Author Archives:

Renungan: Hidup kita sungguh sangat singkat

Mazmur 90:12
Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.

Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 147; Yohanes 7; 2 Samuel 21-22

AIDS adalah salah satu epidemik terbesar di dunia dan kita tidak memeranginya dengan cukup baik karena pada awalnya sering ditutup-tutupi dan dianggap memalukan. Cina baru mau mengakuinya tahun 2002 setelah angka statistik penderitanya yang sangat tinggi. India sempat ngotot kalau penyakit ini hanya diderita pekerja seks komersial dan pelaku seks bebas. Presiden Mbeki dari Afrika Selatan mengatakan pada New York Times bahwa dia tidak pernah kenal seorangpun mengidap AIDS padahal lebih dari 30 juta penduduk Afrika terkena AIDS (HIV positif).

Menurut laporan UNAIDS, badan PBB yang menangani masalah AIDS dan HIV, penyakit ini telah membunuh lebih dari 25 juta orang. Secara global, pada tahun 2007, 46 juta orang hidup dengan HIV. Menurut UNFPA (United Nations Population Fund) pengidap HIV/AIDS bisa mencapai 290 juta orang pada tahun 2050. Dari Depkes Indonesia, lebih dari 2.000 orang meninggal karena AIDS pada tahun lalu. Wabah ini telah memperlambat pertumbuhan ekonomi dan membunuh sumber daya manusia termasuk anak-anak. Coba saja jika masalah ini diakui dan dhtangani dari awal mungkin akibatnya tidak separah ini.

Hal yang sama juga bisa berlaku dengan karakter dan kebiasaan buruk kita. Seringkali kita tidak mau menangani kelemahan kita dengan segera karena menganggapnya cuma sesuatu yang sepele yang bisa ditutup-tutupi. Padahal jika kita mau menanganinya dengan segera, ia akan meminimalisasikan kerusakan hidup yang lebih berat lagi. Banyak kebiasaan buruk dalam pekerjaan seperti kebiasaan datang terlambat, rajin melihat situs porno, korupsi kecil-kecilan, bekerja asal selesai saja, atau sifat yang tidak mau belajar yang jika dibiarkan terus, lama-kelamaan bisa menghancurkan kehidupan, karir maupun keluarga kita.

Lakukan perbaikan sedini mungkin sebelum terlambat.

Renungan: Siapa memiliki pengetahuan, ia memiliki otoritas

Pengkhotbah 12:12
Lagipula, anakku, waspadalah! Membuat banyak buku tak akan ada akhirnya, dan banyak belajar melelahkan badan.

Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 146; Yohanes 6; 2 Samuel 19-20

Siapa memiliki pengetahuan, memiliki otoritas. Pertama kali saya mendengar kalimat tersebut dari Peter Drucker, the Father of Modern Marketing. Saya merasa bahwa pengetahuan merupakan suatu hal yang wajib dikejar dalam kehidupan ini. Tidak ada seorang pun ingin menjadi orang yang bodoh karena hampir seluruh posisi strategis dalam dunia usaha dikuasai oleh mereka yang memiliki intelektual tinggi. Tidak heran begitu banyak orang yang rela bekerja dan belajar berjam-jam demi mengejar sesuatu yang disebut pengetahuan, bahkan sekalipun hal tersebut mengorbankan kesehatan dan waktu mereka demi keluarga.

Ketika kita berbicara mengenai pengetahuan, ada kehidupan seorang tokoh yang patut menjadi perenungan dalam hal ini. Raja Salomo merupakan orang yang sangat pandai. Ia menjadi raja dalam usia muda dan menulis banyak buku serta amsal. Namun demikian, pada akhir kehidupannya ia berkata bahwa pengejaran akan pengetahuan adalah sia-sia tanpa hidup takut akan Tuhan. Sebagaimana para ahli Farisi, Salomo juga mengetahui banyak akan kebenaran, namun ia tidak melakukan apa yang diajarkannya tersebut.

