Posted by: Admin | June 3, 2012

Makna Iman: Jangan Takut


Makna Iman: Jangan Takut

Matius 10:26-33
Khotbah oleh Pastor Eric Chang

Kita akan melihat pengajaran Yesus di Matius 10:26-33.

Jadi janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatupun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui.

Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah.

Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.

Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semuanya.

Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit. Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga.” ( Perikop yang sejajar ada di Lukas 12:2-9)

Murid Sejati akan mengalami banyak penderitaan

Bagian bacaan yang sebelumnya, dari ayat 17 sampai 23 adalah sebuah nubuatan. Yesus menyampaikan nubuat tentang masa depan. Ia sedang memberitahu bahwa kalau kita menjadi orang Kristen (murid sejati) maka kita akan mengalami banyak penderitaan. Namun kuasa Allah justru bekerja melalui penderitaan tersebut. Yesus berkata kepada mereka, “Dan karena Aku, kamu akan digiring ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi orang-orang yang tidak mengenal Allah.”

Dan hal itu memang terjadi pada Paulus. Dia bersaksi di muka penguasa-penguasa dan raja-raja. Dan siapa tahu, jika Anda dan saya setia kepada Tuhan, suatu hari nanti, kita juga akan bersaksi di muka penguasa-penguasa dan raja-raja. Dan Yesus berkata, “Janganlah kamu khawatir akan apa yang harus kamu katakan pada mereka karena Roh Allah akan berbicara melalui kamu.” Itu berarti akan ada banyak orang yang diubahkan, seperti gubernur Siprus yang diselamatkan lewat penginjilan Paulus (Kisah 13:12).

Jangan takut: ketakutan adalah lawan dari iman

Di dalam ayat-ayat di Matius 10:26-33 ini kita menemukan satu ungkapan yang muncul berulang-ulang. Ungkapan “jangan takut,” muncul 3 kali di dalam ayat-ayat ini. Pernyataan “jangan takut” adalah ungkapan khas Injil yang sangat menonjol. Ungkapan ini muncul sebanyak 12 kali di dalam Matius dan Lukas, dan 7 dari antaranya terdapat di dalam bagian pengajaran Yesus. Hal ini menunjukkan bahwa kata-kata “jangan takut” sangatlah penting di dalam ajaran Yesus.

Mengapa kata-kata ini menjadi begitu penting? Karena ketakutan adalah lawan dari iman; iman dan ketakutan selalu berseberangan. Jika Anda takut, itu berarti Anda tidak punya iman. Jika Anda punya iman, maka Anda tidak akan menjadi takut. Ini adalah prinsip yang sangat mendasar di dalam Kitab Suci.

Kita hidup di tengah dunia yang penuh dengan ketakutan. Banyak orang di dunia ini hidup di bawah tekanan mental. Setiap tahun milliaran dolar nilai obat penenang yang terjual secara resmi. Banyak penyakit yang diakibatkan oleh stress. Banyak orang yang menderita radang pencernaan dan penyakit lainnya karena tekanan rasa takut dan kecemasan. Baru-baru ini, saya sempat berbincang-bincang dengan seorang ahli bedah, seorang saudara seiman, dan dia berkata bahwa 70% dari pasiennya memiliki penyakit yang tidak diakibatkan oleh masalah jasmani. Penyakit mereka dipicu oleh ketegangan syaraf, tekanan rasa takut atau khawatir. Banyak orang yang menderita dari rasa tidak aman. Jadi, karakter manusia itulah yang merupakan akar persoalannya. Ahli bedah ini berkata bahwa yang perlu dia lakukan terhadap 70% dari pasiennya adalah memberitahu mereka tentang Kristus! Dan memang banyak orang yang datang kepada Tuhan dalam prakteknya.

Saya juga sempat bercakap-cakap dengan seorang dokter yang lain yang memiliki pendapat yang sama. Dia berkata bahwa dia sangat berhasrat untuk memberitakan Injil setelah menjadi dokter selama ini, karena dia mendapati bahwa kebutuhan orang-orang sebenarnya lebih pada kebutuhan rohani ketimbang yang jasmani. Karena itu, cukup banyak dokter yang saya kenal yang setelah membuka praktek dokter sekian tahun, dan menyadari bahwa masalah mendasar yang menimpa orang-orang itu adalah masalah rohani, lalu memutuskan untuk meninggalkan praktek dokternya dan memberitakan Injil.

Sebagai contoh, Dr. Martin Lloyd-Jones, seorang ahli jantung ternama dari Inggris. Hal yang sama terjadi, dia meninggalkan praktek kedokterannya untuk memberitakan Injil. Dia mengabdikan dirinya dalam pemberitaan Injil karena dia melihat bahwa sesungguhnya yang menjadi persoalan manusia adalah: kebutuhan jiwa mereka, rasa tidak aman dan ketakutan mereka. Jika jiwanya tidak disembuhkan, penyakitnya akan kambuh lagi karena, seringkali, penyakit jasmani itu hanya sekadar gejala dari penyakit rohani.

Sebagai contoh, penyakit radang pencernaan. Seringkali, radang pencernaan terjadi sedemikian parahnya sehingga sebagian besar usus harus dibuang lewat operasi. Tapi apa gunanya? Bahkan sekalipun sebagian dari usus itu sudah Anda buang, karena penyebab aslinya adalah kecemasan dan ketakutan, akar masalah Anda masih belum tertangani. Membuang sebagian usus tidak akan memecahkan masalah karena ketakutan dan kecemasan tetap menjerat orang itu, dan suatu saat nanti, masalah radang pencernaan itu akan muncul lagi. Jadi, iman adalah satu-satunya jalan keluar bagi manusia. Yaitu iman kepada Kristus yang memiliki kuasa untuk menyelamatkan.

Tiga macam rasa takut

1. Takut akan tuduhan atau fitnahan

Di dalam ayat-ayat ini Yesus berbicara tentang tiga macam rasa takut. Pertama terdapat di ayat 26, Dia berkata kepada murid-murid-Nya, “Jadi janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatupun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui.” Apa artinya? Nah, untuk bisa paham akan hal ini, Anda perlu melihat ke ayat sebelumnya, yaitu ayat 25, di mana dikatakan, “Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya. Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya.”

Apa yang dimaksudkan oleh ayat-ayat ini? Maksud Yesus adalah, “karena kamu akan menjadi murid-Ku dan mengikut Aku, jika mereka menyerang-Ku, maka mereka akan menyerangmu juga. Mereka akan mengatakan hal-hal yang buruk tentang kamu.”

Ketika Yesus mengusir setan-setan dengan kuasa Allah, mereka berkata, “Oh, Dia bekerja dengan kuasa setan.” Nah, itu adalah hal terburuk bisa Anda tuduhkan pada seorang hamba Allah. Akan tetapi setiap orang yang melakukan pekerjaan Allah tak perlu menunggu lama untuk menerima tuduhan dan fitnahan. Dan jika Anda takut menerima tuduhan dan fitnahan, lebih baik Anda tidak ikut pekerjaan Allah. Ketakutan yang satu ini sering menghantui kita karena sudah menjadi watak manusia untuk selalu berharap agar orang lain berpikir yang baik-baik saja tentang kita.

Menurut Anda, mengapa kita mengenakan pakaian yang bagus dan dasi yang bagus? Kita ingin agar orang lain berpikir, “Oh, dia tidak buruk. Coba lihat pakaian bagus yang dikenakannya.” Demikian pula cara kita berperilaku dibuat agar bisa menimbulkan kesan di hati orang lain tentang betapa baiknya kita. Kita ingin agar orang lain berpikir yang baik-baik tentang kita. Nama baik sangat berarti bagi kita.

Saya sempat mendengarkan siaran beberapa hari yang lalu tentang beberapa orang gadis yang ditanyai tentang hal apakah yang paling penting dalam hal pandangan pria terhadap mereka. Kebanyakan remaja putra mengira bahwa para gadis itu akan memilih hal-hal seperti daya tarik dan sebagainya. Sungguh mengejutkan, para gadis itu ternyata sangat peduli dengan reputasi mereka. Namun hal ini sebenarnya tidaklah mengejutkan karena kita selalu ingin agar orang lain berbicara dan memikirkan hal yang baik-baik saja tentang kita.

Bahkan orang-orang yang kelihatannya tidak peduli dengan pendapat orang lain, mereka juga masih peka terhadap apa yang dipikirkan oleh beberapa kelompok atau kalangan tertentu tentang mereka. Jadi, kita takut dipandang aneh di lingkungan kita. Coba dan lihat saja. Jika Anda berada di kampus, cobalah menjadi orang Kristen di sana, mendadak saja, Anda akan merasa bahwa Anda adalah orang aneh di sana. Beranikah Anda mengaku sebagai orang Kristen di kantor Anda? Beranikah Anda bersaksi bagi Kristus? Mengapa Anda tidak berani mengerjakan hal itu? Karena Anda takut. Sekali lagi saya katakan, jika ada rasa takut, maka tidak terdapat iman di sana. Orang yang memiliki iman tidak memiliki rasa takut.

Jadi di dalam ayat 26 itu poinnya adalah jangan takut akan difitnah dan diserang karena kebenaran akan diungkapkan oleh Allah. Di sana Yesus berkata, “Tidak ada hal yang ditutupi yang tidak akan dibuka.” Segala sesuatu akan diungkapkan. Kebenaran akan diketahui. Jadi, karena Anda tahu bahwa Allah akan mengungkapkan kebenaran, mengapa harus takut pada apa yang dikatakan oleh orang lain di saat ini? Artinya, jika Anda yakin bahwa Allah akan mengungkapkan kebenaran? Jika Anda mengimani bahwa Allah akan mengungkapkan semua yang tersembunyi, maka Anda tidak akan takut.

Sebagai contoh, Anda takut menunjukkan bahwa adalah seorang Kristen di kampus. Akan tetapi jika Anda yakin bahwa pada Hari Penghakiman, segalanya akan diungkapkan maka Anda tidak akan takut. Anda akan berkata, “Kebenaran akan diungkapkan jadi saya akan menyatakan diri saya sekarang ini.” Atau, jika Anda takut untuk bersaksi kepada orang lain tentang Kristus dan Anda berkata, “Kalau aku membicarakan Kristus kepadanya, bagaimana pikirannya terhadapku? Seorang religius yang fanatik? Aku tak mau dikira sebagai orang religius yang fanatik.” Akan tetapi jika Anda sadar bahwa suatu hari nanti, kebenaran akan diungkapkan, jika orang tersebut nantinya berkata kepada Anda, “Kamu tahu kebenarannya, mengapa kamu tidak memberitahu aku saat itu?” maka Anda tidak akan takut.

2. Takut mati

Jenis ketakutan yang kedua terdapat di dalam ayat 28, yaitu takut mati. Ini adalah ketakutan yang membelenggu banyak orang, sebagaimana yang kita baca di dalam Ibrani 2:15. Takut mati memiliki jangkauan makna yang lebih luas ketimbang sekadar mati secara jasmani, seperti ditembak dan sebagainya.

Takut mati, sebagai contoh, bisa berarti takut kehilangan kehidupan di dunia ini, misalnya kehilangan pekerjaan atau kehilangan tempat tinggal. Di dalam Kitab Suci, hal ini juga disebut “mati”. Demikianlah, di bagian akhir dari pasal dalam Matius ini, kita akan melihat hal tersebut dinyatakan dengan sangat jelas, yaitu di ayat 39, Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Tuhan berkata, jika kamu berusaha mempertahankan nyawamu maka kamu akan kehilangan nyawamu, jika kamu kehilangan nyawamu demi Aku, maka kamu akan mendapatkannya. Apakah artinya? Apakah saya harus bergegas mencari orang dan menyuruhnya menembak saya supaya saya bisa berkata, “Aku sudah mati demi Kristus, sekarang aku mendapatkan nyawaku”?

Kita akan berpikir seperti ini kalau kita hanya memahaminya sebatas kehilangan nyawa, yaitu meninggal dunia. Akan tetapi kehilangan nyawa atau kehilangan hidup di dalam Alkitab itu berarti bahwa seseorang menyerahkan segenap hidupnya kepada Kristus setiap hari. Itulah yang Yesus maksudkan dengan memikul salib setiap hari. Mati setiap hari. Nah ketakutan untuk mati setiap hari adalah suatu masalah yang besar di lingkungan orang Kristen. Mengapa banyak orang yang tidak mau melayani Tuhan? Karena mereka takut mati, mereka ingin mempertahankan standar kehidupan mereka. Ini adalah jenis ketakutan yang menghambat banyak orang untuk memiliki iman.

3. Takut terluka

Nah, jenis ketakutan yang ketiga adalah ketakutan yang disebutkan di dalam ayat 29-30 dan seterusnya. Di sini Yesus berkata, Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Di sini terlihat gambaran tentang burung pipit yang terluka dan jatuh ke tanah. Nah, burung pipit biasa dijual di pasar di Yerusalem. Orang di sana sudah biasa makan burung pipit. Dua ekor burung pipit dijual seduit. Harga yang sangat murah. Orang-orang miskin biasanya membeli burung pipit untuk makanannya. Di dalam Lukas, kita melihat bahwa lima ekor burung pipit dijual seharga dua duit. Ini harga yang lebih murah. Jika Anda beli dua, Anda bayar seduit, tetapi dengan uang dua duit, maka Anda mendapatkan lima. Jadi belanja banyak harganya lebih murah.

Bagaimana cara mereka menangkap burung pipit? Biasanya adalah dengan menggunakan katapel, dan tentu saja burung yang terkena katapel biasanya terluka cukup parah. Mereka tidak punya senapan pada zaman itu. Jadi, pada umumnya, tembakan katapel tidak langsung membunuh burung pipit itu, hanya melukainya. Mereka baru membunuhnya setelah burung pipit itu jatuh ke tanah. Banyak orang berkata, “Aku tidak takut mati, tetapi aku takut terluka.” Dan sekali lagi, Yesus berkata, “Jangan takut akan hal itu. Jangan takut pada mereka yang bisa membunuh atau melukai tubuh, tetapi takutlah kepada Allah yang memiliki kuasa untuk membinasakan baik tubuh maupun jiwa.”

Bertanyalah kepada Allah, “Ketakutan macam apakah yang telah melumpuhkan kehidupan rohani saya?”

Apakah yang menjadi ketakutan Anda? Setiap orang punya ketakutan yang tertentu. Ketakutan itu terbagi dalam tiga kategori, tetapi pada dasarnya mereka semua sama saja. Jika Anda ingin punya iman, hal pertama yang perlu dilakukan adalah membiarkan Allah untuk menyelidiki hati Anda dan mengungkapkan ketakutan macam apa yang bersembunyi di dalam hati Anda.

Jika kita mendaftarkan apa yang membuat kita takut, saya pikir akan tercipta daftar yang sangat panjang. Ada beberapa gadis yang takut kalau-kalau nanti tidak dapat suami. Ada juga para pemuda yang takut nanti tidak mendapat istri yang baik. Ada yang takut tidak dapat menyelesaikan studinya atau tidak lulus ujian. Ada yang takut tidak mendapat izin tinggal, “Bagaimana kalau nanti aku tidak boleh tinggal di negeri ini?” Ada yang takut akan masa depannya, “Bagaimana kalau setelah lulus nanti aku tidak dapat pekerjaan?”

Jika Anda ingin melanjutkan dalam iman, langkah pertama adalah dengan membiarkan Allah menyelidiki hati Anda untuk melihat, “Apakah ketakutan yang melumpuhkan kehidupan rohaniku?” Saya kenal beberapa orang non-Kristen yang berkata bahwa mereka tidak berani menjadi Kristen karena mereka takut tidak mampu menjalani kehidupan Kristen. Itu juga salah satu ketakutan. Mereka seharusnya terus melangkah dalam iman untuk mengenal kuasa Allah yang memampukan mereka untuk menjalani kehidupan Kristen.

Ada orang yang begitu takutnya sehingga seumur hidup mereka tidak menjadi orang Kristen. Beberapa orang berkata, “Aku akan menjadi Kristen pada saat menjelang ajal saja, sebab kalau aku sudah dibaptis tetapi kemudian berbuat dosa, apa yang akan terjadi denganku nanti?” Masalahnya adalah Anda tidak tahu kapan Anda akan mati. Jika kita bisa tahu kapan kita akan mati, tentu kita bisa menunda untuk datang kepada Tuhan sampai sekitar lima menit sebelum mati.

Saya curiga bahwa orang-orang yang berpikir seperti ini sebenarnya takut kalau-kalau mereka tidak bisa lagi menikmati dunia kalau sudah menjadi Kristen nanti. Coba Anda pikirkan, “Kalau temanku mengundang ke pesta dansa, maka aku tidak bisa ikut karena aku orang Kristen. Rugi sekali! Lebih baik aku menjadi orang Kristen di saat menjelang ajal saja. Itu lebih baik.” Atau mungkin, “Kalau aku menjadi orang Kristen, aku tidak bisa pergi ke bioskop. Dan kalau ada adegan yang merangsang, aku tidak bisa menyaksikannya sementara semua temanku bisa menontonnya. Oh tidak! Aku tidak mau dibaptis sampai dekat ajal nanti.” Atau mungkin, “Ada seorang gadis cantik yang bukan Kristen, tetapi aku orang Kristen dan aku tidak bisa menikahi orang non-Kristen. Oh, rugi sekali! Aku harus menikahi orang Kristen yang buruk, bukannya orang non-Kristen yang cantik! Ini masalah yang sangat serius! Mungkin lebih baik menikahi si cantik yang non-Kristen itu, dan nanti aku baru menjadi Kristen tepat sebelum mati, dan aku tetap masuk surga. Bagus sekali.”

Atau mungkin, “Kalau aku menjadi Kristen dan semua teman mentertawaiku, ‘Ha! Dia menjadi orang Kristen! Tambah satu lagi orang yang gila!’ Mungkin lebih baik aku menjadi Kristen lima menit sebelum aku mati. Aku tidak mau ditertawai orang-orang dan aku mau istri yang cantik. Bagus sekali! Aku bisa mendapatkan yang terbaik dari kedua dunia. Aku bisa masuk surga dan tetap memperoleh yang terbaik dari dunia ini. Aku memang cerdik!”

Sebenarnya, banyak dari ketakutan itu, sama seperti ketakutan yang lainnya, tidak memiliki dasar sama sekali. Dari mana Anda mendapat pengertian bahwa orang Kristen tidak bisa ikut pesta dansa atau pergi ke bioskop? Apakah ada tertulis di Alkitab? Bukan maksud saya untuk berkata bahwa sangat baik bagi orang Kristen untuk pergi ke pesta dansa, tetapi tidak ada hukum yang menentang hal itu. Rasul Paulus berkata, “Segala sesuatu halal bagiku.” Seorang Kristen bebas untuk melakukan apapun akan tetapi tidak semua hal itu berguna. Jadi orang Kristen harus memilah mana yang berguna dan yang tidak berguna, bukan apakah dia boleh atau tidak boleh. Saya harap setiap orang Kristen mengerti akan prinsip ini. Sebagai orang Kristen, saya bebas untuk pergi ke pesta dansa setiap saat. Akan tetapi menurut saya hal ini tidak ada gunanya, bagi saya dan juga bagi orang lain, jadi saya tidak pergi. Bukan karena saya tidak boleh, melainkan karena saya tidak mau. Jadi ketakutan semacam itu sangat tidak berdasar.

Menjadi orang Kristen berarti menghadapi dan mengatasi ketakutan Anda

Di sini ada hal yang penting. Jangan mengira bahwa Anda bisa menipu Allah dan tetap menjadi Kristen. Menjadi Kristen berarti Anda harus menghadapi ketakutan Anda serta mengatasinya. Jadi iman dan ketakutan selalu berseberangan. Itu sebabnya mengapa dibutuhkan keberanian yang sangat besar untuk menjadi seorang Kristen. Anda haruslah seorang yang pemberani untuk bisa menjadi orang Kristen. Saya tidak kaget melihat bahwa tidak banyak orang yang benar-benar Kristen karena memang tidak banyak orang yang pemberani.

Memang benar bahwa ada banyak sekali masalah yang menghadang kita untuk bisa menjadi orang Kristen. Akan tetapi orang yang memiliki iman tidak takut pada masalah. Dia tidak takut ditertawai oleh orang lain. Dia tidak takut akan apa yang dipikirkan oleh orang lain tentang dia. Dia tahu bahwa kebenaran akan diungkapkan. Dia belajar untuk tidak takut pada kematian, tidak takut rugi dan tidak takut terluka. Hidup yang bebas dari ketakutan adalah kehidupan yang luar biasa indahnya! Satu-satunya jenis orang yang bebas dari ketakutan adalah orang yang memiliki iman. Saya sampaikan sekali lagi, jika Anda belum terbebas dari ketakutan, alasannya adalah karena Anda belum memiliki iman.

Jadi, apapun ketakutan Anda, biarkanlah Allah membebaskan Anda. Sebagaimana yang dikatakan oleh Yesus, Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka.

Dosa membawa ketakutan

Dosa menimbulkan ketakutan. Anda merasa ketakutan ketika melihat mobil polisi tiba-tiba muncul di kaca spion mobil Anda. Atau ketika ada ketukan di pintu rumah dan saat Anda membukanya ternyata yang berdiri di depan Anda adalah seorang polisi, yang berkata, “Aha! Mana surat izin kerjamu?” Dan Anda menjadi panik: Aku tertangkap! Atau ketika tiba-tiba ada orang yang menepuk pundak Anda dan Anda melompat ketakutan. Mungkin itu hanya seorang teman yang bermaksud menyapa, “Halo,” tetapi Anda sudah merasa ketakutan. Pernahkah Anda memperhatikan betapa mudahnya orang-orang yang dicekam rasa bersalah itu gampang gugup dan gelisah? Jadi Anda bisa melihat sekarang, di mana ada dosa, di sana ada ketakutan.

Sekarang Anda bisa melihat hubungannya: yaitu hubungan antara dosa dengan ketakutan, dan yang berseberangan dengan itu adalah iman. Dapatkah Anda melihat mengapa iman menyelamatkan Anda dari dosa oleh kuasa Kristus, dan Anda akan masuk ke dalam kemerdekaan penuh dari Kristus.

Beberapa orang menjadi sangat terbiasa hidup dalam ketakutan sehingga mereka bahkan tidak tahu mengapa mereka ketakutan. Ini sangat aneh. Ada orang yang menderita tekanan syaraf, akan tetapi mereka sendiri tidak tahu persis mengapa mereka tertekan. Mereka telah berada di dalam tekanan itu sedemikian lamanya sehingga mereka tidak tahu lagi apa penyebab asalnya. Dan hal yang aneh adalah ada beberapa orang yang menderita tekanan syaraf yang sangat hebat sehingga jika mereka bisa bersantai sekitar lima menit, mereka akan mulai dilanda ketakutan, “Kapan aku akan stress lagi?”

Kasih pada dunia membawa ketakutan

Ada begitu banyak sumber ketakutan: rasa takut yang membuat orang tak dapat tidur di malam hari, takut pada kegelapan; takut kalau-kalau nanti akan ada orang yang menyelinap masuk ke rumah Anda ketika Anda sedang berada di gereja dan mendengarkan Injil. Anda bertanya-tanya, “Apakah ada maling yang menyusup ke rumahku dan mencuri semua barang antikku?”

Saya pernah kenal dengan seorang penatua di gereja di London. Dia memiliki begitu banyak uang, jadi dia membeli banyak barang antik sebagai investasi. Sekarang ini, jika Anda memiliki terlalu banyak uang, apa yang dapat Anda lakukan? Itu adalah masalah yang besar bagi orang-orang kaya. Jika Anda membeli emas, harga emas berpeluang turun. Jika Anda menaruhnya di bank, bunga yang Anda terima mungkin hanya cukup untuk menutupi dampak inflasi. Apa yang bisa Anda lakukan? Jika Anda membeli saham, ada kemungkinan harganya jatuh. Jika Anda membeli saham blue chip, yang nilainya cukup stabil karena milik perusahaan yang kuat, itupun masih berpeluang besar untuk jatuh. Banyak orang yang membeli saham Rolls-Royce karena ini adalah perusahaan yang terkenal dan layak dipercaya, dan tidak akan pernah jatuh. Kemudian Rolls-Royce ambruk. Dan banyak orang yang menderita kerugian jutaan dolar karena harga sahamnya jatuh.

Jadi orang-orang kaya adalah orang-orang yang sangat cemas. Nah, apakah yang dilakukan oleh penatua gereja ini? Dia membeli barang-barang antik. Masalahnya adalah di mana barang-barang antik itu harus disimpan? Anda bisa saja menyimpan batangan emas di ruang penyimpanan milik bank, namun para maling kadang-kadang menggondol semua isi ruang penyimpanan itu. Barang antik adalah pilihan yang bagus karena harganya selalu naik. Jika Anda punya banyak uang, belilah barang antik. Akan tetapi juga sangat berbahaya karena di mana Anda harus menyimpannya?

Orang ini punya satu ruangan yang penuh dengan barang antik. Sulit untuk bisa duduk di sana tanpa menyenggol salah satu barang antiknya. Jadi, jika Anda berkunjung ke sana, Anda akan segera terkena tekanan batin. Hal terbaik yang bisa Anda lakukan mungkin adalah dengan berdiri kaku karena semua tempat dipenuhi oleh barang antik yang besar dan yang kecil, ada porselin di sana-sini, dan Anda tidak berani bergerak. Dia pernah memberitahu saya, “Yang ini berasal dari dinasti Ching, dan yang itu dari dinasti Ming. Yang ini berharga 200 pounds dan yang itu harganya 400 pounds.” Dan saya membatin, “Jangan sampai aku menjatuhkannya, sebab aku tak sanggup membayar ganti ruginya.” Sebenarnya, berdiri kaku saja masih susah karena karpet yang digelar di sana juga merupakan investasinya. Banyak orang yang membeli karpet untuk investasi karena nilai karpet bergerak naik. Tentu saja, bukan karpet dari jenis yang murahan, karena yang jenis itu nilainya akan selalu turun dan tidak pernah naik. Akan tetapi nilai karpet buatan tangan dari China atau Persia yang harganya naik terus. Jadi, jika Anda berdiri di atas karpetnya dan Anda bisa saja sedang merusak investasinya.

Dapatkah Anda membayangkan bagaimana dia duduk di gereja dengan hati yang cemas setiap saat karena rumahnya dipenuhi oleh barang antik berharga ribuan pound sterling? Bagaimana mungkin Firman Allah bisa masuk ke dalam hatinya jika dia terus saja mengkhawatirkan barang antiknya? Rumahnya dipenuhi dengan alarm – satu di sini dan satu di sana, dan ada yang bahkan terhubung langsung dengan kantor polisi. Saya ragu apakah alarm-alarm tersebut bisa menahan maling yang “pakar”. Alarm sangatlah mudah untuk dimatikan. Tak satupun dari alarm-alarm itu yang bisa mengamankan rumahnya jika yang masuk adalah seorang maling professional. Demikianlah, hatinya selalu diliputi ketakutan.

Izinkan saya bertanya pada Anda, bagaimana mungkin penatua ini memiliki iman? Dia tak akan bisa selama masih ada begitu banyak ketakutan di hatinya. Apakah artinya? Artinya, kasih pada dunia akan menimbulkan ketakutan. Jika Anda punya sebuah mobil yang bagus yang sedang diparkir di pinggir jalan, saya yakin Anda pasti khawatir dan berpikir, “Apakah anak-anak akan menggoresi mobilku?” Jadi, apa yang bisa kita lihat? Kita bisa melihat tadi bahwa dosa membawa ketakutan. Dan dunia juga membawa ketakutan.

Kedagingan membawa ketakutan

Kedagingan juga membawa ketakutan. Oh, semua hal itu memang menimbulkan ketakutan. Jika Anda berbuat dosa seks misalnya, Anda akan menghadapi banyak ketakutan dan bertanya-tanya, “Apakah akibat dari semua ini?”

Kita perlu dimerdekakan dari ketakutan melalui iman. Dari uraian ini, kita bisa melihat bahwa iman memerdekakan kita dari ketakutan. Iman memerdekakan kita dari ketakutan dengan kuasa Kristus, karena iman memerdekakan kita dari dunia dan kedagingan. Jadi, kita sekarang tahu apa yang Yesus maksudkan ketika Dia berkata kepada murid-murid-Nya, “Janganlah kamu takut.” Di dalam Markus 4:40 Dia berkata pada murid-murid-Nya, “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Jika tidak ada iman, maka akan selalu ada ketakutan.

Dan ketakutan selalu dilandasi oleh alasan yang bagus dari sudut pandang manusia. Penatua yang rumahnya penuh dengan barang antik ini punya alasan untuk merasa takut. Itu bukanlah ketakutan yang tanpa dasar; itu adalah ketakutan yang nyata karena dia belum dimerdekakan dari kasih akan dunia melalui iman. Dia tidak akan dicekam ketakutan kalau dia menyimpan hartanya di surga ketimbang di dunia. Akan tetapi karena dia tidak memiliki iman, dia tidak mau menyimpannya di surga. Dia mau menyimpannya di bumi. Ada sangat banyak penatua yang tidak memiliki iman. Mengapa Anda menyimpan harta di bumi? Karena Anda ingin selalu ada uang di saat Anda memerlukannya. Jika Anda menyimpan harta Anda di surga, Anda tidak dapat mengambilnya segera jika Anda memerlukannya. Jadi Anda berkata, “Saat Yesus berkata ‘Simpanlah hartamu di surga,’ hal itu sangat benar, namun ketika aku mau mengambil depositoku, bagaimana cara aku mendapatkannya? Jadi lebih baik aku menyimpannya di sini saja dari pada di surga.” Begitulah cara berpikir Anda jika Anda tidak punya iman.

Bagaimana iman menjadi lawan dari ketakutan?

Iman adalah keyakinan pada keadilan Allah

Pertama, iman didasari pada keadilan Allah di dalam ayat 26. Orang lain boleh memfitnah saya, orang lain boleh saja berpikir buruk tentang saya sekarang, hal itu bukan masalah karena saya yakin pada keadilan Allah. Iman saya meyakini keadilan Allah. Saya tahu bahwa Dia akan mengungkapkan kebenaran. Dia akan membenarkan mereka yang berjalan di dalam kebenaran. Sekalipun sekarang ini kebenaran tersembunyi, namun kebenaran itu akan dinyatakan kelak.

Iman adalah keyakinan pada kuasa Allah untuk menyelamatkan

Kedua, iman didasari pada kuasa Allah. Yang ini kita baca di dalam ayat 28. Janganlah takut pada manusia. Kuasa manusia itu terbatas; ia hanya dapat membinasakan tubuh. Tetapi takutlah pada Allah karena kuasa-Nya tak terbatas. Dia bisa membinasakan tubuh dan jiwa. Iman adalah keyakinan pada kuasa Allah, iman tidak takut pada manusia.

Iman adalah keyakinan pada kasih Allah kepada kita

Ketiga, kita melihat bahwa iman didasari pada kasih Allah bagi kita sebagaimana yang kita lihat di dalam ayat 31: “Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.” Allah peduli pada Anda. Anda sangat berharga bagi-Nya. Dia mengasihi Anda. Dia menyayangi Anda. Sedemikian besar kasih-Nya pada Anda sehingga rambut Anda pun terhitung di hadapan-Nya. Mereka sudah terhitung. Di dalam Lukas 21:18 disebutkan bahwa tidak sehelai rambutpun di kepala Anda akan hilang. Begitu besar kasih dan kepedulian Allah pada kita. Dalam Khotbah di Bukit, Yesus berkata, “Kukatakan kepadamu: kamu yang jahat tahu bagaimana mengasihi anak-anakmu. Bukankah Allah Yang Maha baik jauh mengasihi kamu karena kamu adalah anak-anak-Nya?”

Seringkali, di malam hari, saya pergi ke kamar anak saya untuk memastikan bahwa dia telah diselimuti. Dia sangat aktif. Sama seperti anak-anak lainnya, dia cenderung menendang jatuh bantal-bantal dari tempat tidurnya. Biasanya, istri saya yang melakukannya dan jika dia sedang sakit, saya akan menengoknya. Dan suatu hari, ketika saya sedang menarik dan membetulkan letak selimutnya, saya berpikir: “Aku yang jahat, yang tidak benar, tahu bagaimana harus mengasihi anakku. Betapa Allah jauh lebih mengetahui bagaimana untuk mengasihi aku.”

Jadi iman adalah keyakinan pada tiga hal yang berkaitan dengan Allah. Keyakinan pada keadilan Allah. Keyakinan pada kuasa Allah untuk menyelamatkan, dan keyakinan pada kasih Allah untuk kita. Jika Anda memiliki keyakinan semacam itu, adakah tempat tersisa bagi ketakutan?

Milikilah satu ketakutan saja: takut akan Allah

Tetapi ada satu rasa takut yang perlu kita miliki di dalam hidup ini. Hanya ada satu hal yang membuat saya takut. Hanya ada satu hal yang membuat seorang beriman merasa takut. Tahukah Anda apa itu? Rasa takut kalau Kristus tidak mengenali Anda pada Hari itu, takut kalau Kristus menyangkal Anda pada Hari itu. Jika Yesus menyangkal Anda, maka itu adalah hal yang benar-benar harus ditakuti – jika Dia berkata kepada Anda, “Aku tidak kenal siapa kamu. Menjauhlah dari-Ku, kamu semua pembuat kejahatan.” (Mat 7:23).

Ketakutan yang ini disebut takut akan Allah. Ini juga merupakan permulaan dari hikmat seperti yang disampaikan oleh Amsal kepada kita: “Takut akan TUHAN adalah permulaan hikmat.” Lalu di ayat 32 Yesus mengatakan ini: “Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di surga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di surga.”

Bagaimana pikiran orang lain tentang saya tidak membuat saya takut. Satu-satunya hal yang saya perhitungkan adalah bagaimana pikiran Yesus tentang saya.

Iman menatap pada realitas kekal

Hal ini menunjukkan bahwa iman menatap ke arah masa depan. Iman menatap ke arah realitas kekal. Iman mengetahui bahwa dunia ini akan berlalu. Orang-orang yang mengkritik Anda sekarang ini akan berlalu. Orang yang membunuh Anda itu sendiri akan mati juga. Segala sesuatu di bumi ini akan berlalu. Namun Yesus tidak berlalu. Allah tidak berlalu. Dia itu kekal. Iman memahami itu. Dan itulah sebabnya mengapa kita tidak takut pada apapun yang kita hadapi di dalam hidup ini karena semua yang ada di dalam hidup ini akan berlalu. Hal yang paling indah, yang paling berharga di dalam hidup ini, semuanya akan berlalu. Apa gunanya memenuhi rumah Anda dengan barang antik? Anda akan berlalu dan semua itu juga akan berlalu. Anda tidak akan membawa sepeserpun uang ke sana.

Seperti yang dilihat oleh iman, satu-satunya hal yang penting adalah yang berkaitan dengan kekekalan. Dan iman berpegang pada yang kekal. Iman hanya peduli pada satu hal: untuk mengakui Yesus tak peduli apapun yang orang lain pikirkan tentang saya.

Perhatikan hal ini, jika Anda mengakui Yesus, setiap kali Anda berbicara demi Yesus, pikirkanlah hal ini, Dia akan mengakui Anda di hadapan Bapa. Renungkanlah hal itu. Jika semua orang menertawai Anda, peduli apa? Allah mengakui Anda. Tapi setiap kali, karena ketakutan, Anda cenderung untuk menyangkal Tuhan, renungkanlah apa yang akan terjadi kelak. Akuilah Tuhan bukan sekadar dengan mulut Anda tetapi lewat kehidupan Anda. Ingatlah juga bahwa menyangkal Dia tidak terjadi lewat mulut Anda saja, tetapi juga lewat kehidupan Anda. Jadi berhati-hatilah dengan cara hidup Anda. Jangan berpikir: “Aku tidak menyangkal-Nya dengan mulutku.” Tetapi bisa saja kehidupan Anda justru mempermalukan Dia. Dan ingatlah, jika kehidupan Anda menyangkal Dia, maka Dia akan menyangkal Anda. Ini adalah hal yang perlu ditakuti.

Jadi kita dapat menyimpulkan dengan mengatakan bahwa memiliki iman berarti dimerdekakan dari ketakutan. Memiliki iman berarti dimerdekakan dari segala macam ketakutan di dalam hidup ini. Jika Anda memiliki ketakutan, bagaimana Anda bisa memiliki sukacita? Bagaimana Anda bisa memiliki damai sejahtera? Namun jika Anda sudah dimerdekakan dari ketakutan maka Anda bisa memiliki semua hal itu. Berdoalah supaya Allah memberi Anda iman yang menyelamatkan.

SELESAI
Sumber:CahayaPengharapanMinistries, pada http://www.cahayapengharapan.org/khotbah/matius/texts/iman_adalah_jangan_takut.htm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: