50 tahun salah paham

March 3, 2009
50 tahun salah paham
Dikisahkan, disebuh gedung pertemuan yang amat megah, seorang pejabat senior istana sedang menyelenggarakan pesta ulang tahun perkawinannya yang ke-50. Peringatan kawin emas itu ramai didatangi oleh tamu-tamu penting seperti para bangsawan, pejabat istana, pedagang besar serta seniman-seniman terpandang dari seluruh pelosok negeri. Bahkan kerabat serta kolega dari kerajaan-kerajaan tetangga juga hadir. Pesta ulang tahun perkawinan pun berlangsung dengan megah dan sangat meriah.
Setelah berbagai macam hiburan ditampilkan, sampailah pada puncak acara, yaitu jamuan makan malam yang sangat mewah. Sebelum menikmati kamuan tersebut, seluruh hadirin mengikuti prosesi penyerahan hidangan istimewa dari sang pejabat istana kepada istri tercinta. Hidangan itu tak lain adalah sepotong ikan emas yang diletakkan di sebuah piring besar yang mahal. Ikan emas itu dimasak langsung oleh koki kerajaan yang sangat terkenal.
“Hadirin sekalian, ikan emas ini bukanlah ikan yang mahal.. Tetapi, inilah ikan kegemaran kami berdua, sejak kami menikah dan masih belum punya apa-apa, sampai kemudian di usia perkawinan kami yang ke-50 serta dengan segala keberhasilan ini. Ikan emas ini tetap menjadi simbol kedekatan, kemesraan, kehangatan, dan cinta kasih kami yang abadi,” kata sang pejabat senior dalam pidato singkatnya.
Lalu, tibalah detik-detik yang istimewa yang mana seluruh hadirin tampak khidmat menyimak prosesi tersebut. Pejabat senior istana mengambil piring, lalu memotong bagian kepala dan ekor ikan emas.
Dengan senyum mesra dan penuh kelembutan, ia berikan piring berisikan potongan kepala dan ekor ikan emas tadi kepada isterinya.
Ketika tangan sang isteri menerima piring itu, serentak hadirin bertepuk tangan dengan meriah sekali. Untuk beberapa saat, mereka tampak ikut terbawa oleh suasana romantis, penuh kebahagiaan, dan mengharukan tersebut.
Namun suasana tiba-tiba jadi hening dan senyap. Samar-samar terdengar isak tangis si isteri pejabat senior. Sesaat kemudian, isak tangis itu meledak dan memecah kesunyian gedung pesta. Para tamu yang ikut tertawa bahagia mendadak jadi diam menunggu apa gerangan yang bakal terjadi. Sang pejabat tampak kikuk dan kebingungan. Lalu ia mendekati isterinya dan bertanya “Mengapa engkau menangis, isteriku?”
Setelah tangisan reda, sang isteri menjelaskan “Suamiku…sudah 50 tahun usia pernikahan kita. Selama itu, aku telah dengan melayani dalam duka dan suka tanpa pernah mengeluh. Demi kasihku kepadamu, aku telah rela selalu makan kepala dan ekor ikan emas selama 50 tahun ini. Tapi sungguh tak kusangka, di hari istimewa ini engkau masih saja memberiku bagian yang sama. Ketahuilah suamiku, itulah bagian yang paling tidak aku sukai.” tutur sang isteri.
Pejabat senior terdiam dan terpana sesaat. Lalu dengan mata berkaca-kaca pula, ia berkata kepada isterinya,” Isteriku yang tercinta…50 tahun yang lalu saat aku masih miskin, kau bersedia menjadi isteriku. Aku sungguh-sungguh bahagia dan sangat mencintaimu. Sejak itu aku bersumpah pada diriku sendiri, bahwa seumur hidup aku akan bekerja keras, membahagiakanmu, membalas cinta kasih dan pengorbananmu. “
Sambil mengusap air matanya, pejabat senior itu melanjutkan, “Demi Tuhan, setiap makan ikan emas, bagian yang paling aku sukai adalah kepala dan ekornya. Tapi sejak kita menikah, aku rela menyantap bagian tubuh ikan emas itu. Semua kulakukan demi sumpahku untuk memberikan yang paling berharga buatmu.”
Sang pejabat terdiam sejenak, lalu ia melanjutkan lagi “Walaupun telah hidup bersama selama 50 tahun dan selalu saling mencintai, ternyata kita tidak cukup saling memahami. Maafkan saya, hingga detik ini belum tahu bagaimana cara membuatmu bahagia.” Akhirnya, sang pejabat memeluk isterinya dengan erat.. Tamu-tamu terhormat pun tersentuh hatinya melihat keharuan tadi dan mereka kemudian bersulang untuk menghormati kedua pasangan tersebut.
Moral cerita diatas:
Bisa saja, sepasang suami – isteri saling mencintai dan hidup serumah selama bertahun-tahun lamanya. Tetapi jika di antaranya tidak ada saling keterbukaan dalam komunikasi, maka kemesraan mereka sesungguhnya rawan dengan konflik. Kebiasaan memendam masalah itu cukup riskan karena seperti menyimpan bom waktu dalam keluarga. Kalau perbedaan tetap disimpan sebagai ganjalan dihati, tidak pernah dibiacarakan secara tulus dan terbuka, dan ketidakpuasan terus bermunculan, maka konflik akan semakin tak tertahankan dan akhirnya bisa meledak. Jika keadaan sudah seperti ini, tentulah luka yang ditimbulkan akan semakin dalam dan terasa lebih menyakitkan.
Kita haruslah selalu membangun pola komunikasi yang terbuka dengan dilandasi kasih, kejujuran, kesetiaan, kepercayaan, pengertian dan kebiasaan berpikir positif.
Saat bertemu orang yang pernah salah-paham padamu, gunakan saat tersebut untuk menjelaskannaya. Karena engkau mungkin hanya punya satu kesempatan itu saja untuk menjelaskan.
Oleh: Tidak Diketahui
Sumber : heartnsouls. com

Free download Renungan Dalam Cerita Nyata

February 16, 2009

Origin of the church: THE WHOLE HISTORY

January 13, 2009

THE WHOLE HISTORY

Origin of the church

The Bali church, later called Gereja Kristen Protestant in Bali (GKPB), was founded in 1931. The Bali Church changed its name to the Protestant Christian Church in Bali, because the church is for all people, regardless of ethnicity and race, without discrimination, including international visitors.

From the very beginning of Christianity in Bali there has been a struggle that lasted more than 70 years and goes on even now. GKPB has a synod and is the biggest Christian church in Bali whose mission is not only in the cities, but in nearly all the villages and regions. It is a church for all ethnic groups but most of the church members have a Balinese background. GKPB works at the grassroots of the Balinese people. Most of these people work as tenant farmers, because the land is owned by landlords who are mainly from the high caste. The church is working amongst the poor and helps many people, as Jesus taught.

Bali’s first contact with Christianity resulted from a letter sent by the King of Klungkung to the Vatican in 1635 expressing his eagerness to forge ties between the Balinese people and the Catholic Church. In his letter, written on a lontar leaf, the king wrote: “I would very much like for us to be close allies and would be happy to receive your representatives here to facilitate the conversion to Christianity of those Balinese people who so desire.” The Vatican responded to the letter by dispatching missionaries to Bali. On the 11 March, 1635, two priests stationed in the Moluccas – Father Manuel Carualho and Azeuado S.J. – left for Bali. But their visit did not entail immediate efforts at Christianisation and there are no records that any of the people of Klungkung were baptized during the priests’ stay on the island.

Then Jacob de Vroom, a Dutch Reformed Church missionary working in Bali since 1867, baptised the first Balinese Gusti Wayan Karangasem in North Bali. After a painful incident however, the missionary was killed on 8 June 1881.

Unwanted

After this incident, it took until 1929, when Mr. Salam Watias from East Java was sent to Bali by the British Bible Society and was allowed to work there as a colporteur, selling Christian literature and the bible. Many people were interested; in the eyes of Bishop Ayub it seemed a preparation of mission, begun in Bali by God himself.

At that time the Dutch government gave permission to the Christian & Mission Alliance (C&MA), an alliance of fundamentalist Christians with an office in the USA, to begin work in Bali. This organization then gave permission to the Chinese Pastor Tsang-To Hang to work as a missionary, but only amongst the Chinese in Denpasar City. With the help of a woman who worked for him as a housekeeper, Pastor Tsang-To Hang got in contact with the Balinese Pan Loting, who was not satisfied with Hinduism and had already read The Bible, sold to him by Salam Watias.

Pan Loting was a teacher of mysticism and had many followers who were seeking a true God and were interested to learn about the new Christian religion. They found that in the person of Jesus Christ.

On 11 November 1931 12 new Christians, Pan Loting and his followers, were baptised by Rev.Dr. R.A. Jaffray, leader of C&MA in Indonesia, in the River Tukad Yeh Poh, which means “river, water, mango”. 11 November 1931 was the birth of the Protestant Christian Church in Bali.

In 1935 82 new Christians were baptised and in 1955, 20 years later, 579 families consisting of 2572 people were baptised. There were sixteen church buildings, fourpastors, thirteen lay preachers and seventeen congregations * .

The C&MA was against the Balinese culture and demanded in its fanatism that people who wanted to become Christian destroy their temples before they were baptised. They told the Christians: “it is better to give the offerings to the dogs than to the temple”.

Those Christians became a new, second class of Balinese because they dressed like the Dutch and destroyed their temples. This behaviour caused a gap between the new Balinese Christians and the Hindus and created manyproblems. The Christians suffered from this and became unwanted.

The local leaders (Adat) decided that the Hindu Balinese population was no longer allowed to meet and talk with the Christian Balinese.

If the Christians owned a shop, the Hindus were not allowed to buy anything there, the Christians received no water for the rice fields, and they were not allowed to bury their family in the cemetery. If one member of the family became a Christian, he or she would lose the family and property. Unwanted…..

Not only to save the soul

The Hindus came to Bali in the 16th century after the fall of the Majapahid Kingdom in Java when it was taken over by the Muslims. The Hindus who did not accept the Muslim faith decided to move to Bali. Those who moved – with a strong Hindu faith – found that the Balinese already had the animism with a rich Balinese culture. The Hinduism and the Animism formed the religion in Bali. The Hindus who came to Bali were newcomers, just like other newcomers.

In Hindu philosophy three principles exist: TRI HITA KARANA which means God People Land: the spiritual world, the world of human beings and the natural world around them. These three principles are connected and overlap each other; the Balinese believe that it is the responsibility of human beings to make sure that this interaction is balanced and harmonious. The Balinese accomplish this through ritual expressed in the form of religious offerings. This philosophy is of great influence on the life of the people and also of great influence on the struggle between Hindu and Christian population. One can not talk about God without connection to people and land.

The Temple Besakih on Mount Agung symbolises the principle of God, people, land. For the Balinese this is the centre of the world. In the villages there are always village temples, families have their family temple, poor people make their small offerings in the rice fields or cemetery. In other words, if people leave the religion and convert to other Gods, they are no longer part of Tri Hita Karana and lose their right to be part of the community or to own land.

That is why the mission of the church is not only to save the soul and forget the body, but save the soul, the body, property and provide education. From this point of view the church needs money to support Balinese Christians.

As for facilities in the different religions, the Muslims have their Mosque, the Buddhists and Hindus have their temples and the Protestants and Catholics their churches. The temple is vital in the Hindu religion: there are temples in every village. Therefore Hindus who become Christians like to have a church to meet in and worship God. Without a church, they feel there is no real religion. For this reason the Bali Church has built many churches in the villages.

Bali as a museum of the world

During the Dutch colonialism, Dutch law was made. Because of all the problems caused by the different religions, no missionaries were allowed to go to Bali. The Dutch decided to preserve Bali and its unique culture as a ‘museum of the world’. So the C&MA was send away by the Dutch government and not allowed to work in Bali anymore. The new Balinese Christians felt like an abandoned baby, without mother church.

The Dutch Reformed Church worked with the Protestant Christian Church of East Java called “Gereja Kristen Jawi Wetan”. From 1933-1940 Javanese missionaries went to Bali to assist the new Balinese Christians and adapted a very fundamentalistic culture between the Balinese and Javanese. They said “We are Wong Majapahit, we are Balinese, we are of the same family”. They did not come to Bali to teach the Balinese, but to work as friendW. For this reason the Balinese accepted them as friends. The Dutch Reformed Church in Java sent Dr. Hendrik Kraemer to Bali to look after the new Balinese Christians.

When the Second World War began the Japanese took over Indonesia and the Javanese missionaries left Bali. Again the new Balinese Christians had no one to look after them. Again they became unwanted.From 1940-1945 during the Japanese occupation, the new Christians found themselves in a very difficult position, because the Japanese thought that the new Christians had a very close relationship with the Dutch.

In 1934 Dr. Kraemer sent four pastors from East Java to Bali: Guru Tartib, Guru Darmoadi, Guru Efayim and Guru Nechamia. In 1943 Rev. Made Rungu went to Mojowarno and was ordained as the first Balinese pastor by the Protestant Christian Church of East Java.

From 1945-1952 Dutch missionaries returned to Bali. There was a nationalist revolution against the Dutch and after the Independence the Dutch missionaries were in a difficult position. Moreover the Balinese had their doubts about the new Christians because they believed they collaborated with the Dutch. Then the Bali Church sent the Dutch missionaries away and the church was again abondoned and unwanted.

The struggle to survive

The church struggled to survive with young leaders. New Christians were sent to Makasar to study theology. Made Ayub, was one of them. A theological seminary was built in Bali. In July 1948 Sekolah Guru Injil (which means Gospel) was built in Untal Untal. The teachers were Rev. Gramberg, Mrs Fransz, Dr. G.L. Swellengrebel, Dr. H.J. Franken and Rev. H.J. Visch. Later in 1953 the Sekolah Guru Injil moved to the Pesraman school in Penyobekan, Denpasar with Made Ayub as its Chairman. In the beginning there were twelve students including Ketut Yahya, Gede Sadra, Gusti Bagus Diksa, Gusti Putu Reka, Wayan Raneng and Wayan Kirig.

Then from 1950 until 1963 there was a struggle of the Indonesian Government for West Papua and again the relationship between the Dutch and Indonesian Government was not good. This also affected the Bali Church.

In these difficult times (the Second World War, the Independence of Indonesia in 1945 and the revolution against the Dutch until 1949) the church grew despite limited support.

Between 1952 and 1965 there was much trouble because of Papua New Guinea, the eruption of Mount Agung in 1963 and the communist coup in 1965 .

The position of the church was difficult during the communist coup. After 50 years President Sukarno introduced democracy and made it possible to form political parties, such as Parkindo (Partai Kristen Indonesia), Partai Katholic Indonesia and many others, including Muslim and Partai Kommunist Indonesia (PKI). There was a lack of theological understanding between politics and church leaders. Those who were Christians and could not join the Christian party went to other parties and some Christians became members of the Communist party. The leader of the Christian church also was the leader of the Christian party. It was a dangerous situation, because politics and religion were not separated any more. In 1965 during the Communist coup it was dangerous for church members.

Thousands of people were killed including some Christians. The Communists disliked Christianity, because the Christians believe in one God. Apparently the belief in one God was more of a threat than other religions that have more gods mixed with animism. The church was in danger because of political problems. During that time there was political control in the church. The chairman of the church, Suwetja, was also chairman of the Christian Party (Parkindo) while General Secretary Daniel was a Communist. The son of Daniel was joining the IPPI, the student communist party. After the coup Daniels son was nearly killed. Bishop Suyaga Ayub during that time was chairman of the youth fellowship.

After the Communist coup many Communist people decided to become Christians. It was good to have new members, but on the other hand the church had to be careful that people did not say that Christians were also Communists.

Because of all the difficulties, a lot of documents and information relating to the period between 1958-1972 are missing.

At the end of 1971 Rev. Visch was sent out of Bali because the relationship was not good. Mastra wrote a dissertation which criticized Dr. Kraemer. When Mastra was elected Chairman of the Synod, the relationship with the Dutch Reformed Church therefore worsened. The Dutch Reformed Church wanted the training centre to be a centre for all churches, but the Bali Church was of the opinion that the centre should be self supporting under the responsibility of one Synod. After that the program “Kom over de Brug” to build a training centre was cancelled. When Bishop Ayub was elected General Secretary in 1976 he visited the Dutch Reformed Church. This was the beginning of a new relationship. The Bali Church and the Dutch Church started to visit each other again.

At present the relationship with the Dutch Reformed Church, now called the Uniting Church in the Netherlands, is stronger. The Uniting Church takes part in the dialogue program of the Christian churches.

In the period between 1965 and 1972, because of many difficulties in the villages, a lot of Balinese Christians moved from Bali to Parigi in Central Sulawesi and other parts of Indonesia, such as South and North Sulawesi, Bengkulu, Sumatra and East Timor. Actually many Balinese already became Christians, but because of the pressure in Bali they decided to become Christians outside Bali. Nowadays more than 17.000 Balinese Christians live outside Bali.

Blimbingsari

New Exodus to Alas Rangda – Jungle of the King of Devils

In the year 1939 the Resident, Mr Janssen, started a discussion about the many problems caused by the Christians, because they had become strangers in their own villages. He wanted to stop the problems and decided to move the Christians to Alas Rangda in the Western part of Bali, 127 km. west of Denpasar. They were going right into the jungle with mosquitoes and malaria. Rangda is also the bad God in the Barong dance. Nowadays Alas Rangda is known as Blimbingsari. Blimbing means star fruit tree, and sari means essence. Essence has a very spiritual meaning in Hindu religion, essence of flowers, of offerings.

During the Dutch colonisation the Dutch already had enough problems, and the tensions between the Balinese Hindus and Balinese Christians only added to them. The Dutch were committed to non interference with the Bali Hindu religion and wanted to preserve the Hindu culture. The Dutch thought that if the Christians are isolated in one village, not only would the problems stop, but it might also mean the end of Christianity in Bali. However, the Holy Spirit could not be stopped.

The Resident, Mr. Janssen, asked the Balinese Christians if they were unafraid to go into the jungle, but they said that God would protect them. The Resident later admitted he was a Christian too.

For the Balinese Christians it felt like a new Exodus to the Promised Land. Forty fathers were taken from different villages in Bali. Before taking their families to Blimbingsari, first the heads of the family had to open the jungle. Although they had to cope with many difficulties like malaria, they opened the jungle by clearing trees. Each morning began with prayer and the day ended with singing “Suryane sampun surup” – a song about the sunset and the blessings of God. They built a village in the design of a cross right into the jungle and the first 29 Christian families moved in.

Blimbingsari grew, and a lot of Balinese Christians joined the community in Blimbingsari, a village with 100% Christians. The people became educated, an artistic church was built with family settlements as well as an orphanage, school and clinic and it was judged to be the best village in Bali.

See also: Blimbingsari under congregations.

An independent church

In 1949, after almost 20 years of struggle, the Protestant Christian Church in Bali became an independent church.

After the Indonesian independence in 1945 the Dutch government tried to take over again. This also influenced the leaders of the Bali church and there was a discussion whether the church should be in partnership with the Dutch Reformed Church, or the East Java Church, or become independent and self reliant. The desire of Indonesia to be independent also influenced the church leaders. So there was a quarrel in the Synod, as one group still wanted to cooperate with the Dutch Reformed Church and another group liked to be independent. Made Ayub was part of the second group.

From 14-16 January 1948 there was a Synod meeting in Blimbingsari. Chairman of the Synod was Ds. Made Rungu, Vice-chairman Wayan Pendak, First secretary Suwetja and Second Secretary Wayan Regog, who was also the First Treasurer. Sustraedimedjo was Second Treasurer. There were two other members, Moarsadarmodjo and Made Ayub. After the elections, the members voted about whether to become independent or not. The Dutch Rev. Gramberg wanted to be in control, but there was a small majority for independence: 89 against 82. It was decided that the church should be recognised as an independent Bali church.

Because only a small majority was in favour of an independent church, the discussions about continued. The church was not very stable during that period. A few members left the church. Executives of the church formed a team of peace and reconciliation, and Made Ayub was chairman of this team.

On 18 October 1948 the Bali Church in Blimbingsari requested permission of the Dutch mission consulate in Batavia to be recognised as the Protestant Christian Church. On 11 of August 1949 this request was granted, as stated in Staatsblad No. 214.

When the church became independent the Dutch missionaries were sent back to The Netherlands.

In 1949 the Synod met in Bongan, where Made Ayub was elected to be the first Chairman of the Protestant Christian Church in Bali.

The vice-Chairman was Ketut Yahya, a former theology student. First Secretary was Made Mawa, Second Secretary Gusti Bagus Diksa, the Treasurer was still Sustraedimedjo and committee members were Darmonedjo and Rev. Gramberg.

In 1951 the Protestant Christian Church in Bali was accepted as a member of the Indonesian Council of Churches in the Eastern part of Indonesia and then automatically became member of the Indonesian Council of Churches.

At first the church was guided by regulations and procedures. Dealing with the problems showed that the church needed a Constitution (Church Law). Rev. Rungu and Rev. Ketut Suwetja drew up a Constitution, with the help of Rev. Gramberg. The Constitution was accepted by the Synod in Padangtawang in 1952. On 2 April 1959 the Synod office, a very small bamboo building located in Untal Untal, moved to Penyobekan, Denpasar.

In 1963 during the eruption of Mount Agung the church played an active role and worked together with the Church World Service. People were evacuated to the Seminary school in Denpasar. The church helped many people to move as transmigrants to Sulawesi. During this period the number of Christians increased.

The period of contextualisation

The first generation, although they had a limited theological understanding, had a very strong commitment and had to cope with dangerous situations. The spirit of serving Christ was very strong, the friendship and fellowships amongst church members was close, they supported each other so that the church, still unwanted, was growing and moving on. Then the second generation of younger theology students finished their study, which gave a new understanding and impulse to the Bali church to become a living church.

In the village of Abianbase the Bali Church began to form their service program in Tri Pangsilan Gereja, which means three callings for a church: Koinonia (fellowship) Marturia (witness) and Diakonia (deaconry). From these callings the departments were formed.

The 1972 Synod Meeting became known as “the Watershed Synod Conference”. Dr. Mastra was elected as Chairman of the Synod. The organisation of the church was divided into structure and program, moving towards a living church.

1. Department Persikutuan dan Pembinaan – fellowship and training (koinonia)

2. Department Kesksian dan Pengembangan – church growth and witness (maturia).

3. Department Pelayanan dan Usaha – service and business development (diakonia)

Furthermore the Synod gave a high priority to the implementation of contextualisation: we are Balinese, we are “Wong majapahit”, of the same family.

The vision behind contextualisation is: Jesus was born among Jews in Israel, but if He were be born in Japan, He would be Japanese, if He were born in Bali, He would be Balinese. The big mistake of western churches in their approach to the Third world was not only telling about Jesus Christ, but at the same time exporting their theology, buildings and culture. But the message of Christ is fit for any kind of culture. Therefore in Bali the message of Christ must be related to the cultural context of Bali. In the West most of the Christians built their churches with small windows, fit for cold winters, like a garage. In Bali, where it is warm we can see that all the temples are in open air.

In fact the Government always urges people not to lose their Balinese Hindu culture and identity. The Christian church agrees with this, but when the church acts according to the Balinese culture, Hindus often do not accept this. The Bali Church does not want to destroy culture, but improve it and be part of it.

The Bali Church implemented this mission in the following ways:

* Balinese character of buildings

The new Christian church in Blimbingsari is divided in three parts: the front, the holy and the most holy of the church. The church is open, the front wall is five meters from the main building. Although there is a cross on top of the building, when looking at the church you get the impression of a real Balinese building. In Hinduism the Trinity of gods exist: Brahma, the god of fire, Visnu, the god of water and Shiva, the god of air. In the top of this church there is a glass ceiling, so the sunlight, representing fire (Brahma) shines into the church. Behind the altar water is flowing (Visnu) and there is a stick of Moses to symbolise that when Israel complained why there is no water, God asked Moses to talk to the rocks to get water. But Moses got upset and struck the rocks with his stick. Then water gushed from the rocks and people could drink.

Because the church is open, the wind is blowing from outside throughout the building (Shiva). The church is surrounded by a very nice garden. Similar to the Tri Hita Karana philosophy all elements of balance and harmony are symbolized in the design of the church, when it comes to worshipping God. Not only the relationship between people and God and among people, but also the relationship with the environment has to be harmonious and in balance. This relationship with the environment is realized by the breeze of the wind, the sound of the water and the singing of birds. All people should realize that they are part of all creation, including nature.

Almost all of Bali churches are build in the Balinese style.

* Number of church buildings

The temple is vital in the Hindu religion, it is the symbol of their religion for worshipping their gods. Therefore having a church is also vital for Balinese Christians. Without a church, into their opinion there is no real religion. For this reason Bali church built many churches in the villages.

* Balinese colours

In Bali church the pastors do not wear a black rope, but a white rope, because in Balinese culture, black is the sign of mourning and white and yellow represent holiness.

* Balinese language

Most services are in Bahasa Indonesia, but once a month also in Balinese, in order to maintain the Balinese culture.

* Expressing the story of the bible in a Balinese dance

In all religious teaching the Hindus use Balinese dance, Balinese songs and gambelan music as a tool. Balinese Christians could not go to a Christian movie without the permission of the government. But if the story of the bible is told in a Balinese dance, no permission is needed. Therefore the church expresses the story of the bible in a Balinese dance.

Recently Balinese dance is also used to explain politics, because most of the Balinese don’t like reading a book. This is comparable with the Roman Catholics in the Middle Ages, who could read, but understood messages in the Bible with the help of the pictures painted on the stained glass of the windows in the cathedrals and churches.

The Bali church uses the stories such as the birth of Christ, the miracles of healing and the Samaritan in the Balinese dances. Interesting is that those who play the gambelan music, about thirty five mostly Hindu people, don’t mind playing in a Christian service. Afterwards the church gives the story from the bible to the Hindus and asks them to make a new Balinese dance.

* Balinese songs

In the Christian church services and teachings, Balinese tunes are used to tell the story of the bible.

Contextualization is an interesting discussion. It seems to bishop Ayub that the younger generation in general is already influenced by modernisation and western culture. In his opinion the young generation is lost if they lose their identity of the soul, where being religious in eastern culture, you are always part of nature, community and family. In contextualisation the mission must understand the core of a religion: not to serve individuals, but to accept people in relationship with others. The mission in contextualisation is not to pull the seed out of the ground, but to make it grow in the ground. Although this is difficult because of the Tri Hita Karana principle in Hindu culture, there is always the possibility that Christians will be accepted in the community and family.

If you you have won people for Christ, it suggests others have lost; it is not about winning and losing, but about saving all people and being the salt of the earth.

* Christian Artists

There are very popular Christian artists, who are inspired by the message of the bible and make beautiful paintings, such as the Ten Virgins by Nyoman Dharsane, the Life of Christ by I. Gd Yosef C. Darsane, His Birth by I Gd Sukana Kariana, Carry Each Other’s Burdens by I Komang Wahyu S. and Eloi, Eloi, Lamasabakhtani by Ni Ketut Ayu Sri Wardani.

* Liturgy is expressed in a creative way

with the help of a Balinese dance, accompanied by gamelan orchestra. In other words: the local culture is the context of the liturgy.

* Offerings

Offering is central in Balinese Hinduism. Balinese women get up early in the morning to prepare food for their family. Before having breakfast themselves, they use some of the food for offering, for instance a banana leaf and some rice, and put it in different places such as the kitchen, in front of the main gate, in the family temple, in the backyard, in the centre of the house. The priority is on offering, before the family eats. This culture is continued by the Balinese Christians. Thanksgiving now is an established custom in the Bali Church.

* First things first

A new Balinese community will always build a village temple first, before building houses. Before they build their own house, they will always build a family temple first. That is why Balinese Christians feel they should build a church before building a house.

* Struggle for words

After the independence of Indonesia in 1945 until 1952 Indonesia recognised only four religions: Muslim, Buddhist, Christian and Catholic, because these religions believe in one “God Almighty” as is mentioned in the Pancasila. The first principle in the Pancasila is: Ketuhanan yang maha esa, which means: believe in God Almighty. Hinduism was not recognised, because the Hindus have more gods and not one God Almighty. The Hindus of that time were of the opinion that the Hinduism must be a recognized religion in Indonesia, but it was not accepted before 1952. They applied to the central Government. A Dutch scholar, named Dr. Goris, working in Denpasar, suggested to Hindu leaders the use of the words “Ida Sang Hyang Widhi Wasa” instead of “God Almighty”. This was accepted by the Hindu leaders and after 1952 the Hinduism was recognised as an official religion.

In 1998 there was a sensitive issue between Hindus and the Bali Church, because the Bali church translated “God Almighty” into the word “Ida Sang Hyang Widhi Wasa”, which means God Almighty (Jaweh). The Hindus claimed that the words described the Hindu Trinity Brahma, Shiva and Visnu, who are seen as the manifestations of the supreme God, the “the Invisible” Ida Sang Hyang Widhi Wasa. In their opinion Christians should not use the phrase. A lot of debate and criticism followed in Bali Parliament and the newspaper, saying that the Christian Church should not use the Hindu word “Ida Sang Hyang Widhi Wasa” because Christians have their own God. The Christian Church explained to the Hindus ‘God Almighty’ means God for all people and all creations, not only for Hindu or Muslim. Finally the Hindus accepted this explanation. This dispute about the name of God was the starting point of a dialogue between Christians and Hindus.

o The Catholic Church was not allowed to use the name Swasti Astu – peace be with you- for their school, because the Hindus use the name OM Swasti Astu – God be with you. The Catholic church changed the name of the school into St. Aquino.

o The Bali Church named its school Widhya Pura, which means Place of Knowledge. Again the Hindus did not agree, because this name was derived from Veda, the holy book of the Hindus. The church then changed the name of the school (from Kindergarten to highschool) into Harapan Pura, Place of Hope.

o Dhyana pura, which means meditation place, was also not allowed, but the church explained that pura after the noun means place, but before the noun it means temple (Pura Dhyana). For example Singapura means lion place.

o The Balinese Hindus claimed that Balinese costumes are only for the Hindus and Christians should not wear a Balinese costume. But costumes also represent the traditional culture and are not only an expression of religion. The Balinese Christians are born in Bali and in special Christian days they dress in traditional Balinese costumes. Similar, Hindus claim that all the art is owned by them, but art is not religion, but a way of expression. The problem arises because in Hinduism the religion is very dominant and it is difficult to separate daily life and traditions from the religion. Moreover all religions are actually imported to Bali. Before Hinduism came to Bali, it already existed elsewhere.

In 1963 a disaster happened when Mount Agung erupted. The Hindus blamed the Christians, because they believed that this was a sign of anger from the gods. The church tried to work together with the local government. Many Christians left Bali to escape the pressure from Hindu communities and started a new life outside Bali. Because of their dynamism they were accepted everywhere in Indonesia. The Balinese are often compared with the Chinese or the Jews, who are known for their dynamic way of living, such as the introcuction of the farming irrigation system, which is called subak.



Memahami Makna Natal

January 5, 2009

Memahami Makna Natal

Oleh
Pdt Mangapul Sagala

Seorang pernah mengatakan: “Christmas means a different thing for a different person”. Natal memiliki makna yang berbeda untuk orang yang berbeda. Saya kira pernyataan tersebut tidak dapat disangkal.
Saya bersyukur pernah tinggal selama kira-kira sepuluh tahun di Singapura, yaitu sebuah negara yang sangat sekuler. Dalam kurun waktu tersebut, saya menyaksikan bagaimana negara tersebut sedemikian meriah dan indah pada bulan Desember. Sejak akhir bulan November, lagu-lagu Natal sudah terdengar, baik di hotel, restoran dan pusat-pusat perbelanjaan. Suasananya memang sangat jauh berbeda dari bulan-bulan sebelumnya.
Namun apa artinya semua itu? Menurut pengamatan saya, Natal lebih bernuansa business daripada kerohanian.
Barangkali, untuk seorang anak kecil, Natal berarti hadiah, di mana pada saat Natal, dia selalu mendapatkan barang baru, seperti baju baru, sepatu baru. Tanpa semua itu, rasanya, Natal belum tiba. Hal seperti itu juga yang menjadi pengalaman penulis di masa kecil.
Bagi aktivis Gereja, barangkali Natal berarti melakukan berbagai macam kesibukan, mulai dari menghias Gereja dengan berbagai dekorasi yang indah dan asesoris yang mahal, termasuk menghias pohon terang. Selain itu, ada juga kesibukan paduan suara, latihan drama, latihan menari atau berbagai jenis aktivitas lainnya. Memang, dalam kenyataannya, aktivitas anggota jemaat meningkat tajam selama Desember.
Namun, pertanyaan kritis dapat diberikan. Apakah tanpa semua itu, Natal menjadi tidak sah? Apakah orang-orang yang sibuk, bahkan dapat disebut super sibuk selama Natal telah menjamin adanya Natal yang sejati?
Dalam kenyataannya, tidak demikian. Ada cukup banyak orang yang setelah sibuk dengan berbagai kegiatan Natal, selain mengalami kelelahan, tidak mengalami apa-apa. Segera setelah Desember lewat dan memasuki Januari, segala kesibukan tersebut berakhir, simbol-simbol Natal, seperti pohon terang pun tidak lagi terlihat.
Namun apa yang masih sisa? Barangkali, jawabnya bisa sangat menyedihkan. Tidak ada yang tersisa. Hati kosong, tetap kosong dan bahkan semakin kosong. Orang-orang yang berbuat dosa, tetap berbuat dosa! Dalam kondisi demikian, Natal bukan saja menjadi tidak bermakna, tapi bahkan sesat makna.

Natal Sesungguhnya
Dalam kondisi seperti di atas, Gereja dan umat harus terus-menerus waspada agar tidak terjerat kepada kegiatan dan rutinitas semata. Untuk itu, Gereja harus melepaskan diri dari berbagai pengaruh dunia yang negatif serta terus-menerus kembali kepada Alkitab. Dengan demikian, umat dapat memahami makna Natal yang sesungguhnya.
Alkitab dengan sangat jelas mewartakan adanya makna Natal yang bersifat objektif. Maksudnya, melalui kelahiran Yesus Kristus di hari Natal tersebut, sesuatu hal yang sangat penting dan mendasar terjadi kepada manusia berdosa.
“Karena Allah sedemikian mengasihi isi dunia ini, sehingga Ia telah memberikan AnakNya yang Tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh.3:16). Itulah kabar baik yang sangat penting dan mendasar diwartakan di dalam Injil Yohanes. Dengan perkataan lain, manusia yang seharusnya binasa karena dosa, beroleh pengampunan dan keselamatan yang pasti.
Sesungguhnya, keselamatan dan hidup kekal tersebut adalah suatu anugerah yang sangat berharga yang tidak mungkin dapat dibeli dengan uang atau dicapai dengan kemampuan manusia. Hidup kekal tersebut, juga tidak dapat diberikan oleh agama dan keyakinan apapun.
Namun, sangat disayangkan, sekalipun berita Alkitab tersebut sangat jelas, dalam kenyataannya, banyak orang yang setelah merayakan Natal tetap saja tidak memiliki keyakinan akan pengampuan dosa serta kehidupan yang kekal.
Hal itulah yang pernah disaksikan oleh seorang nenek yang telah berusia lanjut. Ketika seorang pendeta bertanya ke mana jiwanya setelah meninggal, dengan ringan nenek tersebut menjawab: “Tidak tahu”.
Kiranya hal seperti itu tidak terjadi kepada kita semua. Sebaliknya, kita menunjukkan bahwa sesungguhnya segala kesibukan tersebut di atas keluar sebagai ungkapan syukur karena telah mengalami karyaNya yang sangat ajaib tersebut.
Tidak saja demikian, kehidupan seluruh umat yang telah mengalami keselamatan tersebut, harus terus-menerus diilhami oleh teladan Yesus Kristus yang sedemikian sempurna. Keteladanan Yesus tersebut sangat diperlukan dalam membangun masyarakat dan bangsa yang sedang mengalami berbagai macam krisis kehidupan.
Teladan seperti apa? Teladan Yesus yang hidup mengasihi, memang sangat diperlukan dalam dunia yang penuh kebencian dan persaingan. Teladan Yesus yang rela berkorban dan semangatNya memberi diri bagi kebaikan sesama, merupakan hal lain yang sangat penting dan mendesak untuk kita miliki, khususnya di dalam dunia yang semakin egois dan tidak perduli kepada sesama.
Akhirnya, teladan kesederhanaanNya, juga sangat diperlukan dalam zaman yang sangat menonjolkan dan membanggakan kemewahan ini. Di tengah-tengah gaya hidup yang semakin wah dan gemerlapan, ada satu fakta dan realita yang penting untuk direnungkan: Tuhan dan Juruselamat dunia, lahir di dalam palungan.
Seorang rekan pernah memberikan sebuah pernyataan yang sangat mengesankan: “Satu-satunya Pribadi yang dapat memilih tempat kelahiranNya, memilih lahir di palungan”. Jika demikian, teladan siapa yang sedang kita ikuti? n

Penulis adalah alumnus Trinity Theological College, Singapura, sedang melayani di Persekutuan Kristen Antar-Universitas (Perkantas).


Makna Natal yang kian berubah di Era Globalisasi

January 5, 2009
Sumber: http://siswarta.org/?p=350

“Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di atas palungun, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.” (Lukas 2:6-7).
Hari Natal yang dikenang di seluruh dunia di penghujung tahun sudah makin jauh dari Natal pertama yang syahdu dan sederhana seperti gambaran dalam ayat di atas. Hari Natal pertama diisi dengan kesederhanaan di mana di samping orang-orang Majus yang kaya hadir juga para gembala yang sederhana untuk menyambut kelahiran bayi Yesus, kelahiran-Nya yang tidak dirayakan di penginapan atau di istana, tetapi di sebuah palungan di kota Betlehem. Inilah makna Natal sebenarnya damai Allah menyertai semua manusia, damai di hati tanpa dekorasi
Natal adalah pemberian. Itu adalah hal yang tidak boleh dilupakan oleh siapapun yang merayakannya. Masa kini, memasuki bulan Desember, kita dapat menyaksikan di mana-mana, di restoran, mall, hotel, dan di siaran TV, banyak dikumandangkan persiapan menyambut hari Natal dengan berbelanja akhir tahun. Apakah masih ada yang tersisa dari Natal Betlehem di balik hiruk-pikuk perayaan Natal di masa kini?
Ketika kita ditanya apa yang kita pikirkan tentang Natal, maka peringkat pertama yang kita pikirkan adalah pohon Natal. Pohon Natal yang pada zaman dulu adalah gambaran yang indah Eropa di musim salju. Di sana kita dapat melihat pohon-pohon cemara yang tegap berdiri dengan kehijauan daunnya yang tetap memberikan harapan segar. Di malam hari, di balik pohon ini kita dapat melihat kerlap-kerlip lampu-lampu rumah di sela-sela daun-daunnya. Apalagi kesan indah ini diiringi lagu ´Malam Kudus´ memberi rasa syahdu dan damai bagi mereka yang melihat pohon itu dan mendengar lagu itu. Pohon Natal yang sederhana itu kemudian di abad-18 berkembang dengan adanya penambahan dekorasi hiasan-hiasan Natal, dan lama kelamaan dekorasi itu begitu lebatnya sehingga lambang pohon dan sinarnya yang menjadi simbol kekekalan dan kesyahduan menjadi terkubur oleh hiruk pikuk dan kemeriahan hiasannya. Pohon yang kemudian dijadikan lambang pohon terang itu sekarang sudah meluas menjadi hiasan di toko-toko serba ada di seluruh dunia. Suasana Natal untuk mengenang kesederhanaan kelahiran Tuhan Yesus yang menyelamatkan manusia kini banyak tertutup oleh pesta pora dengan segala hiasan yang mewah dan bukan lagi dirayakan oleh umat Kristiani saja tetapi meluas oleh umum. Perayaan Natal perlu kembali mengalami ´de-sekularisasi´. Bagi kebanyakan orang, Natal selalu identik dengan pohon cemara yang selalu dihiasi dengan lampu kerlap kerlip, atau berbagai aksesoris yang digantung pada ujung daunnya atau hiasan berbentuk efek salju dari kapas. Maka tidak heran, setiap menjelang natal, orang menghiasi rumahnya dengan pohon natal.
Peringkat kedua yang paling diingat orang mengenai Natal adalah liburan orang Kristen. Banyak orang menganggap bahwa natal adalah kesempatan berlibur dari kejenuhan pekerjaan dan rutinitas. Di dalam liburan itu, kita menjumpai orang-orang yang merantau “pulang kampung” dan bersilaturahmi dengan sanak saudara.
Dan yang menduduki peringkat ketiga mengenai hal yang paling diingat orang tentang natal adalah Sinterklas. Siapa yang tidak kenal tokoh ini. Sinterklas adalah “kakek” tua yang berjanggut dan berkumis panjang nan lebat dengan kereta rusa yang bisa terbang ke angkasa sambil membawa sebuah karung besar berisi hadiah bagi anak-anak yang berbuat baik selama satu tahun. Biasanya dalam perayaan dalam gereja sering kita temui replika-replika kandang domba dan patung-patung kecil. Yang pertama kali memperkenalkan replika kandang dengan patung-patung kecil ternak dengan Yusuf, Maria dan bayi dalam palungan dan para majus dan gembala disekitarnya, yang sering kita lihat sebagai hiasan Natal baik di gereja maupun di rumah adalah Franciscus dari Assisi. Replika inilah yang menjadi hiasan sejak abad-13 sebelum pohon Natal diperkenalkan, dan diiringi Christmas Carol yang dinyanyikan sekelompok orang dari rumah ke rumah.
Semua hal kita pikirkan menjelang Natal itu tidaklah salah dan sangat indah. Tetapi menariknya, tidak ada peringkat mengenai “pemberian” di dalam pandangan orang tentang natal. Banyak orang mungkin lupa makna natal yang sejati karena telah terjadi pergeseran-pergeseran makna akibat globalisasi dan konsumerisme. Coba dilihat, menjelang natal, orang-orang lebih mementingkan hiasan rumah, baju baru, penampilan yang berbeda dari biasanya.

Perayaan natal pada era globalisasi ini sangat memprihatinkan. Banyak sekelompok orang yang merayakan perayaan ini dengan cara menghamburkan berbagai sumber daya. Semua orang berlomba mengadakan berbagai acara yang menyedot dana cukup besar, dan tidak jarang acara-acara ini diadakan karena ada kaitannya dengan dunia politik yang selalu berkaitan dengan promosi dan segala hal yang bersifat entertainment. Tetapi apakah orang mengingat bahwa NATAL ADALAH PEMBERIAN? Coba kita bertanya pada orang-orang sepulang dari ibadah natal nan besar dan meriah itu, bagaimana kesan mereka? “Wah, acaranya bagus, keren, artisnya luar biasa” Apakah mereka mengalami perjumpaan dengan Tuhan? Mungkin tidak ada yang mengingatnya.
Menjelang Natal di akhir tahun ini kita sebagai Umat Kristen sudah seharusnya mengembalikan hakikat Natal kepada artinya semula dan tidak terkecoh oleh gemerlapannya kerlap-kerlip lampu listrik dan dekorasi yang wah. Umat Kristen perlu men de-sekularisasi-kan dan de-mitologisasi-kan perayaan-perayaan natal yang sudah melenceng jauh dari makna asalinya.
Di tengah kepedihan yang dialami ribuan keluarga di Indonesia yang mengalami bencana dan bahkan mungkin tak bisa merayakan natal, kita umat Kristiani dipanggil untuk menghadirkan Natal terutama bagi mereka yang tersingkir, yang terpinggirkan, dan yang dilupakan. Setidaknya dengan menjalankan upacara dengan sederhana, apalagi kalau disertai dengan kasih, setidaknya umat manusia benar-benar lebih bisa merasakan bahwa Natal itu memang mendatangkan damai sejahtera bagi manusia di bumi dan bukan sebaliknya.
Selamat mempersiapkan Natal mendatang dan semoga kita semua dapat menyatakan kasih dan damai sejahtera Allah bagi umat di sekeliling kita. Amin. God Bless You. (Nagari Dirga Krisma, XII-IPA)


Sejarah Gereja Bali

December 23, 2008

Sejarah Gereja Bali

Download Versi PDF

Dari sejak awal kedatangan agama Katolik di Bali, banyak mendapat cobaan dan kesulitan-kesulitan. Semua tidak berjalan seperti yang diharapkan. Tapi pelan namun penuh keyakinan akan penyertaan Tuhan, kami yakin sumua bisa dilalui.

Berikut ulasan mengenai sejarah gereja Bali yang ditulis oleh Almarhum Pastor Shadeg SVD, dan juga merupakan suatu kehormatan bagi kami untuk bisa menaruh ulasan ini sebagai pengungkapan rasa hormat kami pada almarhum Pastor Shadeg yang sudah banyak menyumbangkan tenaga, pikiran dan dana untuk perkembangan gereja Katolik di Bali. Ulasan ini diketik ulang oleh Sheko .

Bali yang kini terkenal di seluruh dunia karena kebudayaan dan agama Hindu dengan segala keunikannya sejak dahulu sudah menunjukkan adanya kesediaan untuk menerima masuknya agama Katolik di wilayah ini.

Satu dokumen yang mendukung hal ini adalah sepucuk surat di atas daun lontar yang ditunjukkan kepada orang-orang portugis di Malaka pada tahun 1635. Dalam surat itu raja Klungkung mewakili raja-raja Bali menulis antara lain: “Saya senang sekali jika mulai sekarang kita bersahabat dan orang dating ke pelabuhan ini untuk berdagang. Saya pun akan senang sekali jika imam-imam datang ke sini agar siapa saja yang menghendaki dapat memeluk agama Kristen”.

Undangan Raja Klungkung itu mendapat sambutan dari gereja Katolik Portugis dengan diutusnya 2 orang misionaris Yesuit ke Klungkung Bali. Kedua pastor tersebut adalah P. Mamul Carvalho S.J dan P. Azemado S.J . dari Malaka.

Namun tidak adanya bukti-bukti yang menyatakan adanya hasil dari kedua pastor tersebut. Apalagi dengan adanya kebijaksanaan pemerintah Hindia Belanda untuk mempertahankan Bali agar bebas dari pengaruh agama Kristen melalui pasal 177 yang terkenal itu. Maka makin sulit bagi agama Katolik masuk ke pulau Bali.

Kemudian atas permohonan Vilkaris Apostolik Betawi Gubernur Jendral India Belanda memberi ijin dalam tahun 1891 bagi dua misionaris masuk di Buleleng dalam suratnya yang antara lain berbunyi: “ Dari pihak saya tidak ada keberatan bila satu atau dua misionaris mulai menetap di Buleleng…… dengan maksud mempelajari bahasa Bali dan sesudah itu menetap di Buleleng untuk mulai karya misi diantara penduduk setempat”.

Selanjutnya pada tahun 1912 kepulauan Sunda Kecil diserahkan oleh Yesuit ketangan SVD, dan tahun 1913 wilayah kepulauan Sunda kecil ditingkatkan statusnya menjadi Prefektur Apostolik yang meliputi Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, Sumba dan Timor.

Pada bulan desember 1914 Mgr. Noyen yang menjabat Prefek Apostolik Sunda Kecil mengadakan kunjungan keagamaan ke pulau Bali, setelah dengan susah payah mendapat ijin dari pemerintah Belanda. Disamping ijin untuk mengadakan kunjungan ke agamaan, bahkan dalam tahun 1920 Pemerintah mengabulkan permohonan Mgr. Noyen SVD untuk mendirikan sebuah sekolah Katolik di Bali. Namun sayang sekali bahwa kesempatan emas ini tidak dapat dimanfaatkan karena masalah kekurangan tenaga.

Ternyata kesempatan tersebut tidak mudah diperoleh lagi, walaupun pengganti Mgr. Noyen yang meninggal tahun 1922, yakni Mgr. Verstralen mengajukan permohonan untuk mendirikan HIS di Bali tidak mendapatkan persetujuan dalam Volkstraad.

Harapan muali muncul kembali sewaktu Mgr. Leven menjabat Vikarius Aopstolik mengantikan Mgr. Verstralen yang meninggal karena kecelakaan tahun 1932. Dan harapan itu pun menjadi kenyataan dalam tahun 1935, ketika pastor Van Der Heijden menjadi pastor di Mataram, Lombok.

Pastor Van Der Heijden mendapatkan pula tugas khusus untuk mengadakan kunjungan rohani ke Bali dan Sumbawa dan sejak itu mulailah titik awal dari masuknya gereja Katolik ke Bali. Tanggal 14 Mei 1935 Van Der Heijden menetap di Mataram, dan tgl 9 Juni 1935 Gereja Katolik pertama didirikan dan diresmikan di kota Mataram. Hari ini dipandang sebagai hari masuknya karya gereja Katolik di pulau Lombok.

Empat bulan kemudian, persisnya tgl 11 September 1935, Pastor Van Der Heijden mengantar pastor J. Kersten SVD ke Denpasar dan mulai menetap di Denpasar. Dan hari tersebut dipandang sebagai tonggak perkembangan agama Katolik di Bali. Dan tempat yang menjadi ladang pertama adalah Banjar Tuka, Dalung, Ketika dalam bulan November 1935, 2 pemuda Bali dari Banjar Tuka: I Made Bronong (Pan Regig) dan I Wayan Diblug (Pan Rosa) datang ke Denpasar dan bertemu dengan Pastor J. Kersten SVD.

Dan Roh Kudus mulai berkarya dalm diri kedua pemuda tersebut ketika kedua pemuda tersebut dipermandikan Katolik pada hari raya Pentakosta tgl 6 Juni 1936. Saat yang penting itu disusul pula oleh saat penting lainnya yakni peletakkan batu pertama gereja Katolik Tuka tepatnya tgl 12 Juli 1936 oleh Pastor J. Kersten SVD dihadiri oleh Pastor Van Der Heijden dan Pastor Conrad SVD. Dan ternyata benih iman yang baru tumbuh ini, dengan cepat berkembang menyusul pula dua tokoh lain disamping I Made Bronong dan I wayan Diblug, yakni Pan Maria dan I Made Tangkeng (Pan Paulus).

Melalui semangat iman pertama ini Roh Kudus berkarya dengan hasil yang besar. Dengan datangnya seorang tokoh terkenal dalam tahun 1936 Pastor Simon Buis SVD, injil lebih disebarkan lagi khususnya dikalangan umat dipedalaman pulau Bali. Dengan semangat berkorban dan cinta kasih, pastor Simon Buis mencari orang-orang Bali dan membawa mereka ke kandang Tuka. Tahun 1938, 128 orang dipermandikan di Tuka, Padangtwang dan Gumbrih. Bulan Februari 1938, Pastor Ade Boer memperkuat barisan imam untuk melayani umat yang semakin bertambah.

Pastor Simon Buis pada tanggal 15 September 1940 berhasil mengadakan eksodus dari Tuka dan sekitarnya ke ujung Barat pulau Bali dan membuka desa ditengah-tengah hutan yang kini terkenal sebagai desa Palasari. Dalam eksodus tersebut pastor yang keras kemauannya, dengan penuh semangat membawa 18 keluarga dari Tuka dan 6 keluarga dari Gumbrih untuk mulai tempat pemukiman yang baru itu.

Tantangan pertama mulai menghadang yakni terasa kurangnya gembala, lebih-lebih pada masa pendudukan Jepang tatkala para misionaris ditahan oleh Jepang. Dalam masa yang sulit ini, para tokoh telah membuktikan diri sebagai tenaga-tenaga Katekis yang penuh semangat dan pengorbanan memberikan kesaksian tentang kabar gembira yang telah meraka terima. Mereka benar-benar menjadi tokoh yang tangguh dalam mengisi kekosongan tenaga iman dalam masa pendudukan Jepang.

Di Tuka dan sekitarnya tokoh awam yang dikenal adalah Pan Regig, Pan Rosa, Pan Paulus, Pan Maria dan Anak Agung Nyoman Geledig dari Tangeb. Dan Palasari maju dengan pesat dibawah bantuan seorang rasul awam wanita Ibu Ayu yang berkarya dibidang medis. Adalah suatu hal yang patut diperhatikan yakni kabar gembira yang dibawa oleh para misionaris perintis diatas dan misionaris yang menyusul dibawakan dalam wujud karya nyata melalui karya sosial terhadap orang miskin, karya pengobatan terhadap para penderita dan kemudian melalui karya pendidikan dan karya sosial lainnya seperti asrama dan panti asuhan baik untuk putra maupun
putri.

Melalui karya-karya tersebut secara nyata kabar gembira disampaikan kepada masyarakat Bali khususnya yang hidup di pedesaan. Maka pada tahun 1939 gereja Gumbrih diresmikan disusul pula oleh gereja di Padangtawang tahun 1940 bulan September, di Tangeb pada tgl 8 Desember 1940, di Palasari tgl 19 Juni 1941.

Setelah jaman kemerdekaan misi yang banyak terkocar-kacir karena kehilangan gembalanya mulai dibenahi lagi, dan perkembangan memperlihatkan garis yang menanjak. Tgl 14 Juli 1950 daerah Bali dan Lombok dipisahkan dari Sunda Kecil dan menjadi Prefectur Apostolik dibawah pimpinan Mgr. Hubertus Hermens SVD. Dalam masa jabatan beliau secara menyolok karya-karya karikatif dan edukatif berkembang pesat. Hal ini membawa perkembangan baru dalam penambahan lapangan kerja dan kebutuhan akan tenaga kerja yang banyak. Babak baru bagi karya para Suster pun mulai dan datanglah para suster Fransiskanes dari Semarang tahun 1956 ke desa Palasari dan suster-suster S. Sp. S di ampenan tahun 1952 yang kelak dikemudian hari disusul pula oleh suster-suster konggregasi lain seperti: CB RVM, CIJ dan ALMA.

Dibalik itu semua suatu hal yang dapat dikatakan istimewa bagi gereja yang baru berkembang ini adalah dengan berhasil didirikannya sebuah SMP Seminari dalam tahun 1953 di Tangeb dibawah pimpinan Pastor Norbert Shadeg SVD. Atas dasar beberapa pertimbangan Seminari ini dalam tahun 1956 dipindahkan ke Tuka. Melalui banyak perjuangan Seminari ini tetap hidup dan berkembang dan ternyata membuahkan hasil muali tahun 1969, yakni 13 tahun kemudian Imam Bali asli yang pertama yang berhasil ditahbiskan adalah Pastor Servatius Nyoman Subhaga SVD pada tgl 9 Juli 1969 di gereja paroki Roh Kudus Babakan.

Benih panggilan untuk imam, suster, bruder ternyata tumbuh sangat subur. Dalam jangka waktu relatif singkat sejak seminari SMP didirikan, yakni selama 29 tahun telah ditahbiskan sebagai imam sebanyak 19 pemuda dari Bali dan 65 gadis menghayati hidup sebagai suster dan 13 pemuda sebagai Bruser. Dibandingkan dengan jumlah uamt dalam keuskupan Denpasar yang berjumlah sekitar 13.000 orang, maka presentase panggilan imam, suster dan Bruder ternyata cukup tinggi. Satu langkah maju lagi dalam perkembangan Gereja Katolik Bali ialah dengan
ditingkatkannya Profektur Apostolik Bali menjadi Keuskupan Denpasar tanggal 3 Januari 1961 dengan uskup pertama Mgr. Dr. Paulus Sani Kleden SVD yang ditahbiskan menjadi uskup di Palasari tgl 3 Oktober 1961.

Pada masa ini karya Gereja Katolik Bali sudah meliputi bidang pendidikan melalui persekolahan dari tingkat Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar dan Sekolah menengah. Dalam bidang medis melaui Poliklinik-BKIA dan rumah sakit yang tersebar dimasing-masing paroki seperti Tuka, Tangeb, Gumbrih, Palasari, Denpasar dan Singaraja. Di Lombok terdapat rumah sakit St. Antonius di Ampenan. Melalui asrama atau panti asuhan dan pemberian bea siswa bagi anak-anak yang disekolahkan diluar Bali yang secara khusus telah digalakkan oleh Prefek
Apostolik Mgr. Hubertus Hermens SVD.

Ternyata karya-karya kreatif ini telah banyak membawa orang menjadi pengikut-pengikut Kristus. Namun setelah masa-masa indah yang mengembirakan, masa panen yang banyak, maka datanglah saat-saat sulit bagi perkembangan Gereja Katolik di Bali. Masalah kuburan yang ada kaitannya dengan hukum adat di Bali ternyata sempat membuat terbendungnya perkembangan umat di beberapa pedesaan, khususnya di diaspora-diaspora pedesaan dimana iman baru mulai ditaburkan. Dengan adanya kenyataan bahwa kuburan adalah milik Pura Dalem serta banyak penyungsung (Umat Hindu) yang berhak dikuburkan di kuburan umum tersebut, maka umat yang bukan beragama Hindu ataupun para katakumen tidak boleh memakai kuburan umum tersebut.

Hal ini cukup membawa pengaruh negatif bagi umat Katolik di pedesaan dan membuat para katakumen dan banyak simpatisan mundur karena takut tidak mendapat kuburan. Maklum masalah kuburan bagi pandangan orang Bali merupakan hal ang luar biasa pentingnya, karena itu hal tersebut telah mempengaruhi bahkan menghambat perkembangan umat khususnya di pedesaan dimana hukum adat terasa sangat kuat.

Namun setelah lama umat dihebohkan oleh hal seperti ini antara lain dengan dikuburkannya beberapa jenazah di halaman rumah orang Katolik, hal mana menurut pandangan umat beragama Hindu adalah menajiskan, maka akhirnya dapat ditemukan jalan keluar berupa pemisah kuburan bagi umat beragama Kristen. Hal lain yang dapat dikatakan pula sebagai mengurangi jumlah penganut agama Katolik ialah adanya transmigrasi besar-besaran umat Katolik Bali ke Sulawesi, Kalimantan dan Sumatra, sejalan dengan rencana pemerintah untuk mengurangi kepadatan penduduk dan pemerataan penduduk di Indonesia.

Ternyat banyak umat Katolik dan Protestan di beberapa berbondong-bondong bertransmigrasi keluar pulau. Diperkirakan jumlah transmigran Katolik yang keluar pulau Bali pada saat itu meliputi sekitar 5000 jiwa. Mereka terpencar di daerah transmigran dan sangat memerlukan rawatan rohani agar mereka tidak tersesat kembali setelah mengenal injil beberapa waktu sebelumnya.

Akhirnya dapat diusahakan mengirim seorang Pastor ke daerah transmigrasi tersebut dan secara khusus memperhatikan kebutuhan rohani para transmigran Katolik di Sulawesi.

Namun ditengah-tengah kesulitan dan rintangan gereja yang merupakan “batu karang” tetap tegak dipulau Bali dan Roh Kudus secara nyata tetap berkarya dalam gereja Katolik Bali sehingga stasi-stasi baru tetap dapat dirintis dan paroki semakin berkembang walaupun tidak lagi seperti masa kejayaan yang dulu.

Pada saat ini terdapat 14 paroki induk dan stasi yang terpencar diberbagai wilayah Bali/Lombok:
1. Denpasar
2. Tuka
3. Gumbrih/Slabih
4. Tangeb, Abianbase, Cemagi dan Sading
5. Singaraja
6. Palasari dan (candikuning) Gilimanuk
7. Tabanan dan Piling
8. Babakan dan Kelibul
9. Negara
10. Tuban
11. Amlapura
12. Mataram
13. Ampenan
14. Gianyar

Dalam wilayah keuskupan Denpasar kini terdapat pekerja-pekerja kebun anggur Tuhan sebanyak:
Uskup: 1 orang
Imam: 15 orang
Bruder: 2 orang
Suster: 46 orang
Katekis: 10 orang

Bila ditinjau kembali jumlah uamt Katolik di Bali sejak awal sampai tahun 1983, maka ditemukan angka-angka sebagai berikut:
1936 – 1937: 145 orang
1937 – 1938: 246 orang
1938 – 1939: 323 orang
1939 – 1940: 389 orang
1940 – 1941: 470 orang
1946 – 1947: 1266 orang
1947 – 1948: 1237 orang
1948 – 1949: 1304 orang
1979 : 10415 orang
1980 : 10851 orang
1981 :11337 orang
1982 : 12066 orang
1984 : 12140 orang
1985 : 13016 orang
1986 : 13565 orang

Memang melihat angka perkembangan selama 47 tahun diatas, maka nampak perkembangan umat Katolik di pulau Bali dan Lombok tidak dapat dikatakan lancar. Banyak faktor yang menyebabkan tersendatnya perkembangan Katolik Bali. Namun dengan perlindungan Roh Kudus Gereja Katolik Bali secara pasti tetap hidup dan secara misterius tetap berkembang ditengah-tengah cobaan dan rintangan, sebab “Roh Allah bertiup kemana Ia mau” (Yoh. 3: .

Siapakah rahasia itu yang menimbulkan rindu akan Tuhan dalam hati manusia, yang menyelenggarakan pertemuan dengan Kristus, yang memajukan kepentingan karya Injil, yang menyalakan rasa kebersatuan, yang menciptakan keselarasan dan keharmonisan dan akhirnya mengarahkan sejarah umat manusai kepada tujuan yang benar.

Dia, yang menciptakan semua itu, adalah Roh Kudus yang sebagai pengendali sejarah umat manusia, pasti akan menunjukkan juaga jalan kepada Tuhan bagi orang-orang Bali dan Lombok.

Dimana ada damai, gembira, harmoni, ilham, dengan kata lain dimana terdapat hal-hal yang menyertai kasih disana Roh Kudus akan bekerja. Akhirnya kita yakin apa yang sudah menjadi rencana Allah, pasti terjadi, pasti akan muncul, pasti perlahan-lahan akan menjadi kenyataan, dengan demikian akan mewujudkan diri tanpa bisa dibendung oleh siapapun (St. Agustinus)


BAGAIMANA MENJADI SEBUAH MAGNET-BERKAT

December 4, 2008

BAGAIMANA MENJADI SEBUAH MAGNET-BERKAT
6 STRATEGI UNTUK MENJADI POSITIF DLM DUNIA YG NEGATIF


Saya tidak tahu harus bersikap bagaimana.

Saya membaca pesan pada HP saya.

“Ms. Chiqui Lara, jam 7:30 pagi, Hotel Intercon.”


Saya akan makan pagi bersama Presiden dan CEO sebuah perusahaan multi- nasional yang berbasis di London.

Saya mulai berandai-andai.


Saya membayangkan wanita yang menduduki jabatan Presiden ini pastilah seorang yang berpostur tinggi, impresif, wanita hebat dalam balutan setelan berwarna gelap, bersepatu tumit tinggi, lengkap dengan tas kantor dari kulit.


Saya sangat kaget ketika berjalan masuk seorang wanita yang usianya terlihat tidak lebih dari kepala 5 (menurut saya), mengenakan blus putih polos, celana panjang hitam, dan sebuah senyuman yang lembut. Tanpa make-up.  Tanpa perhiasan. Tanpa tas kantor.


Ia menghampiri saya dan mengulurkan tangannya.(Juga tidak bercat kuku.)


Segera, saya merasakan sesuatu yang spesial dari wanita ini.

Apakah itu kedamaian batin?

Saya baru tahu mengapa setelahnya.

Dua tahun lalu, Chiqui didiagnosa terkena kanker.


“Persisnya dua kanker utama,” katanya.   Artinya dua tumor ganas tumbuh dalam ovarium dan rahimnya pada saat yang bersamaan.


Semua orang mengira akan melihat seorang wanita yang hancur.


Namun sebaliknya, justru pada masa pencobaan itu orang-orang melihat betapa luar biasa positifnya Chiqui.


Mata saya mulai basah (yang saya seka ketika ia tidak melihat) mendengarkan ia menuturkan bagaimana keluarga dan para sahabatnya mengasihinya di saat ia membutuhkannya.  ”Bo, saya dikelilingi oleh kasih yang luar biasa!”

Hari ini, kankernya tidak ada lagi.


Saya bertanya padanya, “Chiqui, apa yang membuat Anda menjadi seorang yang begitu positif?”


“Keluarga saya,” ia tersenyum. “Saya menerima cinta yang melimpah dari mereka.”


Ia memberi sebuah contoh yang sangat luar biasa tentang kasih yang ia alami.


“Natal bertahun-tahun yang lalu, sebuah panti asuhan mengadakan suatu program yang disebut Share-A-Home (Berbagi Sebuah Rumah).  Hanya selama liburan Natal, orang tua saya sepakat untuk menerima dua anak yatim piatu, kembar laki-laki, berusia satu setengah tahun.  Tapi setelah satu minggu berlalu, ibu saya tidak mengembalikan mereka ke panti asuhan.  Kedua anak kembar itu harusnya tinggal bersama kami selama satu minggu.  Mereka telah tinggal bersama kami selama 25 tahun.”


Ia juga menceritakan pada saya kisah lain yang menyentuh.


“Ayah saya meninggal dalam usia 72.  Pada hari terakhir pemakaman, keluarganya yang lain muncul.  Seorang wanita dan tiga anak…”

“Oh tidak…,” kata saya.

“Ya.  Kami sangat terkejut.”

“Tak seorangpun mengetahuinya?” tanya saya.


“Tak seorangpun tahu.  Ayah saya selalu pulang ke rumah setiap hari. Jadi ketika keluarganya yang lain muncul, saya ingat kalau saya berbicara pada ibu saya dan bertanya, “Apa yang harus kita lakukan?” Ibu saya menjawab singkat, “Saya sudah memaafkannya.”

Saya melongo.


“Ya,” kata Chiqui, “Itulah tipe ibu yang saya miliki.  Ia memiliki kasih yang melimpah untuk diberikan.  Sekarang Anda tahu mengapa saya seperti ini.”

“Amin.”


“Saya sangat diberkati,Bo. Saya sungguh diberkati”


Dalam usia 32, ia sudah menjadi seorang Presiden dari sebuah perusahaan periklanan raksasa, dan kemudian, sebagai Vice Chairman.


Sekarang, ia adalah Presiden dan CEO dari sebuah perusahaan fantastis, Y&R Philippines, bagian dari perusahaan multi-nasional yang sudah berumur 60 tahun.


Dalam terminologi saya, Chiqui adalah sebuah”Magnet Berkat”.


Mengapa?  Karena ia menarik banyak berkat dengan caranya berpikir, merasa, percaya, dan bertindak.


Berikut adalah6 cara bagaimana Anda dapat menjadi sebuah magnet- berkat, dan menjadi positif dalam sebuah dunia yang negatif:


1.  Rasakan cinta.  Terima cinta dari orang-orang di sekeliling Anda, tidak perduli betapa kecil dan tidak sempurnanya cinta itu.  Rayakan setiap isyarat cinta yang Anda terima.  Jadikan itu sebagai suatu hal besar!  Dan Anda akan menemukan bahwa Anda akan menerima cinta yang lebih dan lebih lagi.


2.  Bersyukur.  Bersyukurlah untuk setiap berkat kecil yang Anda terima.  Sebelum tidur, hitunglah paling tidak 5 berkat yang Anda terima pada hari itu.  Bahkan bersyukurlah untuk hal-hal buruk, karena pasti ada berkat di dalamnya.  Rasa syukur menarik leibh banyak berkatuntuk menghampiri Anda.


3.  Percaya.  Ya, lakukan semua yang dapat Anda lakukan!  Tapi pada akhirnya, berhentilah merasa kuatir.  Sebaliknya, bersandar dan percayalah pada Tuhan.  Percaya bahwa yang terbaik akan datang.


4.  Miliki sebuah visi.  Saat Anda mempunyai sebuah visi yang terperinci, tergambar, mengobarkan semangat dalam hati Anda, Anda pasti akan menjadi positif.  Dan ini adalah pengalaman hidup saya yang sangat nyata: Visi yang sangat kuat dalam bayangan Anda akan menarik semua berkat yang Anda butuhkan untuk memenuhi visi tersebut.  Anda akan terkejut.  Berkat-berkat itu akan datang begitu saja, bergulir ke kaki Anda, memohon Anda untuk menerimanya.


5.  Cintai diri Anda.  Bersungguh-sungguh dalam mencintai diri Anda. Hormati diri Anda.  Jangan meremehkan diri Anda, jangan membatasi diri Anda, dan jangan menghina diri Anda.  Penuhi kebutuhan Anda. Perhatikan diri Anda dengan seksama.  Jika Anda lakukan itu, orang lain akan menghormati Anda, mencintai Anda, dan memenuhi kebutuhan Anda juga.


6.  Cintai orang lain.  Apapun kasih yang Anda beri, Anda akan menerimanya kembali berlipat-ganda.  Karena itu bangunlah setiap pagi karena Anda ingin mencintai.  Jadikan cinta sebagai tujuan hidup Anda.  Ketika Anda menjadikan cinta sebagai alasan untuk segala sesuatu yang Anda lakukan, sekalipun jika badai gelap menyelimuti Anda, matahari akan selalu bersinar dalam hati Anda.

Semoga mimpi Anda menjadi kenyataan.


ASURANSI TERBAIK DI DUNIA

November 30, 2008
ASURANSI TERBAIK DI DUNIA TRAKTAT: ASURANSI
Anda bingung menentukan asuransi mana yang ingin dibeli? Kami
ingin menawarkan sebuah perusahaan asuransi yang pasti tidak
mengecewakan. Berikut fiturnya:


PERUSAHAAN ASURANSI INI MENJAMIN:Kehidupan
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah
mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya
kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yohanes 3:16)

Kesehatan
Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala
penyakitmu (Mazmur 103:3)

Pakaian
Jadi, jika rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam
api demikian didandani Allah, terlebih lagi kamu, hai orang yang
kurang percaya! (Lukas 12:28)

Kebutuhan Sehari-hari
Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan
kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus (Filipi 4:19 )

Kenyamanan
“Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga
kepada-Ku. (Yohanes 14:1)

Persahabatan
Dan ketahuilah “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir
zaman.” (Matius 28:20)

Kedamaian
Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan
kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia
kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu. (Yohanes 14:27)Rumah yang abadi
Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku
mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat
bagimu. (Yohanes 14:2)


ALASAN-ALASAN UNTUK IKUT ASURANSI INI:
1. Adalah perusahaan asuransi paling tua di dunia.
2. Satu-satunya perusahaan asuransi yang mengasuransikan berbagai
kehilangan dalam api zaman akhir.
3. Satu-satunya perusahaan asuransi yang mencakup area yang kekekalan.
4. Kebijakannya tidak pernah berubah.
5. Manajemennya tidak pernah berganti.
6. Aset perusahaan terlalu banyak untuk dihitung.
7. Satu-satunya perusahaan asuransi yang membayarkan premi anda.

PREMI
Roma 5:8
Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus
telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.
Efesus 2:8
Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan
hasil usahamu, tetapi pemberian Allah
I Korintus 6:20
Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena
itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!

PROSEDUR APLIKASI
Kisah Para Rasul 5:8
Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu
dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu,
maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.
Kisah Para Rasul 16:31
“Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat! ..”
Semua premi untuk aplikasi ini telah dibayar oleh YESUS.
Lamar Boschman - “When I worship, I would rather my heart be without words
than my words be without hearth”.


Berkat yang Retak

November 28, 2008

Berikut ini adalah cerita bijak dari Cina, sebagai bahan renungan

Seorang ibu di Cina yang sudah tua memiliki dua buah tempayan yang digunakan untuk mencari air, yang dipikul di pundaknya dengan menggunakan sebatang bambu.

Salah satu dari tempayan itu retak, sedangkan yang satunya tanpa cela dan selalu memuat air hingga penuh.

Setibanya  di rumah setelah menempuh perjalanan panjang dari sungai, air di  tempayan yang retak tinggal separuh.

Selama dua tahun hal ini berlangsung setiap hari, dimana ibu  itu membawa pulang air hanya satu setengah tempayan.

Tentunya si tempayan yang utuh sangat bangga akan pencapaiannya.

Namun tempayan yang retak merasa malu akan kekurangannya dan sedih sebab hanya bisa memenuhi setengah dari kewajibannya.

Setelah 2 tahun yang dianggapnya sebagai kegagalan, akhirnya dia berbicara kepada ibu tua itu di dekat sungai.

“Aku malu, sebab air bocor melalui bagian tubuhku yang retak di sepanjang jalan menuju ke rumahmu.”

Ibu itu tersenyum, “Tidakkah kau lihat bunga beraneka warna di jalur yang kau lalui, namun tidak ada di jalur yang satunya?

Aku sudah tahu kekuranganmu, jadi aku menabur benih bunga di jalurmu dan setiap hari dalam perjalanan pulang kau menyirami benih-benih itu.

Selama dua tahun aku bisa memetik bunga-bunga cantik untuk menghias meja.

Kalau kau tidak seperti itu, maka rumah ini tidak seasri seperti ini sebab tidak ada bunga.”

Kita semua mempunyai kekurangan masing-masing  …

Namun keretakan dan kekurangan itulah yang menjadikan hidup kita bersama menyenangkan dan memuaskan.

Kita harus menerima setiap orang apa adanya dan mencari yang terbaik dalam diri mereka.

Rekan-rekan sesama tempayan yang retak, semoga hari kalian menyenangkan.

Jangan lupa mencium wanginya bunga-bunga di jalur kalian.

Luangkanlah waktu untuk mengirimkan pesan ini kepada semua rekan yang juga seperti tempayan yang retak ini …

Tuhan tahu ada berapa dan siapa saja mereka!!!


Lagu Rohani

June 19, 2008

Silahkan download lagu-lagu rohani kristen dibawah ini, sesuai abjad judulnya

A, B, C, D, E, F, G, H, I, J, K, L, M, N, O, P, Q, R, S, T, U, V, W, X, Y, Z

Silahkan download lagu-lagu rohani kristen dibawah ini, sesuai abjad judulnya