Pengetahuan tidak pernah ada batasnya. Saya tidak sedang berbicara bahwa Anda tidak perlu belajar dan terus berusaha menjadi orang yang pandai. Tetapi jauh lebih dalam dari hal itu adalah jangan pernah mengijinkan pengejaran akan pengetahuan menghentikan pengejaran Anda akan pribadi dari Tuhan sendiri.

Intelektual dapat mempesona orang, namun hanya kasih yang mengubah hidup seseorang.

Rewritten: TUJUH PRINSIP KEPEMIMPINAN YESUS KRISTUS

Rewritten: TUJUH PRINSIP KEPEMIMPINAN YESUS KRISTUS
Oleh:
I Gusti Bagus Rai Utama, MA

Siapa sajakah yang tergolong pemimpin besar di dunia ini? Kita tidak akan menyebutkannya satu persatu karena jika ditulis juga di sini maka halaman ini akan penuh dengan daftar nama saja. Ada banyak tipe kepemimpinan di dunia ini, dari yang paling otoriter sampai yang paling demokratis dan humanispun ada. Namun kali ini kita akan mengexplorasi kepemimpinan Yesus Kristus untuk memudahkan kaum awam dapat mengerti dan memahaminya. Bahasa yang digunakanpun bahasa sehari-hari atau bahasa pasaran, namun tetap bersumber pada Alkitab yang sejati sebagai sumber kebenaran anggota keluarga Allah.

1. Identifikasi (Memenuhi elektabilitas, administrative, dan moralitas)
Kalau kita lihat seseorang yang ingin menjadi anggota dewan atau pemimpin partai, begitu juga Yesus Kristus telah menyatakan diriNya agar pengikutnya tidak salah jika ingin mengikutinya. Namun pernyataan diri Yesus Kristus adalah hal yang benar, berbeda dengan para pemimpin dunia yang cenderung mengexplorasi hal-hal yang baik-baik saja dan penyembunyikan yang jelek yang ada pada dirinya. Lebih lanjut baca (Yoh 6: 35, 8:12, 14:6; Mark 14:61-62)

Yoh 6:35 Kata Yesus kepada mereka: “Akulah h roti hidup 1 ; i barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya j kepada-Ku, ia tidak akan haus k lagi.

Mark 14:61Tetapi Ia tetap diam dan tidak menjawab apa-apa. Imam Besar itu bertanya kepada-Nya sekali lagi, katanya: “Apakah Engkau Mesias, Anak dari Yang Terpuji?”14:62Jawab Yesus: “Akulah Dia, dan kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di tengah-tengah awan-awan di langit.”

2. Misi (Menyatakan kesediaan untuk mengembalakan Jemaat)
Bagi anda yang sering menonton kampaye partai politik atau bagi anda yang sering ikut serta dalam acara sidang sinode atau sidang pemilihan para pemimpin dunia tidak akan asing lagi dengan istilah misi ini. Terkadang dan sedikit para pemimpin yang telah menyatakan misinya akan menjalankan misinya jika ia kelak memimpin. Misi yang ia sampaikan sebelum ia terpilih akan sangat berbeda dengan apa ia lakukan hari ini. Namun sangat berbeda dengan kepemimpinan Yesus Kristus, apa yang Ia sampaikan dengan apa yang Ia lakukan adalah sudah dituliskan dalam Alkitab dan dilakukan juga sesuai dengan apa yang ada di dalam Alkitab. Ia telah melakukan dengan cara yang benar dan melakukan hal yang benar dalam hal ini Ia telah bertindak sebagai menejer dan sekaligus sebagai pemimpin. Ia sebagai manajer karena Ia sebagai utusan Bapa dan Ia harus melakukan hal-hal yang dititahkan Bapa. Ia juga sebagai pemimpin karena Ia juga dapat dan mampu menjalankan dan mengambil keputusan dengan benar. Lebih lanjut baca (Yoh 8: 14, 17:3-4; Luk 4:43)

Yoh 8:14Jawab Yesus kepada mereka, kata-Nya: “Biarpun Aku bersaksi tentang diri-Ku sendiri, namun kesaksian-Ku itu benar, sebab Aku tahu, dari mana Aku datang dan ke mana Aku pergi. Tetapi kamu tidak tahu, dari mana Aku datang dan ke mana Aku pergi.
Yoh 17:3Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.17:4Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya.

Lukas 4:43Tetapi Ia berkata kepada mereka: “Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus.”

3. Motivasi (Mampu memotivasi dan menghargai karya jemaat)
Ada kalanya seorang direktur atau kepala departemen sebuah perusahaan entah dimiliki oleh lembaga gereja atau lembaga lainnya tidak mau “bukan tidak bisa” memberikan motivasi yang dapat ditiru oleh para pengikutnya, kita sebut di sini pengikut bukan bawahan untuk meninggikan yang rendah dan tidak merendahkan yang tinggi. Datang ke kantor dengan seenak dan sekehendak hatinya, kalau pengikutnya datang jam 7 pagi, kalau pemimpin boleh jam berapapun, itulah pemimpin dunia. Sangat berbeda dengan kepemimpinan Yesus Kristus. Yesus terlebih dulu menguduskan dirinya karena Ia ingin pengikutnya turut mengukuskan diri. Yesus tidak pernah menghakimi dengan “tangan salah maka tanga harus dipotong” tapi Ia menghakimi dengan cara yang bijaksana dan benar agar cara inipun akan ditiru oleh para pengikutnya. Lebih lanjut baca (Yoh 5: 30; 17:19,26)
Yohenes 5:30Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku.
Yohanes 17:19dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya merekapun dikuduskan dalam kebenaran. 17:26dan Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka.”

4. Partisipasi (Bersukacita turun ke masyarakat/jemaat)
Coba kita lihat teman-teman kita yang telah berhasil menjadi seorang pejabat atau anggota dewan atau apasajalah yang mereka sebut sebagai pejabat akan merubah lifestyle serta gaya hidupnya setelah menjadi pemimpin. Semua pengikutnya harus memberi hormat walapun dia sendiri tidak pernah menyapa pengikutnya dengan bersahabat. Mobil harus diganti dengan yang baru, rumah harus dicat setiap tahun karena anggarannya harus dihabiskan, dan banyak lagi hal-hal yang tidak menggambarkan kepemimpinan kristiani. Yesus telah memberi teladan yang baik buat kita. Coba kita bayangkan, adakah seorang manusia yang kaya raya harus mau hidup miskin disepanjang hidupnya? Yesus telah melakukan itu buat kita, Yesus menunjukkan bahwa Ia juga turut berpartisipasi sebagai orang miskin. Adakah seorang manusia yang gagah perkasa, sakti mantra guna harus mati oleh tusukan tombak dan tancapan paku di kayu salib? Hanya Yesus yang mau untuk itu. Baca lebih lanjut (Yoh 15:15-16; 17:22; 1 Kor 3:9)
Yoh 15:15Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.15:16Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. 17:22Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu:
1 Kor 3:9Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah.

5. Konsentrasi (Konsentrasi memimpin, tidak dijadikan sambilan)
Dalam hidup ini, tekadang kita sangat susah untuk menentukan dan memusatkan pikiran dan konsentrasi kita. Tatkala seseorang yang telah memegang jabatan yang tinggi sangat mudah untuk melihat banyaknya uang dan kuasa yang bisa ia gunakan untuk keperluan pribadinya. Antara sumpah atau janji jabatan dan tindakannya juga tidak pernah terkonsentrasi pada sumpah atau janji jabatan yang pernah ia ucapkan. Kita mendengar di beberapa mediamasa, anggota DPR yang korupsi, menteri yang korupsi bahkan yang lebih parah lagi mungkin ada juga pengurus gereja yang telah melakukan korupsi hanya kita tidak mengerahuinya. Jika kita menjadi pemimpin, tetaplah teguh pada sumpah atau janji yang pernah diucapkan. Begitu halnya dengan janji yang pernah diucapkan tatkala kita menerima baptisan kudus, kita telah berjanji untuk mengikut Yesus dengan sepenuh hati namun tatkala kita melihat uang yang melimpah kita sangat mudah melupakan janji tersebut. Terkadang kita sering melakukan pekerjaan yang tidak menunjukkan anak-anak Tuhan, perjudian, prostitusi, korupsi, dan gila hormat tetap saja kita lakukan. Yesus mengajarkan agar kita tetap konsentrasi hanya satu nama Yesus kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, tidak ada nama lain lagi pada diri kita. Baca lebih lanjut (Luk 9: 49-51)
Luk 9:49 Yohanes berkata: “Guru, kami lihat seorang mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita.”9:50Yesus berkata kepadanya: “Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu.”9:51Ketika hampir genap waktunya Yesus diangkat ke sorga, Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem,

6. Meditasi (Mengutakan dan mengusahakan pembangunan Rohani bukan fisik)
Dalam satu hari kita diberikan waktu 24 jam, dalam satu minggu ada 7 hari. Terkadang karena kita terlalu sibuk atau menyibukkan diri, kita menjadi lupa bahwa tubuh kita yang duniawi ini dan pikiran kita yang penat ini butuh juga waktu istirahat. Ada yang sangat sibuk mengejar kehormatan duniawi, ikut partai ini itulah sampai sampai gereja hanya dikunjungi jika ada keluarga yang menikah, dan hari Natal karena kebetulan Libur Nasional. Ada yang sangat sibuk dengan lemburan, ada yang sangat sibuk dengan sekolah atau kuliah karena kebetulan kuliahnya Sabtu dan Minggu, ada yang sibuk ini dan itu, tentunya ada juga yang memang malas datang ke gereja. “Hari sabat diciptakan untuk manusia bukan manusi untuk hari sabat” istilah ini akan mengingatkan kita bahwa Tuhan telah menciptakan manusia tentu juga ada siklus istirahat harian yang namanya tidur, siklus mingguan yang namanya hari minggu untuk merenung di gereja dan bertemu dengan teman-teman dan juga mendengar Firman Tuhan yang disampaikan lewat kotbah seorang pendeta. Tubuh dan pikiran kita juga perlu penyegaran, mengingatkan kembali firman Tuhan, bertemu dengan teman-teman dalam pertemuan yang rohani. Lebih lanjut baca kisah Marta dan Maria (Luk 5:15-16; 10: 40, 41-42)
Lukas 5:15Tetapi kabar tentang Yesus makin jauh tersiar dan datanglah orang banyak berbondong-bondong kepada-Nya untuk mendengar Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka.5:16Akan tetapi Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa.
Lukas 10:40sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: “Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.”10:41Tetapi Tuhan menjawabnya: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara,10:42tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.”

7. Re-kreasi (Pemimpin yang besar harus mampu memimpin anggota keluarga terkecil terlebih dahulu, memberikan pencerahan tiap saat)
Ada yang beranggapan bahwa untuk mengetahui sebuah lembaga atau perusahan sehat atau bukan, cukup dengan melihat perilaku seorang pemimpinnya, misalnya: apakah pemimpinnya bisa istirahat dengan tenang? Apakah ia punya waktu untuk keluarganya? Apakah ia punya waktu untuk ke “gereja”? dan banyak lagi indicator yang cukup sederhana namun dapat menunjukkan hal yang sebenarnya. Apa benar Yesus juga menyarankan kita untuk meluangkan waktu untuk rekreasi? Ketika Yesus mengajak para muridnya pergi ke tempat sunyi untuk dapat istirahat, dapat menunjukkan Yesus juga menyarankan agar kita juga perlu melakukan rekreasi dan istirahat. Lebih lanju baca (Markus 6: 31-32)
Markus 6:31Lalu Ia berkata kepada mereka: “Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!” Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makanpun mereka tidak sempat.6:32Maka berangkatlah mereka untuk mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi.

Dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan Yesus Kristus adalah kepemimpinan yang sangat sederhana sehingga setiap orang yang ingin meneladaninya mampu untuk melakukannya. Identifikasi diri adalah makna kejujuran, Misi adalah makna kesanggupan mengambil pekerjaan, Motivasi adalah makna memberi teladan yang baik, Partisipasi adalah makna kebersamaan, Konsentrasi adalah makna memegang prinsip pengembalaan rohani, Meditasi adalah makna perenungan dan mengutakan Tuhan, dan Rekreasi adalah makna penghargaan akan waktu dan keluarga dan kawan sekerja Allah dalam koridor Keluarga Kerajaan Allah..

Renungan: Mahatinggi Tapi Tidak Mahajauh

Mahatinggi Tapi Tidak Mahajauh

Mazmur 18:7
Ketika aku dalam kesesakan, aku berseru kepada Tuhan, kepada Allahku aku berteriak minta tolong. Ia mendengar suaraku dari bait-Nya, teriakku minta tolong kepada-Nya sampai ke telinga-Nya.

Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 145; Yohanes 5; 2 Samuel 17-18

Saya memiliki beberapa teman yang tampaknya sulit sekali dihubungi saking padat jadwalnya. Entah apa kesibukannya. Setiap kali saya ada perlu dengannya, jauh-jauh hari harus menghubunginya, karena kalau tidak dipastikan tidak ada waktu tersisa untuk bertemu. Pada umumnya, kalau ada orang yang memiliki kedudukan tinggi dan terhormat, maka akses untuk mendekat kepadanya sulit dan birokrasinya panjang. Misalnya mau menemui atasan puncak atau presiden. Begitu pula gambaran para ‘dewa sakti’ di kebanyakan cerita mitos kuno. Manusia yang butuh pertolongannya harus menempuh perjalanan yang panjang dan sulit.

Tapi syukurlah, Allah yang kita percayai, meski hidup dan bertahan di sorga yang Mahamulia, tetapi bagi setiap orang yang mencari dan mengandalkan-Nya, Ia adalah Allah yang cukup dekat dan perduli. Sebuah lagu rohani mengatakan “Ia hanya sejauh DOA”. Allah kita tidak rumit untuk dihampiri. Entah dari dasar laut atau dari gunung yang tinggi, bahkan dari lembah bayang-bayang maut (Mazmur 139:7-12).

Lantas mengapa beberapa orang merasa Allah sangat jauh dan sulit didekati? Halangan menghampiri Allah, bukan ‘jarak’ antara manusia dengan Allah, melainkan SIKAP HATI. Ia selalu benci kepada orang yang tinggi hati, tapi dekat dan berkenan pada semua orang yang rendah hati, dan tahu merendahkan diri ke hadapan-Nya. Jadi dengan sikap hati benar di hadapan-Nya, maka kita dapat menghampiri-Nya.

Allah kita tidak rumit untuk dihampiri.

Renungan Kristen: Mangkir?

Mangkir

Yunus 1:2-3
“Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, berserulah terhadap mereka, karena kejahatannya telah sampai kepada-Ku.” Tetapi Yunus bersiap untuk melarikan diri ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN; ia pergi ke Yafo dan mendapat di sana sebuah kapal, yang akan berangkat ke Tarsis. Ia membayar biaya perjalanannya, lalu naik kapal itu untuk berlayar bersama-sama dengan mereka ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN.

Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 139; 2 Korintus 12; 2 Samuel 5-6

Kita yang berkecimpung dalam dunia kerja, mengerti betul apa itu inspeksi mendadak. Biasanya pimpinan melakukan ‘sidak’ pada hari pertama kerja setiap habis libur panjang. Mereka ingin memastikan apakah para karyawan yang dipimpinnya mangkir atau masuk kerja pada hari tersebut. Pertanyaannya biasanya kita akan masuk kelompok yang rajin atau yang mangkir di saat-saat itu?

Pengalaman mangkir pernah dilakukan Yunus, ribuan tahun lampau. Ia ditugasi untuk membawa berita pertobatan kepada bangsa Niniwe yang kejahatannya telah sampai ke telinga Tuhan. Alih-alih mentaati perintah Tuhan, Yunus malah memilih ngacir ke Tarsis dan melarikan diri dari tanggung jawab. Dia merasa anugerah Tuhan adalah barang mahal untuk diberikan kepada Niniwe sebagai bangsa kafir di hadapan Allah. Tetapi itu adalah pikirannya, sementara Allah memiliki pikiran lain. Dan karena tindakannya itu, ia menerima sebuah konsekuensi. Ia dibuang dari kapal dan ditelan seekor ikan besar.

Para profesional, bagaimana dengan kita? Apakah di tempat di mana Tuhan mempercayakan kita pekerjaan, apakah kita sudah menunjukkan sikap-sikap terbaik? Jangan sampai kebiasaan mangkir dari tanggung jawab melekat dalam diri kita, supaya konsekuensi yang berat tidak kita alami.

Pilihan saya, tanggung jawab saya akan membentuk masa depan saya.

Renungan: Ujian Pasca Promosi

Ujian Pasca Promosi

Ayub 23:10
Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas.

Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 141; Yohanes 1; 2 Samuel 9-10

Sadrakh, Mesakh, Abednego dan Daniel termasuk kalangan orang bijaksana di Babel. Ketika Nebukadnezar hendak memusnahkan semua orang bijaksana, dicatat bahwa mereka berempat berdoa meminta kasih sayang Allah untuk membatalkannya. Akhirnya, melalui Daniel, Allah menyatakan pertolongan-Nya yang kemudian membuat Sadrakh, Mesakh dan Abednego turut mengalami promosi dari raja.

Namun setelah promosi terjadi, kisah berlanjut dengan keluarnya perintah raja supaya semua suku bangsa sujud menyembah pada patung emas buatannya. Memang tidak dituliskan berapa lama waktu antara penyerahan kekuasaan atas Babel kepada mereka bertiga dengan keluarnya perintah yang bertentangan dengan iman mereka. Akan tetapi, berapa lama pun tenggang waktunya, apa yang mereka bertiga alami itu sebenarnya merupakan ujian.

Biasanya sebelum mendapatkan promosi tertentu dalam hidup (dalam hal apapun), kita akan terlebih dahulu diizinkan untuk melewati ujian. Kalau ‘lulus’, kita pun ‘naik kelas’. Tapi rupanya, setelah promosi pun kita perlu bersiap untuk ujian lainnya seperti yang dialami Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Ketika mereka diperhadapkan pada titah raja, mereka memiliki pilihan: sujud menyembah dan posisi mereka tetap aman, atau tetap mempertahankan iman mereka dengan resiko bukan hanya kehilangan posisi mereka bahkan juga nyawa.

Puji Tuhan, mereka melewati ujian itu dengan baik sekali sehingga mereka tetap berkenan di hadapan Allah. Mereka malah menikmat promosi lainnya (Daniel 3:30).

Bagaimana dengan kita? Tidak perduli ujian itu mendahului atau datang setelah promosi, mari kuatkan dan teguhkan iman kita untuk melewatinya bersama Tuhan agar perkenanan-Nya senantiasa atas kita!

Tantangan hidup bukan untuk melumpuhkan Anda, tapi untuk menaikkan level Anda.

Renungan Kristen: Hidup Hemat, Cukupkanlah!

Cukupkanlah!

Lukas 3:14
Dan prajurit-prajurit bertanya juga kepadanya: “Dan kami, apakah yang harus kami perbuat?” Jawab Yohanes kepada mereka: “Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu.”

Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 140; 2 Korintus 13; 2 Samuel 7-8

Seorang staf bidang keuangan mempunyai tanggung jawab yang penting bagi suatu perusahaan atau organisasi. Tugas utamanya adalah mengatur agar pemakaian uang terlaksana seefisien mungkin. Penyusunan kebutuhan berdasarkan prioritas dan ketersediaan finansial merupakan faktor yang sangat menentukan. Umumnya yang jadi persoalan serius adalah kebutuhan-kebutuhan yang lebih besar dari kemampuan untuk memenuhinya. Perencana keuangan yang handal tentu akan berusaha menyiasatinya dengan tujuan mencukupkan dengan apa yang tersedia sehingga jangan sampai merugi.

Dari pengalaman sehari-hari kita dapat menemukan bahwa pergumulan tersebut tidak hanya berlaku di tempat kerja saja. Masalah mengatur keuangan juga berlaku dalam konteks rumah tangga maupun pribadi. Sebagian orang mungkin menganggap keuangan pribadi tidak perlu ditangani seprofesional menangani keuangan perusahaan. Benarkah demikian? Alkitab mengatakan “…cukupkanlah dirimu dengan gajimu” (Lukas 3:14) dan “…cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu” (Ibrani 13:15).

Hal ini berlaku bagi yang berpenghasilan tetap maupun tidak tetap. Kita perlu berupaya mencukupkan justru untuk mengatasi kebutuhan yang selalu lebih besar dari pendapatan. Mencukupkan diri bukan hanya sekedar soal hidup irit dan berhemat. Tetapi dorongan untuk berupaya kreatif merencanakan pemakaian uang sesuai dengan kemampuan yang ada. Tujuannya agar kita dapat menikmati segala berkat Tuhan dengan sukacita dan bertanggung jawab. Pada akhirnya mendatangkan ucapan syukur, bukan karena kelebihan, melainkan karena kecukupan.

Mencukupkan diri bukan sekedar hidup berhemat, tapi juga upaya-upaya kreatif dalam merencanakan pemakaian uang.

Renungan Kristen: Kasih Dan Resiko

Kasih Dan Resiko

1 Yohanes 4:18
Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.

Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 135; 2 Korintus 8; 1 Tawarikh 5-7

Di hadapan saya adalah seorang dengan raut muka yang memperlihatkan usia penuh dengan sukacita dan hikmat. Setelah kami berkenalan, saya mendapati bahwa dia adalah mantan seorang CEO di perusahaan asuransi besar di Afrika Selatan. Pada usia 50 tahun dia meninggalkan posisinya dan merantau ke Asia Tenggara untuk menjadi misionaris dan melakukan pekerjaan Tuhan.

“Mengapa?” tanya saya spontan. Meninggalkan kehidupan yang nyaman dan merantau ke dalam ketidakpastian, aneh kan?

“Allah memanggil saya.”

“Bagaimana Anda tahu bahwa itu betul dari Tuhan, bagaimana jika itu salah?”

Dia berusaha menjelaskan bahwa tentu itu melewati pergumulan dan sederetan tanda dan konfirmasi yang dia dapatkan.

“Akan tetapi…,” ujarnya pelan dan mantap. “…bahkan sekalipun ternyata saya mendapati itu salah, saya lebih suka untuk mencoba dan pergi, daripada saya hidup di sana karena tidak berani dan menghabiskan hidup saya dalam kegelisahan dan penyesalan. Kalaupun ternyata setelah saya ke sini dan mendapati itu salah, maka dengan rendah hati saya akan mengakuinya dan pulang kembali, tetapi saya tidak menyesal.”

Saya tercenung mendengar jawaban itu. Bukan jawaban yang gegabah dan sembarangan yang keluar dari seorang ahli di dunia asuransi. Tetapi jawaban seseorang yang karena cintanya kepada Tuhan begitu menggebu telah memampukan dia mengambil ‘resiko’.

Kasih mengalahkan ketakutan dan membuat kita berani mengambil resiko.

Renungan Kristen: Miliki Iman seperti Bapa Abraham

Hanya Pengembara

Kejadian 12:1
Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu;

Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 134; 2 Korintus 7; 1 Tawarikh 3-4

Seorang pengembara dan seorang tuan tanah akan memiliki cara pandang yang berbeda terhadap kehidupan. Katakanlah dalam sebuah perjalanan panjang dan lama, mereka bepergian bersama-sama. Di tengah jalan, keduanya kehilangan jalan dan tersesat. Si pengembara yang terbiasa meninggalkan apapun miliknya di rumah tidak perlu merasa kuatir. Sedangkan si tuan tanah yang terbiasa mengawasi bisnisnya seringkali merasa gelisah, tertekan dan kuatir memikirkan harta kekayaannya.

Ketika Abraham dipanggil untuk pergi ke tempat asing yang tidak diketahui arah tujuannya, dia pergi dengan tenang. Mengapa? Dia memiliki mental pengembara dan ia tahu rumahnya yang sejati dan abadi adalah di sorga sana. Dia juga percaya, seperti yang penulis Ibrani katakan, bahwa Allah telah menyiapkan kota yang abadi baginya.

Abraham, pada saat ia dipanggil, telah hidup nyaman dan kaya di kampung halamannya. Jika dia lebih berpegang pada kenyamanan yang ‘dekat’, maka dia tidak dapat melihat pada ‘harta’ yang jauh namun pasti. Abraham tahu bahwa rumahnya bukan di dunia, tetapi di kota abadi yang Allah telah rancangkan bagi dia.

Memiliki mental tuan tanah selama hidup di dunia ini akan membawa kita kepada kegelisahan dan banyak kekuatiran yang sia-sia. Pekerjaan dan kantor pun bisa menjadi ‘ruang nyaman’ yang mengikat jika kita mempunyai mental ‘tuan tanah’. Seorang pengembara hidup bebas, percaya dan berjalan dengan Allah, serta melayani dan memberi termasuk lewat pekerjaannya karena dia tahu dunia bukan rumahnya. Di sana, di kota abadi, itulah tempat perhentian terakhir dan sejati.

Milikilah mental pengembara yang senantiasa menggantungkan hidupnya sepenuhnya hanya kepada Tuhan.

Renungan Kristen: Allah Mengasihi Hagar

Allah Mengasihi Hagar

Mazmur 25:16
Berpalinglah kepadaku dan kasihanilah aku, sebab aku sebatang kara dan tertindas.

Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 130; 2 Korintus 3; 1 Samuel 26-27

Dengan gaya humornya Sir Winston Churchill mengatakan, I like pigs. Dogs look up to us. Cats look down on us. Pigs treat us as equals. Maksudnya adalah inilah cara pandang dunia. Dunia menempatkan orang-orang dari golongan terpandang, kaum jetset yang hampir memiliki segalanya di tempat-tempat istimewa, cenderung memandang rendah kaum papa yang hanya memiliki diri mereka sendiri. Orang-orang sering lupa bahwa kita harus memadang semua orang sama rata.

Syukurlah, Allah kita berbeda. Ingat cerita Hagar? Ketika ia tertindas dan melarikan diri, siapakah yang mencarinya? Allahlah yang mencari dia. Seringkali dalam pandangan kita, Hagar hanyalah seorang budak yang kemudian melahirkan Ismael dan sebuah agama besar lain. Sosok yang hina, terbuang dan tertindas.

Tetapi inilah rahasia dan kenyataan yang luar biasa. Adalah Allah sendiri yang memperhatikan penderitaan Hagar dan menolongnya ketika ia kehausan dan Ismael hendak mati. Adalah Allah yang bersabda, “Apakah yang engkau susahkan, Hagar? Janganlah takut, sebab Allah telah mendengar suara anak itu dari tempat ia terbaring.”

Seringkali kita merasa hina sebagaimana dunia memandang kita. Seringkali kita merasa terbuang sebagaimana otoritas agamawi memandang kita. Tetapi satu hal yang pasti – Allah mengasihi orang-orang yang terbuang. Dunia merendahkan orang yang tertindas, tetapi Allah tetap berbelas kasihan.

Cara pandang Allah dan manusia itu sangat berbeda, sejauh langit dan bumi.

Sumber Christian Newsletter

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,438 other followers