 

 

 

 


“Raja Yang Kembali”

Yohanes 14:1-6

 

Kubur kosong adalah dasar iman kita.

2 Tawarikh 21-22

Yohanes 14

 

Kita mengagumi siapa saja yang bangkit kembali setelah mengalami kegagalan dan kekalahan. Pada tahun 2001, majalah Sports Illustrated menampilkan sebuah artikel mengenai peristiwa “kebangkitan kembali” terbesar di sepanjang zaman. Sangat mengejutkan, mereka menempatkan kebangkitan Yesus di posisi nomor satu. Dalam artikel tersebut dituliskan: “Yesus Kristus, 33 SM. Kebangkitan-Nya bertahan menghadapi segala kritik dan mengejutkan bangsa Romawi.”

          Sungguh penilaian yang tepat! Dalam daftar sejarah kebangkitan kembali, kemenangan Yesus atas maut tentu saja patut mendapat tempat pertama. Sungguh, kebangkitan-Nya berada di posisi yang melampaui semua peristiwa kebangkitan kembali lainnya.

          Kematian pada akhirnya menang atas kehidupan. Ketika seseorang meninggal, tidak ada kemungkinan baginya untuk memperbarui kehidupannya lagi – setidaknya bukan di dunia ini. Namun, hal itu tidak berlaku bagi Yesus. Dia telah berjanji kepada para murid-Nya bahwa setelah disalibkan, Dia akan bangkit kembali untuk hidup – menang atas maut. Matius mencatat hal ini dalam Injilnya: “Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan ………. lalu dibunuh, dan dibangkitkan pada hari ketiga” (16:21). Dan itulah yang dialami oleh Juru Selamat kita.

          Kebangkitan Yesus Kristus memberikan jaminan kepada kita bahwa dengan beriman kepada-Nya, kita juga akan hidup kembali ketika kita dibangkitkan dari kubur (Yoh. 11:25-26). –VCG

 

Ketika Yesus mati disalib yang kejam,

“Ini telah berakhir,” pikir banyak orang di dekat-Nya;

Tetapi kita dapat mengimani apa yang Ia katakan:

“Jika engkau percaya kepada-Ku, engkau tidak akan mati.” –Hess

 

 


“Makanan Bagi Jiwa”

Mazmur 119:9-16

 

Anekdot yang kaya dan cerita-cerita yang memberi inspirasi telah membuat buku-buku serial Chicken Soup for the Soul menjadi buku yang laris terjual. Judulnya yang memuat kata “chicken soup” mengingatkan kita kembali akan saat masa kanak-kanak, hidung yang tersumbat, dan kerongkongan yang gatal – suatu waktu ketika hanya selimut hangat dan semangkuk sup ayam hangat buatan ibu yang dapat memberi kelegaan.

          Bukti ilmiah menunjukkan bahwa seorang ibu sungguh pintar. Sup ayam buatannya memang bermanfaat untuk menangkal pilek. Sup ayam adalah juga salah satu makanan yang digambarkan orang sebagai “makanan yang memberi penghiburan”.

          Ketika bukan tubuh saya melainkan hati saya yang sakit, saya merindukan penghiburan dari firman Allah: kata-kata yang menyejukkan seperti, “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu” (1 Ptr. 5:7) atau janji bahwa apapun “tidak akan dapat “memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Rm. 8:38-39).

          Alkitab – buku terlaris sepanjang masa di dunia – berisi banyak janji, peringatan, tantangan, dan pengetahuan akan Allah. Ketika Anda merasa patah semangat, cobalah “menyendok” satu porsi besar firman Allah. Membaca Alkitab (atau bahkan semakin baik jika firman-Nya tersimpan di dalam hati Anda) bagaikan menikmati semangkok sup ayam buatan ibu. Hal itu akan menghangatkan dan menyembuhkan hati Anda. –CHK

 

Firman Allah adalah penyembuh, penghibur dan kekuatan

Untuk memenuhi kebutuhan hati Anda, memberi makan jiwa Anda;

Daripada kehabisan tenaga untuk mencari banyak sumber daya,

Rasakanlah kebaikan Tuhan yang telah memulihkan Anda. -Hess

 

 

 

 

 

 

 

 


“Aman Bersama-Nya Selamanya”

Mazmur 34:9-23

 

Allah senantiasa memegang kendali dibalik setiap peristiwa yang kita alami.

2 Tawarikh 25-27

Yohanes 16

 

Amy Beth sedang mengajak anjingnya jalan-jalan di lingkungan seputar rumahnya ketika dia melihat seorang pemuda berlari ke sebuah jalan kecil yang terdekat. Sebuah mobil menguntit pemuda tadi. Si pemuda mengambil sebatang kayu besar dari tempat sampah dan mulai mengayunkannya ke mobil yang mengikutinya. Amy Beth ketakutan. Dia terjebak dalam sebuah perkelahian antar kelompok.

          Tiba-tiba pengemudi mobil mencoba meloloskan diri dengan memundurkan mobilnya. Mobil itu menabrak Amy Beth. Dia terhempas ke atas kap mobil, lalu terlempar ke jalan. Yang mengherankan, lukanya tidak begitu serius.

          Kemudian Amy mencoba untuk memahami kejadian yang dialaminya dan mencari hikmahnya. Dia berkesimpulan: “Hal-hal buruk terjadi hal-hal yang tragis dan mengerikan. Hal-hal baik terjadi, hal-hal yang menakjubkan dan ajaib. Semua hal ini terjadi secara acak dalam hidup kita. Namun, hal-hal itu tidak terjadi secara acak bagi Allah yang menghibur hati kita di saat terluka. Dia mengetahui ………. penderitaan akan muncul. Namun, Allah …………… lebih besar daripada kejadian-kejadian yang kelihatannya bertentangan dengan kebaikan Allah.”

          Kita akan mengalami kesakitan, kecelakaan, kesedihan, dan kematian. Namun, kita tidak berdiri sendiri. Allah ada dalam kendali. “Kemalangan orang benar banyak, tetapi Tuhan melepaskan dia dari semuanya itu” (Mzm. 34:20). Kita dapat berkeyakinan bahwa suatu saat nanti akan aman bersama-Nya selamanya. –AMC

 

Allah kita yang Maha Kasih senantiasa menyertai,

Untuk selamanya Dia mendampingi kita;

Allah akan memberikan penghiburan saat kita dalam ketakutan

Dan juga kedamaian yang tinggal tetap. -Sper

 

 


“Tindakan Lebih Berharga Dari Perkataan”

Matius 9:1-8

 

Tindakan dan perkataan kita harus senada.

2 Tawarikh 28-29

Yohanes 7

 

Terganggu dengan sikap seorang atlit muda yang baru mencapai sedikit prestasi tetapi menyombongkan kemampuannya, seorang komentator acara TV berkata, “Jangan menceritakan kepada saya apa yang akan Anda lakukan!” Tindakan jauh lebih berharga dari perkataan.

          Prinsip ini terlihat dalam kehidupan Yesus. Di Matius 9, seorang lumpuh dibawa kepada-Nya. Bagaimana tanggapan Yesus ? “Dosamu sudah diampuni.” Saat ahli Taurat keberatan dengan tindakan-Nya, Dia bertanya: “Manakah lebih mudah, mengatakan Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah dan berjalanlah?” (ay. 5).

          Jawabannya jelas. Untuk mengatakan bahwa Dia telah mengampuni dosa orang itu adalah mudah, karena hal itu tidak bisa dibuktikan atau disangkal. Namun, untuk mengatakan, “Bangunlah dan berjalanlah” adalah hal berbeda. Hal tersebut dapat dibuktikan secara langsung. Jadi, untuk membuktikan kuasa-Nya dalam mengampuni dosa, Yesus berkata, “Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu” (ay.6). Dan orang lumpuh itupun bangun lalu pulang!

          Tindakan Yesus mendukung perkataan-Nya, dan begitu juga seharusnya kita. Yohanes menulis, “Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran” (1 Yoh. 3:18). Apa yang kita katakan dianggap penting oleh dunia hanya ketika perkataan itu sesuai dengan tindakan kita. Ketika kita menceritakan kasih Kristus kepada orang lain, kata-kata itu akan berkuasa jika disertai dengan tindakan kasih dan kebaikan. Tindakan memang lebih berharga! –WEC

 

Saya lebih suka melihat seorang Kristen

Ketimbang mendengar seseorang yang hanya berbicara saja,

Saya lebih suka melihat tindakannya

Dan memerhatikan cara hidupnya setiap hari. –Herrell

 

 


“Bersyukur Di Sepanjang Tahun”

1 Taw 16:8-13; 23-36

 

Bagi orang Kristen, Thanksgiving bukan sekadar hari raya tetapi sebuah cara hidup.

2 Tawarikh 30-31

Yohanes 18:1-18

 

Kidung yang indah berjudul, We Plow the Fields (Kita Membajak Ladang), sering dinyanyikan di Amerika Serikat selama perayaan Thanksgiving (hari Pengucapan Syukur) pada bulan November. Hal itu mengingatkan saya tentang keluarga-keluarga yang mengadakan pesta tradisional bersama-sama selama musim panen.

          Namun, saya terkejut ketika mendengar lagu itu dinyanyikan di gereja pada bulan Juni yang jauh berbeda dari konteks perayaan aslinya. Kejutan itu mengingatkan saya bahwa mengucap syukur pada Allah atas kebaikan dan pemeliharaan-Nya seharusnya dilakukan secara terus menerus oleh umat-Nya.

          Untuk acara khusus pada perayaan nasional, Raja Daud menulis sebuah lagu untuk memimpin rakyatnya dalam memuji Allah pada masa itu: “Bersyukurlah kepada TUHAN, panggillah nama-Nya, perkenalkanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa! ……… Biarlah bersukahati orang-orang yang mencari TUHAN!” (1 Taw. 16:8,10). Dan lagu itu bertahan sebagai bagian dari buku kidung orang Israel yang terus menerus dipujikan (Mzm. 105:1-15).

          Dua abad yang lalu, Matthias Claudius menulis:

                    Kami bersyukur kepada Allah, Bapa, untuk semua hal

                                    Yang menggembirakan dan baik;

            Waktu menanam dan panen, hidup kami, kesehatan kami, makanan kami;

                        Tak ada pemberian yang layak kami berikan

                        Tuk semua kasih yang telah Allah limpahkan

            Yang Kau kehendaki adalah kerendahan hati, hati yang mengucap syukur.

            Semua anugerah indah yang kami terima adalah pemberian-Mu;

            Kami bersyukur kepada Tuhan, bersyukurlah atas semua kasih-Nya.

          Kita mempunyai begitu banyak hal untuk disyukuri setiap hari, Allah terus-menerus menyediakan semua keperluan kita. Jadi marilah merayakan Thanksgiving di sepanjang tahun. –DCM

 

 

 


“Ikut Bertanding”

Kolose 1:24-29

 

Jangan mengubur hidup Anda dengan memendam karunia-karunia Anda.

2 Tawarikh 32-33

Yohanes 18:19-40

 

Saya suka pergi ke lapangan Wrigley di Chicago untuk menyaksikan pertandingan bisbol – duduk di tribun, makan hot-dog yang besar, dan memberi semangat kepada tim Chicago Cubs untuk meraih kemenangan!

          Sayangnya, kekristenan telah memiliki banyak kesamaan dengan olahraga professional. Menurut pengamatan seorang teman saya, ada sembilan orang di lapangan bisbol sedang bertanding, sementara ribuan orang di tribun hanya menyaksikan saja. Seperti yang mungkin Anda ketahui, itu bukanlah rencana Allah bagi umat-Nya. Dia menginginkan kita untuk keluar dari tribun, masuk kelapangan, dan bergabung dengan tim yang bertanding.

          Jika Anda sedang mencari tahu tentang apa yang bisa Anda lakukan di lapangan, jangan bertanya-tanya lagi. Bagaimana dengan harta yang Anda miliki? Yesus dapat memakai “perak dan emas” yang Anda miliki dan menggunakan untuk mencapai hal-hal besar untuk kemuliaan-Nya.

          Tetapi lebih dari sekadar menulis cek, Anda mempunyai karunia yang dapat Anda berikan. Allah telah memberikan karunia rohani kepada setiap kita yang bersedia membantu untuk memperluas kerajaan-Nya. Baik itu karunia mengajar, menasihati, melayani, menunjukkan keramahan, atau belas kasihan, setiap karunia tersebut memberikan manfaat yang besar. Marilah kita mengikuti teladan Paulus, yang tidak kenal lelah melayani di ladang Allah untuk sukacita karena dipakai oleh-Nya (Kol. 1:28-29).

          Percayalah, sungguh jauh lebih bermanfaat ketika kita berada dilapangan daripada duduk di tribun. –JMS

 

Mulailah dari tempat Anda berada ketika melayani Tuhan

Peganglah janji-Nya yang pasti dan percayalah firman-Nya;

Allah hanya meminta Anda melakukan yang Anda mampu,

Ia akan memakai usaha Anda tuk menjalankan rencana-Nya. -NN

 

 

 


“Suara Khas Chickadee”

1 Tesalonika 5:12-24

 

Allah berbicara kepada mereka yang bersedia mendengarkan.

2 Tawarikh 34-36

Yohanes 19:1-22

 

Burung chickadee (burung kecil yang jambul dan tenggorokannya berwarna hitam, hidup di Amerika Utara) memiliki tingkat kerumitan yang mengherankan dalam membuat suara-suara keributan sebagai tanda bahaya. Para peneliti menemukan bahwa chickadee menggunakan suara berfrekuensi tinggi untuk memperingatkan adanya bahaya di udara. Tergantung pada situasi, suara chickadee juga bisa memberi isyarat pada burung-burung lain tentang sumber makanan terdekat atau tentang pemangsa yang bertengger terlalu dekat.

          Penelitian juga telah menemukan bahwa chickadee tidak merasakan adanya bahaya dari pemangsa besar seperti burung hantu berparuh besar, karena mereka tidak suka memangsa seekor burung kecil. Namun burung hantu kecil, yang ukurannya hampir sama dengan chickadee dan lebih menimbulkan ancaman, menyebabkan chickadee mengulang-ulang suara mereka yang menandakan bahaya suara khas yang dimiliki chickadee.

          Tingkat kesadaran yang serupa juga bermanfaat bagi kita. Dalam surat Rasul Paulus yang pertama kepada jemaat di Tesalonika, dia tidak hanya mengecam kejahatan-kejahatan dunia. Dia juga memfokuskan perhatiannya pada masalah hati yang bisa membahayakan diri kita tanpa kita sadari. “Perhatikanlah, supaya jangan ada orang yang membalas jahat dengan jahat, tetapi usahakanlah senantiasa yang baik” (1 Tes. 5:15). “Janganlah padamkan Roh” (1 Tes. 5:19). “Ujilah segala sesuatu” (1 Tes. 5:21).

          Dengan pertolongan Roh Kudus, marilah kita tetap menyelaraskan hati kita sesuai dengan peringatan dalam Alkitab. –MRD II

 

Betapa kita butuh kesadaran penuh

Akan suara Allah dalam firman-Nya,

Bisikan senyap, dorongan lembut

Agar kita menjadikan-Nya Raja dan Tuhan. –NN

 

 

 


“Kekhawatiran”

Mazmur 91:9-16

 

Kita tidak tahu masa depan, tetapi kita dapat percaya pada satu Pribadi yang memegang masa depan.

Ezra 1-2

Yohanes 19:23-42

 

Saya tahu seharusnya saya tidak khawatir, tetapi saya sedikit cemas mengenai suatu hal. Hal ini barangkali dikarenakan oleh sebuah situasi baru di dalam keluarga. Sewaktu melihat situasi di sekeliling, saya tidak bisa menahan diri untuk tidak khawatir. Saya dan istri saya baru saja mengetahui bahwa kami akan menjadi kakek dan nenek. Hal ini membuat saya berpikir mengenai bagaimana kondisi dunia nantinya ketika cucu kami tumbuh dewasa.

          Kemungkinan cucu kami akan lulus SMU tahun 2024. Apakah biaya kuliah nantinya akan sebesar 900 juta rupiah per tahun? Jika masih ada minyak yang tersisa, akankah bensin segalon (4,5 liter) harganya Rp 225,000.00? Akankah moral dan etika ketinggalan zaman? Dan apakah gereja masih memberikan dampak?

          Masa depan bisa menjadi suatu hal yang menakutkan. Masa depan yang tidak diketahui dapat menjadi masalah besar, terutama ketika masa sekarang yang dialami pun telah mempunyai begitu banyak masalah. Oleh karena itu, kita perlu percaya kepada apa yang Allah telah janjikan.

          Apapun situasi yang akan dihadapi cucu kita nantinya, mereka dapat bersandar pada janji Allah tentang pertolongan-Nya – tanpa menghiraukan apapun yang akan terjadi didunia. Allah berkata, “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (Ibr. 13:5). Dan Yesus mengatakan, “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat. 28:20).

          Itu adalah janji-janji Allah yang luar biasa dan dapat menjadi pegangan ketika kita mulai khawatir akan masa depan, apakah itu masa depan kita atau masa depan generasi kita berikutnya. –JDB

Khawatir akan kesusahan dan permasalahan masa depan

Hanya akan mendatangkan kepedihan dan kesedihan;

Tuhan telah mengatakan agar kita tidak khawatir

Mengenai kesusahan di hari esok. -Sper

 


“Jadilah Pengikut-Ku”

1 Korintus 4:9-17

 

Teladanilah mereka yang meneladani Kristus.

Ezra 3-5

Yohanes 20

 

Andrew Marton mengingat pertama kalinya dia bertemu Peter Jennings yang akan menjadi saudara iparnya. Peter adalah seorang reporter berita luar negeri terkenal pada tahun 1977. Andrew mengatakan bahwa dirinya sangat grogi saat itu sehingga dia bertingkah seperti “seorang penggemar yang gugup ketika bertemu pahlawan jurnalistik yang pesona pribadinya sangat kuat.”

          Andrew mengagumi Peter dan berusaha untuk menyamainya. Dia juga menjadi seorang jurnalistik dan melakukan pekerjaan-pekerjaannya dengan cara seperti yang dilakukan Peter – “dia menekuni pekerjaannya dan bekerja lebih keras dari yang lainnya.” Andrew berusaha berjalan seperti Peter, berpakaian sama seperti Peter, dan ingin memiliki “aura” yang sama.

          Kita semua cenderung untuk mengikuti teladan dari orang lain. Jemaat Korintus juga melakukannya. Namun, mereka menggeser fokus mereka menjauh dari Kristus dan lebih berfokus kepada masing-masing pemimpin mereka. Bukannya meneladani sifat-sifat Kristus yang ada dalam diri para pemimpin mereka, jemaat Korintus malah membiarkan kesetiaan mereka terpecah dalam beragam perpecahan dan perdebatan di dalam gereja (1 Kor. 1:10-13). Rasul Paulus mengetahui kesalahan mereka, sehingga dia mengirim Timotius untuk mengingatkan mereka tentang pengajarannya dan pentingnya melangkah dalam ketaatan pada Tuhan (1 Kor. 4:16-17).

          Kita juga harus meneladani Kristus (1 Ptr. 1:15-16). Hal yang juga dapat membantu adalah jika kita memiliki pembimbing rohani yang hidupnya meneladani Kristus. Mereka yang berjalan bersama Kristus memberikan teladan, namun teladan utama kita adalah Yesus. –AMC

 

Mengikuti langkah-langkah setiap mereka

Yang matanya tertuju pada Tuhan

Akan membantu untuk tetap kuat dan benar,

Dan setia pada firman-Nya. –D.De Haan

 

 


“Karya Seniku”

Keluaran 35:30-35

 

Lakukan segala sesuatu bagi kemuliaan Allah.

Ezra 6-8

Yohanes 21

 

Mengapa menanam bunga? Kamu kan tidak dapat memakannya, “kata ayah mertua saya setelah melihat saya menanam bunga warna-warni dan harum sebagai kegiatan di musim semi. Ayahnya Jay adalah seorang insinyur – jenis orang yang praktis. Dia bisa membuat apapun bergerak sesuai dengan fungsinya tetapi membuatnya menjadi indah bukanlah sebuah prioritas. Dia lebih menghargai fungsi daripada bentuk, kegunaan daripada keindahan.

          Allah menciptakan kita dengan karunia-karunia yang berbeda. Insinyur yang bekerja untuk kemuliaan Allah merancang mesin-mesin yang mempermudah hidup. Allah juga menciptakan seniman, yang membuat hidup lebih menyenangkan. Seniman ini menciptakan hal-hal indah untuk kemuliaan Allah dan dinikmati oleh orang lain.

          Ketika memikirkan tentang seni dalam penyembahan, kita biasanya berpikir tentang musiknya. Namun, ada bentuk seni lain yang telah lama berperan dalam memuliakan Allah. Penunjukan Bezaleel memperlihatkan kepedulian Allah atas seni (Kel. 35:30-35). Allah menugasinya untuk memperindah tempat ibadah resmi yang pertama: tabernakel. Menurut Gene Edward Veith, tujuan Allah atas seni adalah “untuk memuliakan Allah dan untuk menunjukkan keindahan.”

          Ketika karunia artistic dihidupkan oleh Roh Allah, karunia itu menjadi suatu bentuk penyembahan yang kemudian bisa menjadi suatu kesaksian untuk menuntun orang-orang kepada Kristus. Allah telah memperkaya hidup kita dengan keindahan. Dan giliran kita adalah menyatakan rasa terima kasih kita dengan memperlihatkan kemuliaan-Nya melalui setiap karya seni kita. –JAL

 

Bapa, biarlah karya kami – apapun itu –

bisa menarik perhatian yang menyebabkan orang lain

memuji dan menyembah-Mu. Amin

 

 

 


“Makanan Untuk Esok Hari”

Matius 6:9-13

 

Permasalahan kita tidak pernah menghambat pemeliharaan Allah bagi kita.

Ezra 9-10

Kisah Para Rasul 1

 

Belum lama ini, saya melakukan perjalanan ke Republik Demokratik Kongo untuk memimpin sebuah Bible Conference. Saya mengamati keindahan Hutan Nyungwe dan Sungai Ruzizi, yang memisahkan Kongo dari Rwanda. Saya merasakan keramahtamahan yang mengagumkan dari orang-orang Kongo, dan saya terharu oleh iman mereka yang tulus atas pemeliharaan Allah.

          Karena pengangguran, kemiskinan, dan kekurangan gizi adalah masalah yang serius di Kongo, orang-orang Kongo sering tidak tahu apa yang akan mereka makan esok hari. Jadi setiap kali makan, mereka mengucap syukur kepada Allah dan meminta-Nya untuk menyediakan makanan untuk esok hari.

          Doa mereka sangat mirip dengan doa Yesus dalam Matius 6:11, “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.” Kata makanan merujuk pada semua jenis makanan. Frasa “hari ini” mengindikasikan persediaan makanan bagi mereka yang cukup untuk kebutuhan satu hari.

          Banyak pekerja pada abad pertama yang dibayar harian. Jadi, bila mereka sakit selama beberapa hari, hal ini bisa berarti tragedy. Frasa “yang secukupnya” bisa diartikan “untuk esok hari”. Doa itu akan menjadi: “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami untuk esok hari.” Ini adalah suatu doa yang penting bagi mereka yang hidupnya dibawah standar kecukupan.

          Doa ini mengingatkan para pengikut Yesus dimanapun untuk menyadari bahwa kemampuan kita untuk bekerja dan memperoleh makanan berasal dari tangan Allah. –MLW

 

Tuhan, terima kasih untuk makanan kami hari ini

Dan segala hal yang Kau sediakan;

Teguhkan iman kami dan bantu kamu kami untuk melihat

Bahwa persediaan-Mu sungguh tak terhingga. -Sper

 

 

 

 


“Hidup Yang Sulit”

Mazmur 119:65-72

 

Penderitaan bukanlah dirancang untuk menghancurkan kita tetapi untuk membawa kita kepada Allah.

Nehemiah 1-3

Kisah Para Rasul 2:1-21

 

Sepanjang zaman depresi di tahun 1930-an, Little Orphan Annie (Annie, Bocah Yatim Piatu) adalah cerita komik dan program radio yang popular. Beberapa tahun kemudian, cerita itu menjadi dasar untuk pertunjukan komedi musical Annie. Adegan pembukaan memperlihatkan Annie yang tinggal di sebuah panti asuhan. Anak-anak putri yang tinggal di sebuah panti asuhan. Anak-anak putri yang tinggal didalamnya dipaksa untuk membersihkan dan menggosok lantai pada tengah malam. Untuk mengekspresikan ketidakberdayaan, mereka bernyanyi: “Ini adalah pengalaman hidup yang sulit bagi kami. Tak seorang jua yang memedulikan kami sedikitpun ketika kami tinggal disebuah panti asuhan. Ini adalah pengalaman hidup yang sulit bagi kami.”

          Ketika berbicara mengenai “pengalaman yang diperoleh melalui kesulitan hidup”, kita sedang mengacu pada pengalaman-pengalaman keras dalam hidup yang telah mengajar kita. Menghindari rasa sakit adalah bagian dari sifat alami manusia. Namun, orang percaya dapat belajar dari keadaan yang menyakitkan.

          Pemazmur dengan bijaksana berkata, “Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu” (119:71). Rasa sakit hatinya terjadi terutama karena dia difitnah (ay.69-70). Meskipun mengalami keadaan sulit, pemazmur menyadari bahwa keadaannya tersebut bisa mengajar dirinya untuk menghargai firman Allah.

          Masalah apa yang Anda hadapi hari ini? Serahkanlah kepada Tuhan dalam doa. Kemudian renungkanlah firman Allah dan mengucap syukurlah untuk pelajaran hidup yang Anda pelajari. Tuhan atas langit dan bumi berdaulat – bahkan melampaui “pengalaman yang diperoleh melalui kesulitan hidup”. –HDF

 

Allah masih berada di atas takhta,

Ia tidak pernah meninggalkan milik-Nya;

Janji-Nya benar, Ia tidak akan melupakan Anda,

Allah masih berada diatas takhta. –Suffield

 


“Kebanggaan Diri”

Efesus 1:3-12

 

Anak-anak Raja menemukan arti dirinya di dalam Kristus.

Nehemia 4-6

Kisah Para Rasul 2:22-47

 

Ketika saya masih remaja, ayah adalah orang yang paling penting bagi saya. Dia adalah seorang pendeta yang dihormati, pengkhotbah yang bagus, serta pemimpin yang baik dan lemah lembut. Segala karunia yang dimiliki ayah saya telah diakui oleh para majelis di berbagai tempat ia melayani. Wheaton College memberinya anugerah dengan gelar Doktor Kehormatan atas pelayanannya kepada Kristus. Orang-orang sering berkata, “Oh, kamu anaknya Joe Stowell,” atau memperkenalkan saya sebagai, “Anak dari Dr. Stowell.” Saya sangat bangga terhadap ayah saya dan merasa begitu terhormat menjadi anaknya. Selama bertahun-tahun, dikenal sebagai anak dari Joe Stowell adalah hal yang sangat penting.

          Kebanggaan itu barulah gambaran sekilas tentang artinya dipuaskan jika dibandingkan dengan kebanggaan atas posisi kita sebagai anak Raja. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya (Eff. 1:5). Tidak ada kehormatan lain yang sehebat itu. Tidak ada harta, ketenaran, kekuasaan, atau kedudukan yang dapat menandinginya. Ketika kita menerima kenyataan ini, kita terbebas dari godaan untuk membangun dan memanipulasi kepentingan diri sendiri.

          Setiap orang yang berada dalam Kristus mempunyai arti penting didalam Dia. Kita dapat bersuka cita karena kita dikenal oleh karena nama-Nya. “Dia telah memilih kita sebelum dunia dijadikan” (Ef. 1:4). Ketika kita menjadi milik Raja diatas segala raja, kita tidak butuh lagi hal lain untuk kebanggaan diri. –JMS

 

Kita mengagungkan Allah Bapa kita

Dengan nyanyian pujian;

Sebagai anak-Nya yang bersyukur, kita mengaku

Betapa sempurna cara-Nya. -Ball

 

 

 

 


“Surat Dari Ayah”

2 Timotius 1:1-14

 

Hadiah terbesar yang dapat diberikan seorang ayah kepada anak-anaknya adalah dirinya sendiri.

 

Beberapa bulan sebelum meninggal karena kanker, ayah menulis sepucuk surat untuk saya yang berbunyi, “Ketika memikirkanmu, Ayah senantiasa menaikkan doa singkat untukmu dan keberhasilanmu. Ayah mengenalmu. Ayah mengetahui apa yang menjadi alasanmu. Dan Ayah sungguh-sungguh yakin bahwa Ayah memahami segala tujuanmu, tulisan yang ingin kau kerjakan, dan pesan yang ingin kau sampaikan. Tetaplah mengerjakannya dan teruslah berusaha, kiranya Tuhan memberkatimu. Ayah begitu bangga dan bersyukur karena Tuhan mengizinkanku menjadi ayahmu.”

          Surat tersebut adalah salah satu hadiah terbaik yang pernah ia berikan kepada saya.

          Kitab Perjanjian Baru memuat dua surat dari Rasul Paulus untuk Timotius, seorang anak muda yang dibimbingnya dan dianggapnya sebagai “anaknya yang sah didalam iman” (1 Tim. 1:2), dan “anaknya yang terkasih” (2 Tim. 1:2). Surat 2 Timotius diawali dengan perkataan Paulus secara pribadi dan mendalam untuk menyakinkan Timotius akan kasih dan doa Paulus yang tulus untuknya (ay.2-3). Paulus menegaskan akan warisan rohani yang dimiliki Timotius (ay.5) dan atas panggilan dan karunia Allah yang ada padanya (ay.6-7). Kemudian Paulus mendorong Timotius agar berani hidup bagi Injil Kristus (ay.8).

          Para ayah, Anda bisa memberikan dorongan yang kuat untuk anak-anak Anda dengan menuliskan sepucuk surat yang menyatakan kasih dan memberikan peneguhan. Surat itu bisa jadi sebuah hadiah terhebat yang Anda berikan untuk anak-anak Anda. Jadi, cobalah menulis untuk anak Anda hari ini! –DCM

 

Allah memberi kita anak-anak pada suatu masa

Untuk kita pelihara dan kasihi,

Untuk memberi mereka dorongan,

Dengan hikmat yang berasal dari-Nya. –Sper

 

 

 

 


“Gunakanlah Dengan Bijak”

Kejadian 1:27-31; 2:8-15

 

Allah menciptakan bumi dan memercayakannya dalam pemeliharaan kita.

Nehemia 10-11

Kisah Para Rasul 4:1-22

 

Allah memberi kita hadiah yang luar biasa – dunia yang indah tempat kita tinggal. Namun, secara alami, saat kita hidup bersama dengan begitu banyak orang di planet ini, kita akan menghadapi risiko melihat lenyapnya keindahan dan terkikisnya kekayaan alam yang ada di bumi.

          Meskipun memiliki hak untuk mempergunakan kekayaan alam yang Allah tempatkan di dalam dan di atas permukaan bumi, kita juga perlu mengetahui tanggung jawab kita untuk menghormati bumi sebagai milik-Nya dan memelihara kekayaan alamnya untuk generasi yang akan datang.

          Dalam Kejadian, Tuhan memerintahkan Adam (dan kita semua, sebagai keturunannya) untuk “mengerjakan dan memelihara” bumi (2:15). Karena kita tidak tahu kapan Yesus akan kembali, akan menjadi suatu penatalayanan yang tidak bertanggung jawab apabila kita mewarisi anak-cucu kita tanpa kekayaan alam yang Allah juga sediakan bagi mereka.

          Kita mungkin berpikir bahwa usaha yang kita lakukan sendiri untuk menjaga bumi milik Allah tidaklah berharga. Namun, kita semua bisa bekerja sama mengerjakan bagian kita. Mengurangi pembelanjaan dan sikap konsumtif, hidup lebih sederhana, memperbaiki sesuatu yang rusak ketimbang mengganti dengan yang baru, dan mendaur ulang adalah penerapan dari penatalayanan yang baik.

          Sebuah cara yang bisa kita lakukan untuk membuktikan kasih kita kepada Allah dan menunjukkan rasa syukur kita atas apa yang telah Dia lakukan adalah dengan mengolah dan memelihara bumi dan semua yang ada didalamnya. Sampai kedatangan Tuhan kembali, marilah kita memakai sumber daya bumi dengan bijak. –JDB

 

Alam raya yang telah Allah ciptakan

Telah diberikan pada kita dan harus dipelihara;

Kiranya generasi-generasi yang akan datang

Bersyukur karena kita memeliharanya. –D. De Haan

 


“Kebebasan Atau Kebosanan?”

2 Yohanes 1:1-6

 

Sukacita adalah hasil perjalanan kita bersama Allah.

Nehemia 12-13

Kisah Para Rasul 4:23-27

 

Selama Perang Dunia ke-2, seorang rekan tentara berkata kepada saya, “Herb, tampaknya kamu bahagia. Namun, jika saya harus menjalani kehidupan seperti yang kamu jalani, saya pasti akan segera mati.” Dia bermaksud mengatakan bahwa hidup saya sangat bermoral dan hidup seperti itu pastilah sangat membosankan. Namun, saya tidak pernah berpikir bahwa hidup saya seperti itu. Bahkan sebenarnya, saya seringkali merasa bersalah karena banyaknya kegagalan yang saya lakukan.

          Saya tumbuh di keluarga Kristen yang mengajarkan bahwa saya adalah seorang berdosa yang memerlukan keselamatan. Saya juga belajar bahwa Allah dalam diri Yesus Kristus telah menebus dosa-dosa saya.

          Lalu, melalui pelayanan Roh Kudus, saya menyadari kebenaran ajaran tersebut. Dan dimasa kanak-kanak, saya menaruh kepercayaan saya dalam Yesus dan memercayakan hidup saya kepada Dia. Sejak saat itu, saya mencoba untuk hidup dan menjalani perintah untuk mengasihi Allah dan sesama (Mat. 22:37-40). Ketaatan saya kepada Allah adalah sebuah tanggapan alami untuk seseorang yang benar-benar telah percaya.

          Dalam Kitab 2 Yohanes kata perintah dipergunakan empat kali untuk mengingatkan bahwa kita harus berjalan dalam jalur kebenaran dan mengasihi sesama (ay.4-6). Umat Kristen yang melakukannya akan menemukan sukacita dan kebebasan, bukannya kebosanan dan belenggu, seperti yang dipikirkan dengan salah oleh kebanyakan orang.

          Saya sangat menyukai perkataan Yesus dalam Matius 11:30, “Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.” –HVL

 

Berbahagialah mereka yang mengasihi Tuhan,

Yang hatinya mengakui Kristus,

Yang karena salib-Nya, mereka telah menemukan kehidupan,

Kuk-Nya menjadi tempat mereka bersandar. – Bridges

 

 


“Kepercayaan Yang Mendalam”

2 Korintus 3:1-11

 

Kita harus mengalami kelemahan diri untuk mengalami kuasa Allah.

Ester 1-2

Kisah Para Rasul 5:1-21

 

Five For Fighting adalah nama panggung dari seorang artis rekaman yang popularitasnya melambung setelah serangan teroris tanggal 11 September 2001. Dia menyanyikan lagu “Superman (It’s Not Easy) [Superman (Tidaklah Mudah)],” sebuah balada yang membayangkan bagaimana rasanya menjadi seorang pahlawan super. Namun, dia  bergumul dengan kekuatannya yang tidak cukup kuat untuk menghadapi kerumitan yang terdapat dalam dunia ini.

          Orang-orang tampaknya ikut merasakan tema lagu ini. Kehidupan nyata membuktikan bahwa kita tidak kuat mengatasi banyak beban yang begitu besar dihadapan kita. Bahkan mereka yang ingin mandiripun tidak sanggup menjalani hidup dengan kekuatan sendiri.

          Sebagai pengikut Kristus, kita mempunyai sumber daya yang bahkan tidak pernah dimiliki oleh Superman. Dalam hubungan kita dengan Allah, kita mengalami kecukupan untuk suatu hidup yang sanggup mengatasi kekurangan kita dan memampukan kita untuk hidup berkemenangan. Ini adalah dorongan Paulus kepada kita saat dia menulis surat untuk jemaat di Korintus. Dia berkata, “Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah” (2 Kor. 3:5). Hal inilah yang membedakan kita di dunia ini.

          Dengan mengandalkan diri sendiri, mau tidak mau kita menjalani hidup dengan kenyataan bahwa kita tidak akan pernah merasa cukup kuat untuk menghadapi pergumulan hidup. Namun, dalam kuasa Allah kita memiliki segala hal yang kita perlukan untuk mengendalikan badai kehidupan dalam dunia yang bergejolak ini. –WEC

 

Yang kubutuhkan hanyalah Dia selalu,

Yang kubutuhkan hingga kulihat wajah-Nya;

Yang kubutuhkan sampai keabadian,

Hanyalah Yesus seorang. –Rowe

 

 


“Sarkasme”

Amsal 15:1-4

 

Kata-kata kasar adalah curahan hati yang penuh dosa.

Yosua 7-9

Lukas 1:21-38

 

Sejak tahun 1968, tokoh-tokoh dalam komik The Lockhorns telah saling bersilat lidah dalam humor yang pedas tentang ketidakharmonisan rumah tangga mereka. Jutaan pembaca dari kurang lebih 500 surat kabar yang menampilkan komik ini telah dihibur oleh percakapan sarkastis antara Leroy dan Loretta. Leroy akan mengatakan hal seperti ini kepada Loretta, “Kita bisa bicara koq sekarang. Tapi tolong jangan halangi TVnya ya.” Loretta dengan sinis menjawab, “Keuangan kita sedang dalam krisis. Itu karena kamu tidak becus kerja, kebanyakan nonton TV.”

          Sambil tertawa, kita mungkin menyaksikan cerminan dari diri kita sendiri dalam humor tersebut. Sarkasme menjadi hal yang sangat umum dan jauh lebih serius dari sekadar yang kita pikirkan. Sarkasme yang tidak berperasaan bisa lebih menyakitkan daripada luka fisik. Salomo berkata bahwa ada orang yang menggunakan kata-kata seperti sebilah pedang (Ams. 12:18), dan lidah curang melukai hati (15:4).

          Mengontrol perkataan kita tidaklah mudah, sebab masalah sebenarnya bukanlah kata-kata kita tetapi hati kita. Alasan di balik semua hinaan itu adalah sepertinya kita memiliki perasaan tidak aman, ketakutan, atau perasaan bersalah dalam diri yang menggoda kita untuk melindungi diri dengan mengorbankan orang lain.

          Apakah ada sisi positif dari kata-kata kasar? Tidak, dan kita perlu menganggapnya sebagai peringatan bahwa kita tidak sejalan dengan Kristus. Dalam pelukan anugerah-Nya, janganlah kita menyerang satu sama lain dalam upaya untuk melindungi diri sendiri. –MRDII

 

Ketimbang melontarkan kata-kata amarah

Yang melukai dan memicu perselisihan,

Gunakan kata-kata yang baik, dipenuhi kasih,

Yang menyembuhkan dan memperkaya hidup. -Sper

 

 


“Menjadi Diri Sendiri”

Yohanes 9:1-25

 

Jika ingin orang lain tahu apa yang dapat dilakukan Yesus baginya, ceritakan padanya apa yang telah Yesus lakukan untuk Anda.

Ester 6-8

Kisah Para Rasul 6

 

Bagi sebagian dari kita yang tidak memiliki karunia untuk menjadi penginjil, kata bersaksi dapat mengingatkan kembali beberapa kenangan yang tidak menyenangkan atau rasa khawatir yang melumpuhkan. Pada kenyataannya, saya pernah beberapa kali merasa gagal ketika mencoba menerapkan metode-metode yang dirancang untuk mempermudah saya dalam bersaksi.

          Jim Henderson, penulis buku Evangelism Without Additives: What if Sharing Your Faith Meant Just Being Yourself (Penginjilan Murni : Membagikan Iman Berarti Menjadi Diri Sendiri), telah membuat usaha bersaksi menjadi tidak terlalu menakutkan lagi. Henderson mengajukan cara pemikiran lain tentang bersaksi. Daripada menceritakan perkataan atau kisah orang lain, kita disarankan untuk “menjadi diri sendiri”.

          Dalam suatu sidang, seorang saksi hanya dipercaya jika ia menceritakan kesaksian dirinya sendiri dan bukan hasil pengalaman orang lain. Hal itu berlaku juga dalam kehidupan rohani. Kisah nyata tentang karya Kristus yang telah dikerjakan-Nya di dalam kehidupan kita adalah kesaksian terbaik yang kita miliki. Kita tidak perlu memalsukan atau mendramatisir suatu kesaksian. Ketika kita menceritakan kebenaran tentang kuasa Kristus yang telah menyelamatkan dan menjaga kita dari dosa, kesaksian itu sungguh dapat dipercaya.

          Jika Anda berpikir bahwa mengikuti kelas yang mengajarkan cara bersaksi atau menghafalkan metode telah membuat Anda enggan untuk bersaksi, cobalah cara lain: jadilah diri sendiri! Sama seperti orang buta yang telah disembuhkan Yesus, katakan saja: “Aku tadinya buta, dan sekarang dapat melihat” (Yoh. 9:25). –JAL

 

                             PEMIKIRAN LEBIH LANJUT

Tulislah kesaksian Anda ketika menerima Yesus sebagai Juru Selamat

pribadi. Cobalah untuk menceritakan hidup Anda yang lama dan

bagaimana hidup Anda yang baru saat ini.

 


“Terbebas”

Markus 10:17-27

 

Iman yang tidak mengorbankan apapun dan tidak meminta apa pun, sama sekali tidak berharga.

Ester 9-10

Kisah Para Rasul 7:1-21

 

Pengurangan barang pribadi biasanya terjadi ketika seseorang pindah ke rumah yang lebih kecil. Perabotan dan barang miliknya terpaksa dikorbankan karena tidak ada tempat untuk menampungnya. Namun, ketika seorang psikolog, Jane Adams, pindah ke rumah yang lebih besar, dia juga melalui proses yang sulit untuk berpisah dengan barang-barang berharga yang diperoleh dari perjalanannya ke berbagai penjuru dunia.  Daripada melakukan pengurangan, dia berusaha membebaskan diri dari hal-hal tidak perlu yang mengikatnya dengan masa lampau.

          “Pengurangan barang,” ujarnya, “rasanya seperti penekanan, pembatasan, and masa lalu; sedangkan pembebasan diri lebih cenderung mengalami kemerdekaan, ekspansi,……….dan memimpikan mimpi baru.”

          Daripada mencari arti hidup dalam harta yang kita miliki, kita dipanggil untuk menemukan hidup dan kemerdekaan di dalam Yesus. Terhadap seorang anak muda yang taat beragama namun kekayaannya telah mengikat dirinya, Kristus berkata: “Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kau miliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku. Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya” (Mrk. 10:21-22).

          Sangat sulit membayangkan Yesus membutuhkan sebuah gudang untuk menyimpan harta benda-Nya. Jika apa yang saya miliki menghalangi saya untuk mematuhi-Nya sepenuh hati, apakah saya siap untuk membuka tangan saya, melepas harta milik saya, dan  dengan bebas bersedia mengikuti Dia? –DCM

 

Tidak lagi aku meminta berbagai hal,

Karena Kristuslah hasratku;

Ia berjalan bersamaku dan berbicara denganku;

Ia adalah pemuasku. -Bang 

 


“Mengenang Kembali”

1 Korintus 11:23-26

 

Mengingat kematian Kristus memberi kita semangat untuk hari ini dan harapan untuk hari esok.

Ayub 1-2

Kisah Para Rasul 7:22-43

 

Beberapa tahun yang lalu, anggota keluarga saya berkumpul di sebuah restoran untuk merayakan hari ulang tahun nenek saya, Hazel Dierking, yang ke-100.

          Tetapi nenek saya tidak hadir di sana. Dia sudah berada di surga selama 16 tahun. Namun, kami sangat bersyukur atas pengaruhnya kepada kami sehingga kami ingin mengenang kembali kehidupannya. Dengan menggunakan cangkir dan alas cangkir berwarna merah muda kesukaannya, kami minum teh bersama dan mengingat kembali akan kebaikan, kebijaksanaan, dan rasa humornya yang luar biasa. Kami senantiasa mengingat dia.

          Ketika lebih dari satu pancaindra kita terlibat dalam sebuah pengalaman,  sesuatu berkecamuk dalam ingatan kita. Mungkin Yesus, yang mengetahui betapa mudahnya kita melupakan sesuatu, memilih sebuah metode yang akan melibatkan pancaindra kita untuk membantu kita mengingat pengorbanan-Nya. Hal itu terjadi dalam sebuah perjamuan – waktu ketika makan roti dan minum cawan anggur – ketika Yesus berkata kepada para pengikut-Nya, “Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku” (1 Kor. 11:24).

          Ketika kita mengambil bagian dalam Perjamuan Kudus, kita mengingat akan kasih dan pengorbanan Yesus dalam bentuk yang nyata. Perjamuan Kudus lebih dari sekadar ritual. Setiap momen saat perjamuan haruslah dirasakan seolah-olah Anda duduk mengitari meja bersama dengan para murid dan mendengar perkataan Yesus.

          Dengan hati yang dipenuhi rasa syukur, kita merayakan Perjamuan Kudus sebagai waktu untuk mengingat-Nya. –CHK

 

Disini kita berkumpul untuk mengingat,

Seperti roti yang dipecahkan ini,

Yesus, yang telah mati bagi kita,

Sekarang telah menjadi pemimpin kita yang hidup. –NN

 

 


“Carilah ……………”

Mazmur 55:1-8,23

 

Allah meminta kita untuk menyerahkan segala beban kita kepada-Nya.

Ayub 3-4

Kisab Para Rasul 7:44-60

 

Sebuah iklan di TV bertanya, “Apa yang Anda cari ketika Anda sedang mengalami stress?” Lalu iklan tersebut memberikan saran, “Carilah [produk kami].”

Setiap orang punya cara masing-masing dalam usahanya mengatasi berbagai stress dalam hidup. Berbagai cara itu antara lain adalah mabuk-mabukan, menyalahkan Allah, makan sebanyak-banyaknya, menyimpan perasaaan dalam hati, dan menyalahkan orang lain. Semua hal itu mungkin bisa menenangkan kita, tetapi semua itu hanyalah jalan keluar sementara untuk melarikan diri dari permasalahan kita. Tidak ada satu produkpun yang dapat menyelesaikan permasalahan kita.

          Dalam Kitab Mazmur pasal 55, Raja Daud mengungkapkan hasratnya untuk lepas dari kesulitan yang dihadapinya, “Hatiku gelisah, kengerian maut telah menimpa aku ………. Sekiranya aku diberi sayap seperti merpati! Aku akan terbang dan mencari tempat yang tenang” (ay. 5,7). Setelah dikhianati oleh teman dan penasihatnya Ahitofel, yang telah meninggalkan Daud untuk membantu musuhnya, Daud ingin pergi (ay. 13-14; baca 2 Sam 15). Dalam Mazmur ini, Daud memberitahu kita bahwa dia mencari Allah dalam ketakutannya (ay. 5-6,17).

          Apa yang kita cari? Penulis Susan Lenzkes menyarankan supaya kita mencari Allah dan mencurahkan isi hati kita kepada-Nya. Dia menulis, “Apapun itu – pertanyaan, penderitaan, dan kemarahan yang paling tajam sekalipun bisa kita sampaikan kepada Allah yang Kekal dan Dia tidak akan terluka ……. Karena kita bisa mengadukan masalah kita saat berada dalam dekapan lengan-Nya. –AMC

 

Wahai umat Kristen, ketika jalan Anda terlihat sangat gelap,

Ketika mata Anda yang penuh air mata memburam,

Segeralah berterus-terang kepada Allah Bapa,

Ceritakan segenap masalah Anda kepada-Nya. –NN

 

 


“Badai Yang Dahsyat”

Markus 4:35-41

 

Ketika kita percaya kepada kuasa Allah, damai-Nya menjaga kita dari kepanikan.

Ayub 5-7

Kisah Para Rasul 8:1-25

 

Dalam bukunya A Perfect Storm (Badai yang Sempurna), penulis Sebastian Junger menuliskan fakta-fakta yang luar biasa tentang kekuatan badai: “Sebuah badai yang telah mencapai tingkat sempurna adalah peristiwa yang paling dahsyat di bumi; gabungan senjata nuklir Amerika Serikat dan bekas negara Uni Soviet pun tidak memiliki energi yang cukup untuk mempertahankan kelangsungan suatu badai selama satu hari. Sebuah badai pada umumnya ……… bisa menghasilkan seluruh energi listrik yang dibutuhkan oleh Amerika Serikat selama tiga atau empat tahun.”

          Para pelaut berhadapan dengan berbagai kondisi cuaca. Namun, mereka yang pernah menghadapi badai hebat memiliki satu perasaan yang sama – takut. Markus 4:35-41 mencatat tentang terjangan angin ribut terhadap kapal yang membawa Yesus dan murid-murid-Nya di danau Galilea. Dalam kepanikan, para murid membangunkan Yesus. Dengan tenang Yesus menghardik angin dan danau itu, “Diam, tenanglah!” seolah-olah Dia sedang menenangkan seorang anak yang gelisah (ay.39). Segera, angin ribut mereda dan danau menjadi teduh sekali. Murid-murid-Nya bertanya, “Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya!” (ay.14).

          Apakah Anda merasa seolah-olah berbagai keadaan dalam hidup Anda bagaikan badai yang dahsyat? Lihatlah kepada Yesus Kristus – Allah yang menjadi manusia – yang memiliki kuasa atas langit dan bumi. Yesus akan memberikan kekuatan kepada Anda untuk bertahan dari serangan badai hingga akhirnya Dia meredakannya. –HDF

 

Allah kita yang Pengasih selalu berada dekat,

Selamanya di sisi kita;

Ia akan membuat kita tenang dalam ketakutan kita

Dan kedamaian yang akan bertahan selamanya. –Sper

 

 

 


“Integritas 101”

Mazmur 101

 

Tak ada ujian yang lebih baik tentang integritas seseorang selain melihat sikapnya saat ia melakukan kesalahan.

Ayub 8-9

Kisah Para Rasul 8:26-40

 

Petugas polisi di Philadelphia dikejutkan oleh sebuah surat dan pembayaran yang diterima dari seorang pengendara motor yang mendapat surat tilang karena mengebut di jalan pada tahun 1954. John Gedge, seorang turis Inggris, sedang mengunjungi kota yang dijuluki Kota Kasih Persaudaraan tersebut ketika dia ditilang saat sedang mengebut. Denda tilangnya adalah $15 (+/- Rp.137 ribu), tetapi Gedge melupakan surat tilang itu selama 52 tahun sampai dia menemukannya lagi didalam sebuah jaket usang. “Pikir saya, saya harus membayarnya,” demikian dikatakan Gedge, 84 tahun, yang sekarang tinggal dipanti jompo di East Sussex. “Orang Inggris membayar semua utangnya. Prinsip saya sudah jelas.”

          Cerita ini mengingatkan saya akan komitmen Daud si pemazmur terhadap integritas. Meskipun dia membuat beberapa pilihan yang salah dalam hidupnya, Mazmur 101 menyatakan ketetapannya untuk hidup dengan tidak bercela. Integritasnya dimulai dari rumah sendiri (ay.2) lalu meluas termasuk ketika memilih sahabat dan orang-orang yang setiawan (ay.6-7). Berlawanan dengan kehidupan yang tidak jujur dari sebagian besar raja di wilayah Timur Dekat kuno, integritas Daud mengajarnya untuk menghormati kehidupan musuhnya, Raja Saul (1 Sam. 24:4-6; 26:8-9).

          Sebagai pengikut Yesus, kita dipanggil untuk hidup dalam integritas dan mempertahankan prinsip yang tegas. Ketika kita menghormati komitmen kita kepada Allah dan orang lain, kita akan mengalami persekutuan dengan Allah. Integritas kita akan menuntun kita (Ams. 11:3) dan membantu kita berjalan dengan rasa aman (10:9). –MLW

 

Tuhan, bersihkan hatiku dari segala kebohongan

Dan ajarku untuk hidup dengan benar;

Tolong aku agar memiliki integritas

Dalam segala yang kukatakan dan kulakukan. –Sper

 


“Fleksibilitas”

Yakobus 4:13-17

 

Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi TUHANlah yang menentukan arah langkahnya. –Amsal 16:9

Ayub 11-13

Kisah Para Rasul 9:1-21

 

Selama beberapa tahun belakangan ini, sungguh menjadi kehormatan bagi saya untuk memimpin beberapa perjalanan studi ke tempat-tempat bersejarah yang tertulis di Alkitab. Beberapa bulan sebelum keberangkatan kelompok kami, kami akan mengadakan serangkaian pertemuan orientasi sebagai persiapan untuk perjalanan kami. Jadwal, akomodasi hotel, informasi orang kontak – semua bisa berubah secara mendadak.

          Oleh sebab itu, kami sering menekankan pentingnya fleksibilitas dalam masa persiapan ini. Kemauan untuk mengikuti peraturan dan beradaptasi dengan segala perubahan yang akan kami temui sungguh sangat berharga sekali. Kehidupan pun bisa sewaktu-waktu menjadi tidak terduga dan sebaiknya kita menanggapinya dengan fleksibel.

          Yakobus menjelaskan cara pandang mengenai fleksibilitas ini di dalam pasal 4 dari suratnya. Meskipun membuat rencana untuk masa depan adalah hal yang bijaksana, kita harus melakukannya dengan pemahaman bahwa tujuan-tujuan Allah mungkin berbeda dengan tujuan-tujuan kita. Ketimbang bersikeras mengatakan, “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu” (ay.13), Yakobus mengajarkan kepada kita untuk lebih fleksibel terhadap pimpinan Allah dalam kehidupan kita. Dia berkata, “Sebenarnya kamu harus berkata, “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu”’(ay.15).

          Mengikut Kristus adalah sebuah petualangan yang bergantung sepenuhnya pada rencana-rencana-Nya yang sempurna – dan fleksibilitas membantu kita untuk bersiap kemanapun tujuan-Nya mengarahkan kita. –WEC

 

Ia tidak memimpinku tahun demi tahun,

Ataupun hari demi hari;

Tetapi langkah demi langkah, jalanku dibukakan;

Tuhanku menentukan arah langkahku. –Ryberg

 

 


“Beban Berat”

Mazmur 32:1-7

 

Allah meminta kita untuk memberikan beban kita kepada-Nya.

Ayub 14-16

Kisah Para Rasul 9:22-43

 

Pernahkah jari-jari Anda terkena lem super lengket atau cat minyak? Apa yang rasanya tidak mungkin untuk dibersihkan, ternyata bisa dibersihkan dengan cairan pembersih yang tepat.

          Demikian juga dengan berbagai beban dalam kehidupan ini. Seseorang yang sedang saya bimbing mengirimkan sebuah e-mail dan meminta saya untuk mendoakannya. Isi pesannya: “Saya tidak sanggup melepaskan diri dari beban ini. Ini adalah sesuatu yang selama ini tidak sanggup saya serahkan kepada Allah. Saya sangat sedih. Saya tahu  bahwa saya harus menyerahkan beban ini kepada-Nya agar diri saya diubahkan. Saya sungguh membutuhkan kekuatan Allah untuk melepaskan diri saya dari beban ini. Saya sadar bahwa pengampunan Allah bisa menyucikan saya jika saya mengizinkan Dia untuk melakukannya. Saya hanya harus memilih untuk mengizinkan-Nya.”

          Tanggapan saya, “Sukacita dari kehidupan Kristen adalah mengetahui bahwa Allah sanggup mengatasi segala sesuatu yang kita serahkan kepada-Nya ………. Tetapi disisi lain, beban berat kehidupan Kristen adalah bahwa kita – sebagai individu yang lemah dan tidak berdaya – seringkali mempertahankan beban yang kita tahu seharusnya diserahkan kepada Allah. Kita semua mengalami perasaan ini.”

          Dosa dan kekhawatiran kita, besar maupun kecil, sepertinya melekat erat pada diri kita seperti lem super lengket. Bagaimanapun solusinya? Kita perlu melepaskan beban tersebut dan meletakkannya di pundak Allah. Alkitab memberitahukan kita: “Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau” (Mzm. 55:23).

          Mengapa Anda masih selalu memikul beban berat itu? –JDB

 

Allah mengetahui beban dan salib kita,

Hal-hal yang menyakiti, pencobaan, dan kehilangan kita,

Ia memedulikan setiap jiwa yang menangis,

Dan menghapus air mata dari mereka yang berduka. -Brandt

 


“Masalah Hati”

Efesus 2:1-10

 

Kita membutuhkan lebih dari suatu permulaan baru; kita membutuhkan hati yang baru.

Ayub 17-19

Kisah Para Rasul 10:1-23

 

Apakah penyakit yang paling banyak diidap oleh penduduk Amerika Serikat? Penyakit jantung. Dibandingkan dengan penyakit lainnya, penyakit jantunglah yang berkemungkinan lebih besar dalam menyebabkan kematian dini.

          Akan tetapi, ada penyakit yang lebih mematikan daripada disfungsi organ yang memompa darah ke seluruh tubuh kita, yaitu penyakit hati rohani yang dialami oleh setiap orang. “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Rm. 3:23).

          Berikut ini adalah diagnosa yang diberikan oleh Yesus Kristus, spesialis terhebat dari semua spesialis penyakit hati: “Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat. Itulah yang menajiskan orang” (Mat. 15:19-20).

          Perkataan-Nya tersebut mengulang pernyataan dalam Yeremia 17:9, “Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?” Diagnosa itu meliputi semua orang yang telah mati karena dosa-dosa mereka (Ef. 2:1).

          Kita memerlukan hati yang baru – untuk dihidupkan kembali. Tetapi bagaimana hal itu bisa terjadi? Dibutuhkan jamahan penyembuhan dari Tuhan kita. Allah menunjukkan kebaikan-Nya kepada kita di dalam diri Yesus Kristus yang diserahkan-Nya untuk mati menggantikan kita. Dia membuat kita hidup karena kasih karunia oleh iman; “itu pemberian Allah” (Ef. 2:8).

          Mintalah pada-Nya untuk melakukan transplantasi hati rohani. –VCG

 

Sekarang beristirahatlah, hatiku yang telah lama terhilang,

Tinggalah dalam pusat kebahagiaan ini, beristirahatlah,

Tidak pernah lagi ku terpisah dari Tuhanku,

Bersama Dia yang memiliki segala kebaikan. –Doddridge

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: