Posted by: Admin | March 6, 2008

Arung Jeram


 “Pengalaman Arung Jeram”

1 Tawarikh 28:9-20

 

Allah akan memandu Anda dalam mengarungi jeram-jeram kehidupan.

Ayub 20-21

Kisah Para Rasul 10:24-48

 

Saya sedang asyik menikmati pengalaman pertama saya berarung jeram – sampai saya mendengar gemuruh jeram yang ada di depan. Perasaan ketidakpastian, ketakutan, dan kegelisahan berkecamuk pada saat yang bersamaan. Mengarungi jeram adalah suatu pengalaman yang sangat mencekam dan menakutkan! Namun kemudian, seketika itu juga, semuanya berakhir. Pemandu yang duduk di bagian belakang rakit telah membimbing kami dengan baik untuk melintasi jeram itu. Selamatlah saya – setidaknya sampai rangkaian jeram berikutnya.

          Masa-masa transisi dalam hidup kita sama seperti mengarungi jeram. Peralihan yang tak terhindarkan dari satu masa kehidupan ke masa berikutnya – dari bangku kuliah ke masa bekerja, dari masa lajang ke pernikahan, dari masa berkarir ke masa pensiun, dari masa menikah ke masa menduda/janda – semua ditandai oleh ketidakpastian dan kegelisahan.

          Salah satu transisi terpenting yang tertulis dalam sejarah Perjanjian Lama adalah ketika Salomo naik takhta menggantikan ayahnya, Daud. Saya yakin Salomo pasti dipenuhi dengan perasaan takut dan gelisah menghadapi ketidakpastian di masa mendatang. Nasihat ayahnya, “Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, dan lakukanlah itu …………….. sebab TUHAN Allah, Allahku, menyertai engkau” (1 Taw. 28:20).

          Anda akan mengalami masa transisi yang berat dalam hidup Anda. Bersama dengan Allah dalam rakit kehidupan, Anda tidak sendirian dalam menghadapinya. Arahkanlah mata Anda kepada-Nya, Sang Pemandu dalam mengarungi jeram. Dia telah memandu banyak orang untuk melalui jeram kehidupan. Lihat! Air tenang di depan Anda. –JMS

 

Saya aman ketika bahaya mengancam

Karena saya percaya pada Kristus, Tuhan

Ia berjanji akan selalu bersama saya,

Walaupun saya takut, iman saya dipulihkan. – Hess

 


“Mengabaikan Allah”

Mazmur 63:1-9

 

Hanya orang bodohlah yang mengabaikan Allah.

Ayub 22-24

Kisah Para Rasul 11

 

Sebagai mantan guru SMA dan dosen tidak tetap, saya sering berpikir: Sungguh tidak menyenangkan ketika mengajar di depan kelas dan tidak seorang siswapun memerhatikan, berbicara dan tidak ada yang mendengarkan, memberikan pengajaran tetapi diabaikan siswa begitu saja.

          Tak seorangpun yang suka dirinya diabaikan. Ketika kita sedang berbicra dengan seorang teman, sangatlah menyakitkan jika kata-kata kita tidak diperhatikan. Saat kita berada disebuah toko dan memerlukan bantuan, sangatlah menjengkelkan jika kita tidak dipedulikan oleh karyawan toko itu. Ketika kita sedang bergumul dengan suatu masalah, betapa sedih hati kita jika tidak seorangpun datang memberikan bantuan.

          Karena itu, bayangkanlah betapa sedihnya hati Allah ketika kita mengabaikan-Nya. Bayangkan betapa hati-Nya yang penuh kasih merasa sakit, ketika kita berbuat seolah-olah Allah tidak ada, padahal Dia tinggal di dalam kita melalui Roh Kudus. Pikirkanlah bagaimana perasaan-Nya ketika kita mengabaikan pedoman-Nya yang tertulis dalam Alkitab yang telah diberikan kepada kita.

          Dalam segala hal, janganlah pernah mengabaikan Allah! Biarlah Allah tetap berada dalam pikiran kita setiap saat. Kita bisa melakukannya dengan membaca Alkitab yang telah diinspirasikan oleh-Nya; dengan meluangkan waktu untuk berdoa dan menyendengkan telinga kita untuk mendengarkan suara-Nya yang tenang dan lembut; dengan merasakan kehadiran-Nya; dengan melayani sesama dalam nama-Nya. Seperti halnya pemazmur, kitapun akan dapat mengatakan, “Jiwaku melekat kepada-Mu” (Mzm. 63:9). –JDB

 

Kita tidak dapat mengabaikan Putra Tunggal Allah,

Dia adalah Tuhan, Maha Kudus;

Dia adalah sumber kehidupan dan kasih,

Yang rela mati menggantikan kita. -Fitzhugh

 

 


“Tidak Terhormat”

Kisah Para Rasul 12:20-24

 

Bukan kepada kami, ya TUHAN, bukan kepada kami, tetapi kepada nama-Mulah beri kemuliaan. –Mazmur 115:1

Ayub 25-27

Kisah Para Rasul 12

 

Raja Herodes dalam jubah kebesarannya menyampaikan pidato kepada rakyat yang ingin mengelu-elukan dirinya. Dia bermegah dalam sanjungan rakyatnya. “[Ini] suara allah dan bukan suara manusia!” teriak rakyat (Kis. 12:22). Takut dan hormat akan satu-satunya Allah yang benar seharusnya membuat Herodes memprotes seruan rakyatnya, namun ia tidak melakukannya. Karena kegagalannya untuk “memberi hormat kepada Allah”, ketika itu juga ia ditampar malaikat Tuhan. Herodes mati dengan cara mengenaskan karena ia tidak memberi hormat kepada Allah.

          Sebaliknya, Paulus dan Barnabas, mempunyai sikap yang sangat luar biasa dalam hal menghormati Allah. Mereka menolak ketika orang-orang menyembahnya (Kis. 14:14-15). Ketika melihat Rasul Paulus menyembuhkan orang yang lumpuh sejak lahir secara ajaib, orang-orang berseru, “Dewa-dewa telah turun ketengah-tengah kita dalam rupa manusia.” Kemudian mereka menyiapkan persembahan korban kepada Paulus dan Barnabas (ay. 11-13). Ketika mendengar hal ini, Paulus dan Barnabas “mengoyakkan pakaian mereka, lalu terjun ke tengah-tengah orang banyak itu sambil berseru: “Hai kamu sekalian, mengapa kamu berbuat demikian?” (ay.14-15).

          Dalam kedua kisah yang bertolak belakang tersebut – tertulis di Alkitab – kita melihat akan sebuah panggilan yang sungguh-sungguh untuk memberikan penghormatan kita kepada Allah dalam dunia yag penuh dengan ketidakhormatan. Allah-lah satu-satunya yang patut dimuliakan, dipuji dan dihormati. Allah-lah satu-satunya yang layak kita sembah. –HVL

 

Takut akan Tuhan berarti memberi-Nya

Kehormatan, kepercayaan, dan kekaguman kita,

Mengakui kedaulatan-Nya,

Tunduk kepada hukum-Nya. –Hess

 

 


“Merasakan Kebebasan”

Roma 6:15-23

 

Hidup bagi Kristus membawa kebebasan sejati.

Ayub 28-29

Kisah Para Rasul 13:1-25

 

Setelah diculik dan ditawan selama 13 hari, lalu kemudian dibebaskan, seorang juru kamera berita dari Selandia Baru, Olaf Wiig, dengan senyum lebar di wajahnya mengatakan, “Disepanjang hidup saya, baru kali ini saya merasa lebih hidup.”

          Untuk beberapa alasan yang sulit dimengerti, pengalaman dibebaskan terasa jauh lebih menyenangkan daripada berada dalam kebebasan.

          Bagi mereka yang menikmati kebebasan setiap hari, sukacita yang dirasakan Olaf bisa menjadi pengingat yang baik tentang begitu mudahnya kita lupa bahwa kita telah diberkati. Hal itu juga berlaku dalam hidup rohani. Mereka yang telah lama menjadi orang Kristen sering melupakan bagaimana rasanya menjadi hamba dosa. Kita dapat menjadi puas diri dan bahkan tidak lagi mengucap syukur. Namun, Allah memberikan sebuah pengingat melalui seorang petobat baru yang kesaksiannya begitu menggugah tentang apa yang telah Allah perbuat dalam hidupnya. Kesaksian itu mengingatkan kita kembali akan sukacita yang kita peroleh ketika kita “dimerdekakan dari hukum dosa dan hukum maut” (Rm. 8:2).

          Jika kebebasan telah membuat Anda bosan, atau jika Anda cenderung memusatkan perhatian kepada apa yang Anda tidak dapat lakukan, pertimbangkanlah hal ini: Bukan saja Anda tidak lagi diperbudak dosa, Anda juga telah dibebaskan untuk menjadi kudus dan menikmati hidup kekal bersama Yesus Kristus! (Rm.6:22).

          Rayakanlah kebebasan Anda di dalam Kristus dengan meluangkan waktu untuk mengucap syukur kepada Allah atas hal-hal yang Anda dapat lakukan secara bebas sebagai hamba-Nya. –JAL

 

Daging penuh dosa tempat kita tinggal

Membuat hidup dalam kebenaran

Menjadi hal yang tidak mungkin dilakukan tanpa Tuhan,

Yang telah mati untuk membebaskan kita. –Sper

 


“Tidak Lagi Memotong Rumput”

Lukas 10:38-42

 

Membantu seseorang di dalam nama Yesus adalah pekerjaan terpenting Anda hari ini.

Ayub 30-31

Kisah Para Rasul 13:26-52

 

Seorang walikota dari sebuah kota kecil di Kentucky, Amerika Serikat, berhenti memotong rumput di pekarangannya pada  tahun 2005. Dia memasang papan di pekarangannya yang bertuliskan: “Banyak hal lain yang lebih penting dalam hidup daripada rumput yang tumbuh tinggi.”

          Walikota itu mengatakan bahwa dia mempunyai beberapa alasan untuk tidak lagi memotong rumput. Salah satu alasannya adalah kematian istrinya karena kanker. Peristiwa itu telah membuatnya memikirkan ulang prioritas-prioritas hidupnya. Dia menikmati suasana santai di sore hari sambil memerhatikan bunga-bunga liar, tupai, dan burung yang sekarang bermunculan di pekarangannya. Seorang anggota dewan kota mengatakan, “Tidak masalah jika dia menyukai keadaan seperti itu. Mungkin dia ada benarnya. Mungkin ada banyak hal yang lebih penting daripada memotong rumput.”

          Walikota tersebut mengajak kita untuk berpikir tentang prioritas. Bagaimana kita menggunakan waktu menunjukkan apa yang kita anggap penting. Di dalam bacaan Alkitab kita hari ini, Marta “sibuk sekali melayani” (Luk. 10:40). Namun, Maria meluangkan waktu untuk duduk “dekat kaki Tuhan” dan terus mendengarkan perkataan-Nya (ay. 39). Mungkin Maria menyadari bahwa dia tidak akan mempunyai banyak kesempatan lagi untuk belajar dari Yesus.

          Kadang-kadang, tanggung jawab seperti mencuci piring, memotong rumput, atau bekerja lembur untuk mengerjakan suatu proyek perlu ditunda, sehingga kita mempunyai waktu bersama dengan Tuhan, atau keluarga, atau temen-teman. Mungkin hal-hal tersebut jauh lebih penting. –AMC

 

Sepenting apapun tugas Anda –

Pekerjaan yang harus Anda selesaikan –

Pastikan Anda tetap menjaga sentuhan manusiawi

Jika Anda ingin melakukan kehendak Allah. –D.De Haan

 

 


“Sujud Menyembah”

Mazmur 95

 

Sikap penyembahan kita jauh lebih penting daripada sikap tubuh kita waktu menyembah.

Ayub 32-33

Kisah Para Rasul 14

 

Orang Yunani dan Romawi kuno menolak posisi berlutut untuk menjadi bagian dalam ibadah penyembahannya. Mereka mengatakan bahwa berlutut tidak pantas dilakukan oleh orang yang merdeka. Berlutut juga tidak sesuai dengan kebudayaan Yunani dan hanya pantas dilakukan oleh orang-orang yang belum beradab. Para pemikir seperti Plutarch dan Theophrastus menganggap bahwa berlutut merupakan kepercayaan kepada takhayul. Bahkan Aristoteles menyebutnya sebagai perilaku yang tidak pernah dianut oleh umat Allah.

          Di dalam Mazmur 95:6, pemazmur menunjukkan bahwa sikap berlutut mengekspresikan sebuah penghormatan yang mendalam kepada Allah. Di dalam satu ayat ini, pemazmur memakai tiga kata yang berbeda dalam bahasa Ibrani untuk mengekspresikan tentang sikap dan posisi yang seharusnya dari seorang penyembah.

          Pertama, ia memakai kata menyembah yang berarti berlutut serta merapatkan dahi ke lantai sebagai sebuah tanda penghormatan kepada Tuhan yang sama artinya dengan bersumpah setia kepada-Nya. Kata kedua yang digunakan oleh pemazmur adalah sujud, yang berarti bertelut untuk memberi hormat dan penyembahan kepada Tuhan. Kemudian pemazmur menggunakan kata berlutut, yang berarti bertumpu pada lutut dan memberikan pujian kepada Allah.

          Menurut pemazmur, berlutut di hadirat Allah adalah suatu tanda penghormatan, dan bukan suatu bentuk sikap tak beradab. Yang terpenting bukanlah semata-mata posisi tubuh kita, tetapi sikap kerendahan hati kita. –MLW

 

Allah yang maha kuasa, dan tak terbandingkan,

Yang mendiami keabadian,

Saya tunduk kepada-Mu dan memuji-Mu,

Terkagum menyadari Kau dapat tinggal di dalam diri saya. -Sper

 

 


“Jangan Cepat Menyerah”

1 Korintus 9:24-27

 

Berlarilah dalam pertandingan untuk meraih hidup kekal.

Ayub 34-35

Kisah Para Rasul 15:1-21

 

Chris Couch baru berusia 16 tahun ketika untuk pertama kalinya dia memenuhi syarat untuk bertanding dalam turnamen golf tingkat tertinggi, yakni PGA Tour. Dia segera diprediksikan sebagai pemain golf masa depan yang akan berprestasi luar biasa dan pasti sukses di masa mendatang.

          Namun, hidup ternyata berjalan tidak seindah yang diharapkannya. Chris tidak memperoleh kesuksesan dalam waktu cepat. Dia membutuhkan waktu selama 16 tahun dan mengikuti 3 rangkaian turnamen yang lebih kecil. Meskipun sempat tergoda untuk menyerah, Chris tekun berjuang. Akhirnya, di usia 32  tahun, dia meraih gelar juara PGA usia 32 tahun, dia meraih gelar juara PGS Tour untuk pertama kalinya ketika menang secara gemilang dalam pertandingan turnamen golf New Orleans Terbuka. Ketekunannya membuahkan hasil, meskipun tidak mudah untuk mencapainya.

          Dalam bukunya A Long Obedience in the Same Direction (Ketaatan Jangka Panjang pada Arah yang Tetap), seorang guru Alkitab, Eugene Peterson, mengingatkan kita bahwa hidup Kristen cenderung mempunyai lebih banyak kesamaan dengan perlombaan marathon daripada dengan perlombaan lari 100 m. Peterson mengatakan bahwa kita dipanggil supaya bertekun dalam “perjalanan jangka panjang, sesuatu yang membuat hidup kita bermakna.”

          Dengan anugerah dan kekuatan dari Kristus, kitapun dapat “berlomba dengan tekun” dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita (Ibr. 12:1). Dengan teladan dari Tuhan kita untuk menolong dan mendorong kita, kitapun dapat, seperti Rasul Paulus, berlari untuk memenangkan hadiah” suatu mahkota yang abadi” (1 Kor. 9:25).

          Jangan terlalu cepat menyerah. –WEC

 

Oh demi iman yang tidak akan menyusut,

Walau ditekan oleh setiap musuh,

Iman yang tidak akan tergoyahkan

oleh kesedihan apa pun di dunia. –Bathurst

 


“Hal-Hal Yang Benar”

Galatia 1:6-12

 

Satu-satunya dasar gereja adalah Yesus Kristus, Tuhan kita.

Ayub 36-37

Kisah Para Rasul 15:22-41

 

David, saya tidak melihatmu di kelas hari ini,” kata saya kepada seorang mahasiswa saya ketika kami berjumpa di kantor Bagian Informasi. David menatap saya dengan pandangan lugu seperti “seorang mahasiswa baru yang kuliah di minggu pertama,” dan barulah dia sadar. Dia telah salah melihat jadwalnya dan mengikuti kuliah dikelas lain.

          Lucunya, ada dua kelas tata bahasa – yang saya asuh dan yang diasuh oleh profesor lain – dan David telah masuk ke kelas yang salah. Saya katakan kepadanya, “Tidak apa-apa. Kamu telah mendapatkan informasi yang benar, jadi saya tidak akan menganggapmu absen.”

          Ketika merenungkan kejadian tersebut, saya berkesimpulan bahwa hal ini mirip dengan pilihan yang dimiliki oleh banyak orang Kristen saat memilih gereja tempat mereka beribadah. Faktor utamanya adalah datang  ke gereja yang memberitakan informasi yang benar – tempat yang mengkhotbakan keselamatan melalui Yesus Kristus (1 Kor. 15:3-5), tempat yang menjadikan Alkitab sebagai standar bagi iman dan tingkah laku, dan tempat yang menyediakan kesempatan untuk melayani dalam nama Yesus. Yang penting, khotbah yang disampaikan menyatakan Injil yang sejati dan pesan Yesus yang sesuai dengan sejarah – bukan sebuah “injil lain” (Gal. 1:6-9). Tidaklah penting siapa yang menyampaikan Injil; yang terpenting adalah pesan yang disampaikan.

          “Injil” apakah yang sedang Anda dengarkan? Apakah Injil itu diletakkan di atas dasar Yesus Kristus? (1 Kor. 3:11). –JDB

 

Seorang pendosa yang berdosa perlu mendengar

Injil sederhana secara jelas dan benar

Yang memberitakan bagaimana Yesus mencurahkan darah dan mati,

Disalibkan karena dosa manusia. –D. De Haan

 

 

 

 


“Kesan Yang Salah”

Yosua 22:10-34

 

Kesan pertama seringkali menghasilkan kesimpulan yang salah.

Ayub 38-40

Kisah Para Rasul 16:1-21

 

Novel pride and Prejudice (Keangkuhan dan Kecurigaan) karya Jane Austen, menceritakan tentang Lizzy Bennet, wanita Inggris dari kelas menengah-atas, yang disukai oleh Tuan Darcy, seorang yang sangat kaya, pendiam, agak menakutkan, dan mempunyai sifat yang sangat rumit. Pada kesan pertama, Lizzy menganggap Tuan Darcy adalah seorang yang sombong, pendiam, dan egois. Jadi, ketika Tuan Darcy menyatakan cintanya, Lizzy menolaknya. Dikemudian hari, Lizzy mengetahui bahwa Tuan Darcy ternyata secara diam-diam banyak berbuat kebaikan terhadap orang lain. Lizzypun mengakui pendapatnya yang salah tentang Tuan Darcy, dan menerima pinangannya.

          Yosua 22 mencatat suatu peristiwa mengenai kesan pertama yang salah. Suku Ruben, Gad, dan Manasye telah mendirikan mezbah di tepi sungai Yordan. Ketika suku Israel lainnya mengetahui hal ini, mereka menjadi marah (ay. 9-12). Karena Allah telah memerintahkan bahwa hanya Dia yang disembah dan bahwa korban hanya dapat dipersembahkan di Kemah Pertemuan (Kel. 20:3; Im. 17:8-9). Mereka melihat pembangunan mezbah ini sebagai suatu perbuatan murtad. Untungnya, imam Pinehas kemudian memimpin utusan untuk mencari tahu alasan mereka mendirikan mezbah tersebut (Yos. 22:13-33). Mereka menerima penjelasan bahwa mezbah tersebut adalah sebagai pengingat akan kesatuan dari semua suku yang mengakui keberadaan satu Tuhan, Allah Israel (ay. 34).

          Kesan pertama seringkali bisa salah. Namun, keterbukaan dalam komunikasi dapat memperbaiki kesalahpahaman yang diciptakan oleh keangkuhan dan kecurigaan kita sendiri. –HDF

 

Jangan terlalu cepat menghakimi apa yang Anda lihat;

Jangan terlalu mengandalkan kesan pertama;

Karena kesalahpahaman berlipat ganda

Tanpa komunikasi. –Sper

 

 


 “Mukjizat Atau Sulap?”

Yohanes 10:22-42

 

Percaya pada Allah, Anda akan percaya mukjizat; Percaya pada Putra-Nya, Anda akan mengalami mukjizat.

Ayub 41-42

Kisah Para Rasul 16:22-40

 

Apakah Yesus benar-benar berjalan di atas air atau hanya menginjak gundukan pasir disepanjang pantai? Apakah Ia benar-benar melipatgandakan roti dan ikan untuk memberi makan 5000 orang atau menghipnotis mereka untuk berpikir bahwa Ia memberi mereka makan? Apakah itu mukjizat atau sulap?

          Brock Gill, seorang ilusionis Kristen, menggali pertanyaan tersebut untuk acara televise British Broadcasting Corporation (BBC). Ia mengesampingkan keyakinan pribadinya untuk menyelidiki mukjizat Alkitab dengan pikiran terbuka. Jean-Claude Bragard, produser acara itu, berkata, “Bahkan jika seorang ateis yang diminta menjadi pemandu acara, kesimpulannya tetap sama.” Disetiap peristiwa, Gill berkesimpulan bahwa Yesus tidak mungkin telah memperdaya orang banyak untuk memercayai apa yang telah mereka saksikan sebagai mukjizat.

          Namun, banyak orang yang sebenarnya melihat sendiri mukjizat yang dilakukan-Nya menolak untuk percaya bahwa Yesus adalah Mesias. Mereka ingin menghukum-Nya karena Ia menyamakan diri-Nya dengan Allah (Yoh.10:30-31). Yesus berkata, “Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku, tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan [mukjizat] itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa” (ay.37-38).

          Mukjizat yang dilakukan Yesus adalah untuk menyatakan diri-Nya sebagai Anak Allah, Juru Selamat yang datang memberikan hidup-Nya guna menebus dosa dunia. Pekerjaan dan kebangkitan-Nya bukan tipuan sulap, melainkan mukjizat kasih dan anugerah-Nya. –DCM

 

Dibutuhkan mukjizat untuk meletakkan bintang di langit:

Dibutuhkan mukjizat untuk membentangkan bumi diangkasa.

Namun, saat Ia menyelamatkan jiwa saya, menyucikan saya,

Dibutuhkan mukjizat kasih dan anugerah! –Peterson

 

“Keterbatasan Bukan Alasan”

Matius 25:24-28

 

Banyak orang membuat kesalahan dengan mengubur talenta mereka.

Mazmur 1-3

Kisah Para Rasul 17:1-15

 

Suzanne Bloch, seorang imigran dari Jerman, sering bermain musik bersama Albert Einstein dan ilmuwan terkenal lainnya. Ia mengatakan bahwa Einstein memang pemain biola yang mahir, tetapi ia membuat jengkel pemusik lainnya karena tidak dapat mengikuti tempo irama. “Ternyata Einstein tidak dapat menghitung tempo irama,” jelas Bloch. Einstein dapat merumuskan teori revolusioner mengenai jagat raya, tetapi ia mengalami kesulitan dalam menghitung tempo irama. Meskipun punya keterbatasan, ia tetap bermain musik dengan penuh semangat.

          Apakah kita sering mengeluhkan keterbatasan yang kita miliki? Kita semua mempunyai kemampuan, tetapi kita juga merasa terganggu dengan keterbatasan yang ada. Kita mungkin tergoda untuk memakai keterbatasan itu sebagai alasan untuk tidak mengerjakan hal-hal yang sebenarnya bisa dilakukan karena Allah telah memampukan kita untuk melakukannya. Hanya karena kita tidak mempunyai keahlian untuk berbicara di depan umum atau menyanyi di dalam paduan suara, bukan berarti kita dapat menjadi penonton saja dalam pelayanan, tidak melakukan apa-apa.

          Dengan menyadari bahwa semua orang mempunyai keterbatasan, kita dapat melangkah maju dengan mencari bimbingan Allah dalam menggunakan talenta kita. Kita pasti dapat berdoa. Kita bisa berbuat baik kepada orang lain. Kita dapat mengunjungi mereka yang kesepian, sakit, dan jompo. Dengan cara yang sederhana dan mengena, kita dapat menceritakan arti Yesus bagi kita. Paulus berkata, “Kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita: baiklah kita melakukannya” (Rm.12:6). –VCG

 

Tuhan Allah, dengan rendah hati saya meminta kepada-Mu

Kekuatan untuk melakukan kehendak-Mu;

Sekarang saya menyerahkan talenta kepada-Mu

Agar tujuan-Mu digenapi. –Cetas

 


“Gila Harta”

Lukas 12:13-21

 

Tidak bertujuan lebih buruk daripada tidak berharta.

Mazmur 4-6

Kisah Para Rasul 17:16-34

 

Tidak dapat dipungkiri terjadi peningkatan kemakmuran di berbagai belahan dunia ketika masyarakat kaya suka mengoleksi peralatan elektronik canggih dan TV layar datar. Kita mungkin dapat menyebut “gila harta”. Namun, ada kegelisahan di tengah-tengah kemakmuran yang sedemikian berlimpahnya. Robert J. Samuelson dalam tulisannya di The Washington Post mengatakan bahwa hal ini adalah “misteri ekonomi zaman sekarang”. Saya bertanya-tanya apakah memang demikian adanya, karena kita sedang berusaha menemukan rasa aman dengan memiliki “lebih banyak harta” – harta yang fana dan cepat lenyap.

          Mengejar harta di dalam Alkitab disebut “ketamakan”. Yesus memperingatkan para pengikut-Nya mengenai ketamakan dengan menceritakan perumpamaan tentang seorang kaya. Orang kaya ini bermasalah bukan karena ia mempunyai tanah yang hasilnya berlimpah-limpah, atau keinginannya untuk mendirikan lumbung yang lebih besar (Luk. 12:16-18). Masalahnya adalah ia menggantungkan seluruh hidupnya pada kekayaannya itu (ay. 15). Ia mendapatkan rasa aman dalam hartanya yang berlimpah dan gagal untuk menjadi “kaya di hadapan Allah” (ay.21). Penolakan untuk menjadikan perintah dan pengenalan akan Allah sebagai dasar hidup telah membuatnya menjadi orang yang bodoh. Ia hidup hanya untuk masa sekarang tanpa memikirkan benar-benar tentang masa depannya (ay.19-20).

          ‘Hidup yang menyenangkan” tidak dapat ditemukan dalam harta. Daripada mencari rasa aman dengan mencari “lebih banyak harta”, kiranya kita menemukan kepuasan sejati dengan menggunakan hidup dan harta kita demi kepentingan kerajaan-Nya. –MLW

 

Ia memiliki semua yang diberikan dunia kepadanya,

Ia telah mencapai semua sasaran yang ia inginkan;

Tetapi sayang, hidupnya adalah sebuah kegagalan,

Karena ia telah melupakan jiwanya. –Denison

 


“Tanaman Pembunuh”

Lukas 14:16-26

 

Ketika kita makin mengasihi Kristus, kita juga makin mengasihi sesama.

Mazmur 7-9

Kisah Para Rasul 18

 

Sebagian penjaga hutan bertugas untuk memadamkan kebakaran hutan. Sebagian lagi bertugas untuk memberantas tanaman yang tumbuh pesat. Sebuah artikel di Mercury News melaporkan kegiatan tim sukarelawan yang bekerja keras memberantas tanaman perusak dari hutan redwood di pegunungan Santa Cruz. Para penjaga hutan menjelaskan bahwa jenis tanaman pendatang, yang mereka berantas, dijual di toko-toko tanaman. Contohnya adalah jenis tanaman beracun dari Jerman yang menjadi masalah besar di California. Tanaman rumahan yang unik dan tumbuh dengan pesat itu bersaing dengan jenis tanaman asli di daerah tersebut. Tanaman itu menjalar dan menutupi segala sesuatu yang menghalangi pertumbuhannya. Tanaman itu dapat sepenuhnya menyelubungi dan membunuh sebatang pohon.

          Melihat cara kerja tanaman perusak ini dapat menolong kita memahami sesuatu yang jauh lebih penting daripada menyelamatkan pohon. Yesus memperingatkan bahwa apapun yang menandingi diri-Nya untuk memenangkan hati kita dapat menghambat kehidupan rohani kita. Ia mengatakan bahwa kasih pada keluarga pun merupakan bahaya yang dapat menghalangi kita untuk mengikut Allah (Luk. 14:16-26). Tuhan kita menuntut kasih dan kesetiaan yang tidak terbagi.

          Ketika kita menghargai Kristus diatas segalanya, kita akan belajar mengasihi keluarga kita dengan kasih yang lebih kuat dan sehat. Namun, selama kita belum memutuskan kepada siapa kita mengaku setia, keterikatan kepada keluarga akan tumbuh di hati kita sama seperti api atau tanaman beracun yang merusak hutan.

          Jangan biarkan apapun menandingi Kristus. –MRDII

 

Untuk mengikut Kristus kita harus melepaskan

Semua yang amat kita sayangi;

Dan ketika kita menyangkal diri kita,

Kemenangan kita menjadi makin jelas. –Sper

 


“Apa Yang Ada Di Tangan Anda?

Keluaran 4:1-5

 

Panggilan Allah untuk melakukan tugas-Nya mencakup kekuatan-Nya untuk menyelesaikan tugas itu.

Mazmur 10-12

Kisah Para Rasul 19:1-20

 

Para pawang ular menjelaskan kepada kita agar jangan sekali-kali menangkap ular dengan memegang ekornya. Ular itu dapat membelit kita dalam sekejap dan menghujamkan taringnya ke tangan kita. Cara yang benar untuk menangkap ular adalah dengan memegang kepalanya. (Jangan sekali-sekali mencoba melakukannya!).

          Menangkap ular dengan memegang ekornya merupakan perintah Allah kepada Musa (Kel. 4:1-5). Musa, yang tentunya pernah menghadapi ular di padang gurun Midian, mengetahui bahwa melakukan hal itu bukanlah suatu tindakan yang bijaksana.

          Apa yang Allah ingin ajarkan kepada Musa ? Allah ingin supaya Musa menyadari kuasa-Nya dan bersedia dipakai Allah sebagai utusan-Nya. Pada dasarnya, tidak banyak perbedaan bagi Musa untuk melemparkan tongkatnya ke tanah dan menangkap ular dengan memegang ekornya. Keduanya adalah taat kepada perintah Tuhan. Pelajarannya adalah bahwa Allah dapat memakai apa saja yang diinginkan-Nya melalui Musa dengan tujuan untuk menguatkan pesan-Nya kepada umat Israel.

          Apa yang ada di tangan kita? Di satu sisi, kehidupan kita berada di tangan kita. Kita dapat membuat pilihan – kita akan menggunakan setiap jam, hari, minggu, bulan, dan tahun untuk mengejar tujuan kita sendiri atau kita akan hidup taat dan berguna bagi Allah yang Maha Kuasa.

          Kita akan terkejut ketika melihat apa yang akan dilakukan Tuhan di dalam dan melalui kita pada saat kita dengan taat melakukan kehendak-Nya.

          Jadi, apa yang ada ditangan Anda? –AL

 

Oh kiranya hidup saya menjadi berguna

Ketika saya melayani Yesus dengan setia;

Dan kiranya dunia melihat Kristus didalam diri saya –

Inilah doa saya yang terdalam. -Hess

 


“Memberikan Yang Terbaik Untuk Allah”

1 Tawarikh 22

 

Hanya yang terbaiklah yang layak dipersembahkan bagi-Nya.

Mazmur 13-15

Kisah Para Rasul 19:21-41

 

Kami telah berlatih menyanyikan sebuah lagu selama beberapa minggu dan sudah terdengar baik. Namun, ada satu bagian sulit yang tetap saja tidak dapat kami nyanyikan dengan benar. Kami sudah merasa cukup baik dan pemimpin paduan suara kami sepertinya juga menganggap demikian. Ia telah lelah melatih bagian yang sulit itu berulang kali.

          Akhirnya ia berkata, “Kita telah bekerja keras untuk menyanyikan bagian itu. Kalian lelah. Saya lelah. Kita tidak mempunyai banyak waktu. Ada 99 persen pendengar yang tidak mengetahui apakah kita menyanyikan bagian itu dengan benar atau salah.” Ketika kami mulai berkemas-kemas, ia melanjutkan, “Tetapi kita akan tetap menyanyikannya dengan benar bagi satu persen pendengar yang mengetahui bagaimana bagian sulit itu dinyanyikan.” Sambil mengeluh, kami membuka kembali halaman-halaman pada buku musik yang sudah sering dilatih itu.

          Pada minggu pagi, tidak banyak orang yang mengetahui bahwa kami telah menyanyikannya dengan baik dan tepat. Namun, itu tidak penting. Yang terpenting adalah kami menyanyikannya dari hati kami untuk Allah – Pribadi yang sangat layak menerima pujian yang terbaik.

          Raja Daud ingin membangun rumah Tuhan yang “luar biasa besarnya” (1 Taw. 22:5). Jadi sebelum meninggal, ia memastikan bahwa putranya, Salomo, mempunyai segala sesuatu yang diperlukannya untuk mendirikan Bait Suci – emas, perak, tembaga, besi, kayu, batu dan orang-orang yang ahli dalam segala macam pakerjaan (ay. 14-15).

          Apapun yang kita lakukan, Allah kita layak mendapatkan yang terbaik dari kita. –JAL

 

Oh sembahlah sang Raja,

Yang Maha Mulia,

Dan bernyanyilah dengan syukur

Untuk kekuatan-Nya dan kasih-Nya. –Grant

 


“Membuang Sampah”

Mazmur 103

 

Pengakuan adalah kunci yang membuka pintu pengampunan.

Mazmur 16-17

Kisah Para Rasul 20:1-16

 

Istri saya biasanya harus mengingatkan saya untuk membuang sampah di hari-hari ketika truk sampah lewat. Ini bukan tugas favorit saya tetapi saya membulatkan tekad untuk menyelesaikannya dan melakukannya. Setelah itu, ada perasaan nyaman ketika mengetahui sampah itu sudah ada di luar rumah dan saya melupakan hal itu sampai minggu berikutnya.

          Seperti halnya kita membutuhkan truk untuk mengangkut sampah yang bertumpuk di rumah, kita perlu mengizinkan Yesus untuk membuang “sampah” yang sudah pasti tertimbun di dalam hati kita. Sungguh bukanlah suatu pemandangan yang indah dipandang ketika kita lupa untuk membuang sampah. Yesus menginginkan kita untuk menyerahkannya secara rutin di bawah kaki salib-Nya. Bahkan Ia berjanji untuk menghapusnya dan tidak mengingatnya lagi.

          Namun, tunggu sebentar! Mungkinkah kita sedang membongkar tong sampah dan berusaha mencari sesuatu yang tidak siap untuk kita buang? Mungkinkah itu kebiasaan dosa yang tetap ingin kita lakukan, atau khayalan yang  masih ingin kita pertahankan, atau balas dendam yang ingin kita lakukan? Mengapa kita masih ingin menyimpan sampah itu?

          Membuang sampah dimulai dengan mengakuinya dan mengandalkan Yesus untuk menyingkirkannya. “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan” (1 Yoh. 1:9).

          Hari ini adalah hari pembersihan sampah. Buang sampah yang ada dan jangan sentuh lagi! –JMS

 

Tuhan, tolong saya untuk tidak menutupi dosa,

Kesalahan-kesalahan tersembunyi yang merayap di dalam hati;

Sekarang saya mengakui semuanya kepada-Mu;

Saya akan selalu terbuka. –D.De Haan

 

 

 


“Perlakukan Dengan Hati-Hati”

Kisah Para Rasul 20:27-32

 

Roh Allah memakai firman Allah untuk mengubah umat Allah.

Mazmur 18-19

Kisah Para Rasul 20:17-38

 

Ketika mengunjungi Jakarta, Indonesia, dalam rangka Bible Conference, saya diundang untuk berkhotbah di gereja setempat. Sebelum ibadah pertama dari dua kali ibadah yang diadakan pada hari Minggu pagi, salah seorang penatua meminta saya untuk memberikan Alkitab saya kepadanya. Dia menjelaskan bahwa para penatua bertanggung jawab atas pengajaran kebenaran alkitabiah yang diberikan kepada jemaat dan penatua itu akan mengembalikan kepada saya Alkitab tersebut dihadapan jemaat. Itu adalah cara nyata untuk menunjukkan kepada jemaat bahwa para pemimpin mereka memercayakan pelayanan firman kepada saya saat ibadah di hari itu.

          Tata gereja tersebut menyadarkan dan sekaligus menguatkan saya. Hal itu mengingatkan saya bahwa kewenangan untuk menyampaikan kebenaran Alkitab kepada jemaat bukanlah sesuatu yang dapat dianggap remeh. Hal yang juga menguatkan saya adalah ketika menyaksikan betapa seriusnya para penatua gereja mengemban tanggung jawab mereka untuk menggembalakan jemaatnya.

          Dalam Kisah Para Rasul 20, kita membaca tentang Paulus yang bertemu dengan para penatua gereja di Efesus. Dalam pesannya kepada pemimpin gereja itu, Paulus mengingatkan mereka mengenai bahaya dari para pengajar palsu (ay. 28-29) dan tanggung jawab para pemimpin gereja untuk membantu jemaat bertumbuh dalam firman Allah (ay.32).

          Apapun tugas panggilan kita, mari kita memperlakukan firman Allah dengan hati-hati. Ketika kita melakukannya, umat Allah akan bertumbuh. –WEC

 

Ya Allah, kepada-Mu kami meletakkan iman kami

Kami bersyukur kepada-Mu atas firman-Mu yang penuh kasih;

Tolong kami untuk menaati firman-Mu,

Sampai kami hidup dalam kekekalan nanti. -Huss

 

 

 

 


“Bukan Itu!”

Yesaya 55:6-9

 

Kita hanya melihat sebagian; Allah melihat seluruhnya.

Mazmur 20-22

Kisah Para Rasul 21:1-17

 

Ketika berkunjung ke Alaska untuk pertama kalinya, saya begitu gembira karena kami akan tinggal di penginapan Gn. Mc Kinley. Saat sedang check-in, secara sekilas saya melihat sebuah batu karang raksasa melalui sebuah jendela besar. Saya bergegas ke teras luar yang menghadap ke pegunungan.

          “Wow,” saya menggumam perlahan sembari menikmati pemandangan itu.

          Seorang pria yang berdiri beberapa meter dari saya berkata, “Uh……. bukan itu!”

          Saat itu saya baru mengetahui bahwa para pelancong yang berkunjung ke Alaska sering tidak dapat melihat Gn. McKinley secara utuh. Menjulang setinggi 6200 m, gunung itu sangatlah tinggi sehingga sebagian besar bagiannya tersembunyi ketika hari berawan. Yang terlihat hanyalah sebagian kecil darinya.

          Kita sering puas dengan pandangan kita mengingatkan kita, “Sebab aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” Dengan pandangan-Nya yang Mahatahu dan Mahaluas, Allah mengetahui siapa saja yang Ia ingin tolong melalui kita, hal-hal yang Ia ingin kita capai, sifat-sifat yang Ia ingin bentuk dalam diri kita.

          Amsal 16:9 berkata, “Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi TUHAN lah yang menentukan arah langkahnya.” Pandangan kita tentang hidup dibatasi oleh kemanusiaan kita tetapi kita bisa memercayakan hidup kita kepada Allah yang memiliki pandangan tak terbatas! –CHK

 

Terlalu banyak hal yang tak dapat saya lihat sekarang,

Penglihatan saya terlalu buram,

Namun, apapun yang harus terjadi, saya akan percaya

Dan menyerahkan segalanya kepada-Nya. -Overton

 

 

 


“Melebihi Imajinasi”

1 Yohanes 2:28-3:3

 

Semua yang kita rindukan akan tergenapi saat kita bertatap muka dengan Yesus untuk pertama kalinya.

Mazmur 23-25

Kisah Para Rasul 21:18-40

 

Selama puluhan tahun, pelukis astronomis telah melukis pemandangan luar angkasa berdasarkan gabungan dari informasi ilmiah dan khayalan mereka. Namun, foto-foto dari robot penjelajah luar angkasa dan Hubble Space Telescope telah mengubah pandangan para pelukis itu tentang kenyataan yang sebenarnya. Di sebuah artikel Los Angeles Times, pelukis astronomis, Don Dixon, mengatakan bahwa foto-foto pertama dari kedua satelit Jupiter, Io dan Europa, “ternyata lebih eksotis dari yang pernah dibayangkan oleh siapapun .” Dixon kini menganggap 70 persen lukisannya tentang luar angkasa merupakan “konsep yang ketinggalan zaman” karena kenyataan yang ada jauh lebih mengagumkan dari yang dibayangkan.

          Walaupun Alkitab memberitahukan kita tentang perkataan dan pekerjaan Yesus, Alkitab tidak melukiskan seperti apa wajah Yesus sebenarnya. Gambaran kita tentang Yesus tampaknya dipengaruhi oleh pelajaran dan ilustrasi yang diberikan di Sekolah Minggu. Namun satu hari kelak, gambaran kita tentang Yesus akan selamanya diubahkan ketika kita bertatap muka dengan-Nya. “Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya” (1 Yoh. 3:2). Harapan itu akan mendorong kita untuk mengejar kesucian (ay.3).

          Bukan hanya kita melihat Tuhan dalam keadaan-Nya yang sebenarnya, kita juga akan sama seperti Dia. Sungguh kenyataan yang luar biasa nantinya – lebih dari yang pernah kita bayangkan! –DCM

 

Ketika Kristus kembali, kita akan melihat wajah-Nya,

Dan diubah oleh kasih karunia-Nya;

Harapan akan menjadi kenyataan-

Lebih dari apa yag pernah kita lihat selama ini. -Sper

 

 


“Perjamuan Di Bulan”

Mazmur 139:1-12

 

Kehadiran Allah bersama kita adalah salah satu dari hadiah terbesar-Nya untuk kita.

Mazmur 26-28

Kisah Para Rasul 22

 

Apollo 11 mendarat di permukaan bulan pada hari Minggu, 20 Juli 1969. Banyak dari kita yang tidak asing lagi dengan pernyataan bersejarah Armstrong ketika dia menginjakkan kakinya di bulan: “Itu adalah langkah kecil bagi seorang manusia; langkah besar bagi umat manusia.” Namun, hanya sedikit dari antara kita yang mengetahui makanan yang pertama kali disantap disana.

          Di dalam pesawat luar angkasa itu, Buzz Aldrin telah membawa seperangkat perlengkapan mini untuk Perjamuan Kudus yang disediakan oleh gerejanya. Aldrin mengirim sebuah pesan radio ke bumi dan meminta para pendengarnya untuk merenungkan peristiwa pada hari itu dan mengucap syukur.

          Ketika radio dimatikan, Aldrin menuang anggur ke cawan perak dan membaca, “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal didalam Aku dan Aku didalam dia, ia berbuah banyak” (Yoh. 15:5). Dalam keheningan, dia mengucap syukur dan memakan roti serta meminum anggur dari cawan.

          Allah ada dimana saja dan penyembahan kita harus merefleksikan kenyataan itu. Di dalam Mazmur 139, kita diingatkan bahwa kemanapun kita pergi, Allah ada dekat bersama kita. Buzz Aldrin merayakan pengalaman itu dipermukaan bulan. Dengan jarak ribuan kilometer dari bumi, Aldrin mengambil waktu untuk bersekutu dengan Allah yang telah menciptakan, menebus, dan menjalin hubungan dengannya.

          Apakah Anda jauh dari rumah? Apakah Anda merasa seolah-olah persekutuan dengan Allah hanyalah sejauh doa. –HDF

 

Lebih dekat pada-Mu,

Indah tiada bandingnya,

Makin dekat pada-Mu,

O, Tuhan mohon Kau sertaku. -NN

                    

 


“Saling Mengenal Di Surga”

Yohanes 20:11-18

 

Perpisahan adalah hukum duniawi – pertemuan kembali adalah hukum surgawi.

Mazmur 29-30

Kisah Para Rasul 23:1-15

 

Maria berdiri di dekat pintu kubur yang kosong. Dia menangis dengan sedihnya karena Tuhannya telah mati. Dia mendambakan “uluran tangan yang tak dirasakannya lagi,” seperti lirik lagu ciptaan Tennyson yang menggambarkan fakta dingin dari kematian bagai “suara dari nyanyian keheningan.”

          Kemudian Yesus muncul. Ditengah kedukaan, mata Maria mengelabuinya karena dia mengira bahwa Yesus memanggil namanya. Maria segera mengenali-Nya. Maria berkata, “Rabuni!” yang berarti Guru (Yoh. 20:16).

          Banyak orang bertanya kepada saya apakah kita akan saling mengenal saat di surga nanti. Saya yakin kita akan saling mengenal di sana. Ketika Yesus menerima tubuh kemuliaan-Nya, para pengikut-Nya mengenali Dia (Yoh. 20:19-20). Suatu hari nanti, kita juga akan mengenakan tubuh kemuliaan (1 Kor. 15:42-49; 1 Yoh. 3:2).

          Yesus berkata kepada para murid-Nya, “Bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga” (Luk. 10:20). Suatu hari kelak, kita akan mendengar kembali suara orang-orang terkasih yang namanya tercatat di surga – suara yang sekarang hening. Kita akan mendengar suara khas dari ayah yang memanggil nama kita dengan kasih sayang, atau suara ibu yang memanggil kita yang sedang bermain agar lekas pulang ke rumah.

          Namun, ada satu suara yang sangat ingin saya dengar melebihi suara-suara yang lain – suara Tuhan Yesus yang memanggil nama saya: “David.” Dan sama seperti Maria, saya akan segera mengenali-Nya. Juru Selamat saya! –DHR

 

Saya akan bertemu dengan-Mu lagi didalam negeri kekal,

Kapanpun Engkau melangkah akan meninggalkan untaian jejak;

Dan hal terindah yang telah menjadi milik saya disini

Akan ada disana dalam kilauan kecantikan abadi. –MacDonald

 

 

 

 


“Naluri”

Mazmur 32

 

Kemanapun Allah menuntun kita, Dia mencukupkan segala kebutuhan kita.

Mazmur 31-32

Kisah Para Rasul 23:16-35

 

Terbang di tengah badai adalah pengalaman yang berbahaya. Kita tergoda untuk terbang mengikuti naluri, yang oleh para penerbang biasanya disebut “bertindak tanpa pikir panjang dengan mengandalkan naluri”. Pilot manapun akan mengatakan kepada kita bahwa tindakan itu akan mengundang bencana. Jika mengandalkan perasaan dan naluri, kita akan kehilangan arah. Anda mungkin mengira pesawat sedang terbang naik padahal sebenarnya sedang mengarah turun. Untungnya, panel pengontrol telah diatur selalu menghadap ke kutub utara dari magnet dan dapat dipercaya setiap saat. Dengan memercayai panduan dari panel pengontrol, meskipun rasa salah, hal itu menjamin keselamatan saat melintasi badai.

          Kita semua menghadapi badai yang akan membingungkan dan mengacaukan hidup. Badai itu mungkin datang dalam bentuk telepon dari dokter, seorang teman yang mengkhianati kita, atau sebuah mimpi yang hancur berkeping-keping. Dalam saat-saat itulah kita harus waspada. Ketika Anda dibutakan oleh kekecewaan hidup, jangan memercayai naluri Anda. Menghadapi badai hidup tanpa berpikir panjang dan hanya mengandalkan naluri dapat mengakibatkan keputusasaan, kebingungan, dan keinginan untuk balas menuntun Anda karena firman-Nya penuh dengan hikmat dan nasihat untuk kehidupan. “Firman-Mu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku” (Mzm. 119:105). Tuntunan-Nya selalu benar!

          Bacalah Alkitab dan percayalah tuntunan Allah. Dia berjanji, “Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh” (Mzm. 32:8). –JMS

 

Allah yang memerintah alam semesta

Dan membuat halilintar bergelora,

Dengan lembut membimbing perahu kecil saya

Agar selamat menuju pantai. -Berg

 

 


“Tertuduh Hati Sendiri”

1 Timotius 1:12-17

 

Ketika kita mengaku dosa kita, Allah akan menyucikan kita.

Mazmur 33-34

Kisah Para Rasul 24

 

Apakah terkadang Anda merasa bersalah dan tidak layak karena sesuatu yang telah Anda lakukan bertahun-tahun yang lalu? Anda telah mengakuinya dan memohon Allah untuk mengampuni Anda, namun ingatan itu masih menghantui Anda.

          Saya bersimpati dengan Anda. Perasaan bersalah masih menyelimuti saya saat teringat bagaimana saya telah mengecewakan seorang wanita tua yang tidak memiliki anak. Waktu itu saya masih dalam pelatihan pelayanan. Dia adalah pelanggan tetap di toko tempat saya bekerja paruh waktu. Setelah beberapa waktu, saya menjadi sahabat dan penasihat rohani bagi dia dan suaminya. Bahkan, saya memimpin upacara pemakaman suaminya.

          Ketika saya pindah ke sebuah kota terdekat untuk menjadi calon pendeta, saya kehilangan kontak dengannya. Saya berniat menghubunginya, tetapi terus menundanya. Suatu hari saya membaca berita kematian wanita tua itu. Saya begitu diliputi oleh kedukaan dan mengakui dosa saya kepada Allah.

          Lebih dari 30 tahun setelah pertobatannya, Paulus merujuk pada suatu masa ketika dia menjadi “seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas” (1 Tim. 1:13). Dia bahkan menyebut dirinya “yang paling berdosa” diantara orang berdosa (ay. 15). Namun, dia senantiasa bersukacita dengan satu kepastian bahwa dia adalah pendosa yang telah diampuni.

          Allah yang lebih besar dari hati kita serta mengetahui segala sesuatu (1 Yoh. 3:20) telah mengampuni dosa-dosa yang telah kita akui (1:9). Kita bisa memercayai-Nya! –HVL

 

Datanglah sekarang ke mata air penyucian,

Masuklah ke dalam alirannya yang memberikan hidup.

Kasih dan karunia-Nya tersedia bagi kita,

Allah rindu memberikan pengampunan-Nya. –Robinson

 

 

 


“Mengendalikan Kemarahan”

Daniel 3:8-25

 

Kemarahan menutupi yang terbaik dari seseorang dan menyingkap yang terburuk dari dirinya.

Mazmur 35-36

Kisah Para Rasul 25

 

Orlando, sebuah kota di Florida, mempunyai sejumlah taman hiburan besar yang menarik ribuan keluarga untuk berkunjung setiap tahunnya. Namun tahun lalu, sebuah majalah kesehatan menjuluki Orlando sebagai “Kota Termarah di Amerika.” Mereka membuat judul itu berdasarkan pada hal-hal yang terjadi seperti penyerangan yang disertai kekerasan, kemarahan di jalanan, dan persentase pria yang menderita tekanan darah tinggi.

          Raja Nebukadnezar memerintahkan “dalam marahnya dan geramnya” agar Sadrakh, Mesakh, dan Abednego untuk dibawa menghadap dirinya karena mereka tidak mau menyembah patung emas yang didirikannya (Dan. 3:13). Ketika perintahnya tidak dituruti, “meluaplah kegeraman Nebukadnezar, air mukanya berubah” terhadap ketiga pemuda itu (ay. 19).

          Kita semua bergumul dengan kemarahan. Kemarahan tidaklah selalu salah. “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa” (Ef.4:26). Kita harus marah ketika melihat ketidakadilan didunia ini. Namun, sebagian besar kemarahan kita, seperti halnya Nebukadnezar, timbul dari sesuatu yang buruk, yakni kepentingan pribadi dan kebanggaan diri. Jika kemarahan menguasai, kita dapat kehilangan kendali atas perkataan dan tindakan kita. Paulus menantang kita, “Dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri” (Flp. 2:3).

          Ketika kita mulai mengutamakan orang lain, kita telah melakukan langkah pertama untuk mengendalikan kemarahan kita. –CHK

 

Roh Kudus, ubahlah hati saya,

Dan berikan saya hasrat baru;

Saya ingin menjadi manusia pendamai,

Tidak dikendalikan oleh api kemarahan. –K. De Haan

 

 


“Hati Yang Memberi”

Yakobus 1:19-27

 

Anda dapat memberi tanpa mengasihi, tetapi Anda tidak dapat mengasihi tanpa memberi.

Mazmur 37-39

Kisah Para Rasul 26

 

Ketika Megan duduk di kelas tiga, berulang kali dia pulang sekolah tanpa memakai sarung tangan musim dinginnya. Hal itu membuat ibunya kesal karena harus membeli lagi sarung tangan baru, sesuatu yang tidak mampu dilakukan oleh keluarga itu. Suatu hari ibunya marah dan berkata, “Megan, kamu harus lebih bertanggung jawab. Kamu tidak boleh menghilangkan lagi sarung tanganmu!”

          Megan mulai menangis. Di sela-sela tangisnya, Megan berkata pada ibunya bahwa selama masih dibelikan sarung tangan baru, dia dapat memberikan sarung tangannya itu bagi anak-anak lain yang tidak memilikinya.

          Kini di usianya yang ke-18, salah satu hobi Megan adalah menjadi sukarelawan di lingkungannya dan membimbing anak-anak yang tinggal di lingkungan bermasalah. Merujuk pada hasratnya untuk membantu orang lain, Megan berkata bahwa hal itu “seperti sesuatu yang memang sudah seharusnya saya lakukan.”

          Sebagai orang Kristen, kita juga perlu memiliki hati yang suka memberi. Yakobus mengatakan bahwa kita harus memerhatikan firman Allah dan melakukan perintah-Nya (Yak. 1:22-23). Namun, Yakobus tidak hanya mengatakan supaya kita taat. Dia memberikan petunjuk yang spesifik tentang apa yang harus kita lakukan dan mengajarkan cara praktis bagaimana kita dapat memberi diri: “Mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka” (ay.27).

          Mintalah kepada Allah hati yang suka memberi seperti hati Megan. Karena kasih kepada Allah, taatilah yang diperintahkan-Nya. Itu adalah “hal yang seharusnya kita lakukan.” –AMC

Seperti Tuhan memb’ri padamu,

Dan mengasihi dikau;

B’ri bantuanmu dimana perlu,

Yesus mengutus engkau. -Wilson

 

“Malam”
Mazmur 42

 

Hanya dalam malam yang sangat gelaplah, manusia dapat melihat bintang. –Emerson

Mazmur 40-42

Kisah Para Rasul 27”1-26

 

Elie Weisel, dalam bukunya yang sangat menarik dan mengusik berjudul Night (Malam), melukiskan pengalaman masa kecilnya ketika menjadi salah satu dari sekian banyak korban Holocaust (pemusnahan bangsa Yahudi secara besar-besaran oleh Nazi Jerman pada masa 1930-1940an). Diambil paksa dari rumahnya dan dipisahkan dari seluruh anggota keluarga kecuali ayahnya (yang kemudian meninggal di kamp konsentrasi Nazi), Weisel mengalami kekelaman jiwa yang tidak dialami oleh banyak orang. Peristiwa itu menantang pandangan dan keyakinannya tentang Allah. Ketulusan dan imannya sangat terusik oleh kejatahan manusia dan kegelapan dosa.

          Daud pernah mengalami kekelaman jiwa. Banyak ahli percaya bahwa peristiwa itu telah memotivasi Daud untuk menulis Mazmur 42. Dengan cemas dan tertekan, mungkin karena dikejar-kejar oleh Absalom, anaknya yang memberontak (2 Sam. 16-18), Daud menyatakan rasa sakit dan ketakutannya pada malam yang mencekam. Pengalaman itu merupakan ketakutannya pada malam yang mencengkeram dan memaksa kita untuk mempertimbangkan pergumulan hati kita dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan sulit kepada Allah. Pemazmur meratap karena Allah seolah-olah tidak bersamanya. Namun dalam semua itu dia menyanyikan nyanyian pada malam hari  (ay.9) yang memberinya kedamaian dan keyakinan untuk menghadapi semua kesulitan yang menghadang.

          Ketika bergumul dimalam hari, kita bisa yakin bahwa Allah sedang bekerja di dalam kegelapan itu. Kita dapat mengatakan bersama-sama dengan pemazmur, “Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku” (ay.12). –WEC

Ketika pergumulan hidup mengaburkan pandangan saya

Dengan sapuan suram yang sepertinya menodai pemandangan,

Tangan Allah muncul untuk mencerahkan kegelapan

dan memberi kilauan megah di langit yang suram. –Gustafson

 


“Perawatan Kuku Kaki”

2 Timotius 2:22-26

 

Berikan perhatian dan kasih ketika menolong seorang yang telah menyimpang dari jalan kebenaran.

Mazmur 43-45

Kisah Para Rasul 27:27-44

 

Perawatan kuku kaki untuk binatang berkulit tebal bukanlah suatu kemewahan, tetapi suatu kebutuhan. Ulasan sebuah artikel di The Kansas City Star menjelaskan bahwa jika gajah peliharaan tidak mendapatkan perawatan kaki secara teratur, mereka rentan terkena infeksi yang dapat berakibat fatal. Namun, menggunting kuku kaki hewan yang bobotnya mencapai 6 ton dapat menjadi hal yang berisiko. Ada seorang pria mempunyai  ide. Dia membuat sebuah alat yang membantu pawang gajah untuk merawat kuku-kuku kaki seekor gajah. Tinggi alat itu sekitar 3,6 m, beratnya lebih dari 15 ton, dan harganya sekitar 920 juta rupiah. Beberapa kebun binatang telah membeli alat yang sangat berguna tersebut.

          Memerhatikan sesama dapat juga berisiko. Paulus menjelaskan apa saja yang perlu dilakukan untuk membantu mereka yang telah menyimpang dari jalan kebenaran ketika mengalami masa-masa sulit. Paulus tidak menawarkan alat canggih untuk membantu mereka yang membahayakan dirinya sendiri dan orang lain (2 Tim. 2:23,25). Dia justru mengingatkan bahwa dalam memerhatikan pikiran dan perasaan sesama, kita tidak dapat  mengandalkan keahlian dan kekuatan manusia. Yang sungguh kita butuhkan adalah hikmat Allah. Seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar dan tidak bersikap sombong, melainkan harus ramah dan sabar (ay. 24).

          Perpaduan dari kebenaran dan kasih karunia saat kita menghadapi bahaya adalah lebih dari sekadar perlindungan diri. Hal itu memberi gambaran tentang isi hati Allah kepada mereka yang sedang kita dorong untuk mengenal-Nya. _MRDII

 

Berbicaralah dengan benar dan setiap kata-kata Anda

Akan menjadi benih yang berbuah;

Hiduplah dengan benar dan hidup Anda akan menjadi

Pengakuan iman yang mulia dan agung. –Bonar

 

 


“Dahsyat!”

Mazmur 47

 

Tiada yang lebih dahsyat dibanding mengenal Allah.

Mazmur 46-48

Kisah Para Rasul 28

 

Kita sering menggunakan kata dahsyat dan kita mendengarnya diucapkan dalam konteks yang sangat tidak lazim.

          Saya dan Josh, cucu saya yang berusia 9 tahun, sedang bermain mobil balap yang digerakkan oleh sinyal radio dilantai ruang tamu. Beberapa kali dia berkata, “Dahsyat!”

          Diperistiwa lain, ketika saya dan istri hendak meninggalkan restoran, manajer restoran yang berdiri di dekat pintu bertanya, “Bagaimana kesan Anda dengan makanan yang Anda santap di restoran ini?” “Cukup enak,” jawab saya. “Dahsyat!” sahut manajer itu.

          Dua peristiwa itu membuat saya berpikir: Walaupun bermain bersama cucu saya dan menikmati santapan enak direstoran memang menyenangkan, tetapi apakah kedua peristiwa itu sungguh-sungguh dahsyat? Kemudian saya melihat di kamus. Definisi dari kata dahsyat adalah “sungguh mengagumkan”, “mencengangkan”, dan “hebat”. Saya teringat pengalaman saya ketika berdiri di pinggir sisi selatan dari Grand Canyon. Itu adalah pengalaman yang sungguh dahsyat.

          Kemudian saya merenungkan kenyataan yang jauh lebih mengagumkan, yaitu mengenal Sang Pencipta dan Pemelihara segenap jagat raya. Tidak mengherankan jika pemazmur menulis, “Sebab TUHAN, Yang Mahatinggi, adalah dahsyat” (Mzm. 47:3).

          Lain kali pada saat kita mendengar kata dahsyat, biarlah hal itu mengingatkan kita kepada Allah yang agung, yang sungguh-sungguh dahsyat! –DJD

 

Allah yang kemuliaannya kekal,

Memenuhi bumi dan langit,

Di manapun keajaiban-MU dinyatakan

Bagi kamu yang mencarinya. –Peterson

 

 


“Penundaan Allah”

Habakuk 1:12-2:3

 

Allah menguji batas kesabaran kita untuk mematangkan jiwa kita.

Mazmur 49-50

Roma 1

 

Menunggu adalah sesuatu yang sulit bagi saya. Saya menginginkan semua jawaban segera. Penundaan membingungkan saya; penangguhan menakutkan saya. Saya dibingungkan oleh penundaan Allah, bertanya-tanya mengapa dan kapan. “Berapa lama, oh Tuhanku?”

          Habakuk juga menghendaki jawaban Allah tetapi Allah memilih untuk menunggu sampai waktu-Nya tiba. “Aku mau berdiri di tempat pengintaianku ….. menantikan apa yang akan difirmankan-Nya kepadaku,” tulis Habakuk (2:1). “Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya”, jawab Allah. “Nantikanlah, sebab itu sungguh-sungguh akan datang” (ay.3).

          Iman pantang menyerah. Iman mengetahui bahwa semuanya baik meskipun yang kita lihat tidaklah demikian. Iman dapat menanti meskipun tidak ada tanda-tanda atau indikasi yang menyatakan bahwa Allah sedang bekerja karena iman itu percaya kepada-Nya. “Setiap penundaan adalah baik adanya karena kita aman berada dalam tangan Allah,” kata Madame Guyon (1648-1717).

          Kita juga harus belajar untuk melihat bahwa penundaan itu “baik adanya”. Penundaan adalah alasan supaya kita berdoa dan bukan alasan untuk bertambah cemas, gelisah, tidak sabar, dan jengkel. Penundaan adalah kesempatan yang digunakan Allah untuk membangun kualitas kekal yang sulit diraih seperti kerendahan hati, kesabaran, ketenangan, dan kekuatan. Allah tidak pernah berfirman, “Tunggu sebentar,” kecuali Dia sedang merencanakan sesuatu dalam situasi yang kita hadapi – atau dalam diri kita. Dia menanti dengan belas kasih.

          Jadi, berimanlah! Jika jawaban Allah tertunda, “Nantikanlah itu; karena jawaban Allah pasti akan terjadi.” –DHR

 

Pagi akan segera muncul

Cakrawala gelap akan terganti,

Kerinduan hati Anda akan terpenuhi –

“Bersabarlah menantikan-Nya.” –Havergal

 

 


“Kasih Yang Tidak Berubah”

Yakobus 1:12-30

 

Kasih Allah tetap teguh tatkala yang lainnya runtuh.

Mazmur 51-53

Roma 2

 

Pada sebuah pernikahan yang saya hadiri, kakek dari mempelai wanita mengutip sebuah ayat Alkitab yang begitu menyentuh mengenai hubungan suami-istri. Kemudian, seorang sahabat dari kedua mempelai melantunkan “Soneta no. 116 karya William Shakespeare. Pendeta yang memimpin pemberkatan mengutip sebuah kalimat dari sonata itu untuk melukiskan bentuk kasih yang seharusnya mewarnai pernikahan Kristen: “Kasih tidak berubah ketika yang lainnya berubah.” Pujangga ini menyatakan bahwa kasih sejati tidak berubah apapun keadaannya.

          Pendeta itu menyebutkan banyaknya perubahan yang akan dialami oleh kedua mempelai selama kehidupan mereka bersama, termasuk kesehatan dan efek tak terhindarkan dari penuaan usia. Kemudian, dia mendorong mereka untuk menumbuhkan kasih sejati yang alkitabiah, yang tidak akan memudar atau berkesudahan meskipun banyak perubahan yang akan mereka alami.

          Ketika menyaksikan sukacita dan kegembiraan dari pasangan muda ini, saya teringat sebuah ayat dari Yakobus: “Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran” (Yak. 1:17). Allah tidak pernah berubah, begitu pula kasih-Nya bagi kita. Kitalah penerima kasih sempurna dari Bapa Surgawi, yang telah mengasihi kita “dengan kasih yang kekal” (Yer. 31:3).

          Kita dipanggil untuk menerima kasih Allah yang tiada berkesudahan, mengizinkan kasih-Nya itu membentuk hidup kita, dan membagikan kasih-Nya kepada sesama. –DCM

 

Kasih Allah tiada tara dan tak berkesudahan,

Begitu baik, begitu murni, begitu sejati;

Dan mereka yang menerima kasih itu

Menunjukkan kasih dalam semua yang mereka lakukan. –D. De Haan

 

 


“Bergantung Pada Allah”

Mazmur 54

 

Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru. –Yesaya 40:31

Mazmur 54-56

Roma 3

 

Saya sudah tidak bermain ski air selama 15 tahun. Ketika ada teman-teman mengajak saya dan Todd, menantu saya, pergi ke danau pada musim panas yang lalu, saya tidak dapat menolaknya. Bermain ski air tampaknya seperti ide bagus, sampai saya melihat Todd mengalami kesulitan untuk berdiri tegak diatas papan ski-nya. Todd sering bermain ski, namun ketika dia berusaha untuk berdiri di salah satu papan ski-nya, dia selalu jatuh. Jadi, ketika giliran saya tiba, saya merasa tidak percaya diri.

          Syukurlah ada teman saya yang ahli bermain ski menemani dan melatih saya tentang apa yang harus dilakukan. Dia mengatakan, “Biarkan perahu itu menarikmu.” Dan “bertahanlah!” Kedua pernyataan yang kelihatannya bertentangan ini ternyata sungguh berpengaruh. Saya melakukan keduanya – saya percaya perahu itu akan mengerjakan bagiannya dan saya akan bertahan dengan segenap kekuatan saya. Ketika pertama kalinya perahu meluncur, saya bangkit berdiri di atas papan ski dan menikmati perjalanan mengitari danau yang mengasyikkan.

          Ketika hidup mengecewakan Anda – entah melalui kepedihan yang seakan terlalu berat untuk ditanggung atau keadaaan yang membuat hari-hari begitu kelabu – saran teman saya dapat membantu. Pertama, izinkan Allah menarik Anda dengan kekuatan-Nya (Mzm. 54:1-6). Lalu, pegang eratlah tangan-Nya. Bergantunglah pada-Nya dan “hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya” (Ef. 6:10).

          Percaya dan bertahanlah pada kekuatan-Nya. Dia akan memberi kekuatan yang menjaga Anda agar tidak terjatuh (Yes. 40:31). –JDB

 

Juru Selamat, izinkan saya berjalan di sisi-Mu,

Izinkan saya merasakan genggaman tangan-Mu;

Izinkan saya mengenal sukacita mengikut-Mu

Tidak dengan kekuatanku tetapi dalam kekuatan-Mu. -Sidebotham

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: